
Dan juga, aku merasa kan ada sebuah masalah besar yang akan terjadi pada ku atau pun dengan Salsa. Atau juga, dengan orang di sekeliling kami. Dan apapun itu, dan apapun masalah yang akan kami hadapi di masa depan nanti, aku yakin itu bukan lah masalah yang mudah untuk di atasi dan di takluk kan.
Atau lebih tepat nya, masalah yang akan menimbul kan perpecahan di antara dua belah pihak yang akan merubah hubungan yang tadi nya baik menjadi hubungan yang penuh dengan dendam dan kebencian yang tak terhitung.
*~*
"Dek! Dek! Bangun hoy!."
Sebuah suara yang ku kenal membangun kan ku dari tidur nyenyak ku. Aku melihat wajah kakak ku yang cemas, dan berkeringat. "Ada apa Kak?, " Tanya ku dengan mata yang masih mengantuk.
"Kamu tahu nggak, seisi rumah nyariin kamu, eh tahu nya malah tidur di sini, benar-benar anak ini, " Kata nya sambil memarahi ku.
Aku melihat ke sekeliling ku, yang pasti nya bukan kamar tidur ku. Tunggu dulu?! Aku tidak tidur di kamar ku? "Jam berapa ini? ?, " Tanya ku yang sudah sadar seratus persen.
"Jam sembilan, " Kata kakak ku sambil memberes kan cangkir yang ku bawa semalam.
"Uwaapppa?! Jam sembilan?! Aku terlambat! " Teriak ku terlonjak kaget dan langsung berdiri dari kursi yang aku duduki.
"Mau kemana kamu?, " Tanya nya sambil membawa buku yang ku keluarkan semalam.
"MANDI!!, " Jawab ku berlari sekencang-kencang nya. Aku berlari ke kamar mandi, berpakaian dengan secepat kilat, dan ketika ingin keluar dari rumah sambil mengenakan seragam sekolah.
"Mau kemana nak?, " Tanya ayah ku.
"Ya sekolah lah yah, dah telat nih, " Ucap ku sambil memasang sepatu.
"Kamu nggak ingat? Hari ini hari libur?, " Tanya ayah yang mana membuat ku terkejut.
Aku langsung berlari ke kalender rumah, dan kaki ku langsung lemas tak berdaya ketika mengetahui hari ini hari libur. Aku naik ke kamar ku lagi, meninggalkan ayah, mama, dan kakak ku yang sedang menertawa kan aku, yang tidak tahu kalau hari ini adalah hari libur. Gila sumpah, Aku pikir aku terlambat. Eh tahu nya malah hari libur. Benar-benar dah.
Aku langsung masuk ke kamar tidur ku lagi. Langsung merebah kan tubuh ku ke kasur ku. Dan memain kan handphone ku. Uhmm, Tadi nya sih ingin bermalas-malasan saja, tapi tiba-tiba ada telfon dari Giska. Oh iya ya, Giska kan semalam menginap di rumah Salsa.
"Lia, Salsa mau pergi ke suatu tempat, tapi dia tidak memberi tahu ku, ayo kita ikuti dia, " Ajak Giska yang mana membuat ku langsung semangat empat lima.
"Okeh, jemput aku di rumah!. "
Aku langsung mengganti seragam ku dengan pakaian pergi ku, dan untung nya aku sudah mandi. Dan kemudian langsung menemui Giska yang sudah menunggu ku di bawah. Aku dan Giska langsung memesan GercepCar, dan mengikuti Salsa dari belakang. Untung nya sih terkejar. Kalau nggak terkejar, ya sudah, hangus dah kesempatan nya.
Salsa pergi ke mall yang pernah aku datangi bersama Akbar. Aku merasa dia tidak pergi sendirian. Dia pasti ingin menemui seseorang, Aku rasa Alex. Aku dan Giska berjalan mengendap, namun tidak mencurigakan. Ya iyalah, kalau mencurigakan, bisa-bisa aku dan Giska di lapor kan ke satpam. Di kasih pelajaran ceramah nanti.
Saat Salsa berhenti di suatu tempat yang bertulis "Axiel Cafe". Dan dia menoleh ke belakang, kami berdua langsung masuk ke toko baju. Pura-pura memilih baju di sana, agar Salsa tidak menyadari keberadaan kami berdua yang mengikuti nya secara diam-diam.
Tapi, Tunggu dulu, perusahaan Axiel itu membuka apa saja sih? Sudah ada perusahaan, dan sekarang cafe? Cabang nya ada di mana-mana pula. Memang nya seberapa tajir sih Alex itu?
Giska langsung memesan tempat duduk yang dekat dengan tempat duduk yang di duduki Salsa. Aku dan Giska duduk membelakangi Salsa, dan kami berdua pura-pura membaca buku menu, dan agar tak terlihat mencurigakan, kami berdua memesan milkshake stroberi dan coklat.
Salsa poV
Saat aku ingin ke kamar mandi. Alex mengirimi ku sebuah pesan. Menyuruh ku datang ke cafe, dengan ancaman "jika kau tak datang, maka tamat lah keluarga mu. " Sebenarnya aku berfikir kalau semua ancaman nya itu tidak benar, tapi, tiap kali aku mendengar ancaman itu, aku selalu bergidik ketakutan.
Aku pergi dengan mengendap-endap, takut Giska yang ada di dapur mendengar langkah kaki ku. Aku langsung berlari ke pangkalan ojek, dan memastikan kebelakang kalau Giska tidak mengikuti ku.
Dan sesampainya di cafe, aku langsung di arahkan duduk di dekat jendela, kata pegawai nya sih itu sudah di pesan oleh Alex. Aku duduk di sana, sambil menunggu kedatangan Alex. Entah apa yang ingin di bicarakan nya pada ku.
Aku membuka handphone ku, memastikan ada chat masuk di dalam nya. Tapi ternyata tidak ada. Tiba-tiba, seseorang duduk di hadapan ku, dan itulah Alex.
Dia berpakaian seperti seorang bos saja, dengan rambut yang di desain memperlihatkan kening nya. Tangan nya memakai sebuah jam tangan yang terlihat sangat mahal.
"Apa mau mu? Sampai-sampai kau memanggil ku ke sini, " Ucap ku memberanikan diri membuka obrolan di antara kami berdua.
"Lia lagi?!, " Kesal ku dalam hati.
"Tidak mau!, " Ucap ku tegas menolak permintaan nya.
Alex tersenyum miring, dan kemudian berkata " Apa kau mau tidak bisa melihat keluarga mu bahagia seperti sekarang ini?, " Tanya Alex yang mana membuat ku terkejut.
"Apa lagi sih mau mu Alex?, " Tanya ku kesal dengan sikap nya yang menurut ku sudah berlebihan.
"Bantu aku dalam rencana ku ini, dan relakan saja sahabat mu bersama ku, " Kata nya sambil menyandar kan tubuh nya.
"Tidak akan. Lia orang yang baik, dia pantas dengan orang yang baik juga, " Kata ku sambil menyilangkan tangan ku.
"Owhh, jadi kau lebih memilih sahabat mu daripada keluarga mu?, " Tanya nya lagi dengan nada suara yang arogan.
"Apa maksud mu?, " Tanya ku.
"Dengar ya nona kecil, nasib keluarga mu ada di tangan ku, " Kata nya sambil berdiri.
"Keluarga ku tidak ada hubungan nya dengan semua ini, jangan bawa-bawa keluarga ku, " Kata ku sambil mengikuti nya berdiri.
"Tidak usah buru-buru, semua ini akan berjalan seperti rencana ku, " Kata nya sambil mendorong ku duduk kembali.
Alex berjalan meninggalkan ku sendirian di cafe itu. Aku masih mencerna semua perkataan nyanya barusan. Aku tidak tahu apa maksud dari perkataan nya. Aku hanya merasa, kedepan nya aku akan mendapat kan sebuah masalah yang sangat besar. Masalah yang tidak akan mudah ku takluk kan.
Salsa poV end.
Giska poV.
Aku dan Lia cepat-cepat pulang dari cafe itu, sebelum Salsa melihat kami berdua. Kami masuk ke dalam mobil yang sudah kami pesan tadi, Lia duduk di sebelah ku, wajah nya begitu pucat, tubuh nya juga lemas. Dia berubah seperti orang sakit, seusai mendengar semua percakapan Alex dan Salsa tadi.
"Aku seperti tokoh utama di permasalahan mereka," Ucap Lia sambil menyandar kan tubuh nya pada ku.
Aku hanya diam, melihat sahabat ku ini terkulai lemas tak berdaya. Sedikit demi sedikit, aku mulai mengerti, apa yang sedang di permasalah kan di sini. Salsa menyukai Alex, dan Alex menyukai Lia, tapi Lia menyukai Akbar. Ini bukan cinta segitiga lagi dong, segi empat kali ada.
Aku mengantar Lia pulang ke rumah nya, dan berjanji pada nya, aku akan mencarikan solusi dari, semua masalah ini.
Sebenarnya walau aku sudah mengerti sedikit inti dari permasalahan ini, aku masih tetap tidak mengerti dengan perkataan Salsa semalam. Semalam, waktu aku menginap di rumah Salsa. Salsa mengatakan sesuatu pada ku. Meminta ku untuk berjanji melindungi Lia.
Memang nya kenapa aku harus melindungi nya? Bahaya apa yang sedang mengincar nya? Kata Salsa sih, dia tidak bisa bersama Lia untuk beberapa hari. Memang nya dia mau kemana? Dia mau pergi kemana memang nya?
Dan lagi, kenapa Alex mengancam Salsa seperti itu? Apa karena wewenang nya yang seorang anak dari CEO di Axiel Group? Karena hal itu dia bisa memecat ayah Salsa kapan saja yang ia mau, karena ia tahu ayah Salsa bekerja di sana? Tapi, kan Alex yang merekomendasikan ayah nya Salsa untuk bekerja di sana.
Eh tunggu dulu, apa jangan-jangan, semua ini sudah di rencana kan Alex? Membuat Ayah Salsa bekerja di sana, dan kemudian akan membuang nya ketika Salsa sudah tidak berguna lagi?
Apapun yang di rencana kan oleh Alex, aku yakin, paman tidak akan senang dengan kelakuan putra nya itu.
Yang jelas, aku merasa kan ada sebuah bencana yang akan datang, di antara hubungan Lia dan Salsa. Hubungan yang tadi nya baik, berubah menjadi penuh dendam.
Aku tak tahu harus apa, tapi yang jelas, aku harus membantu kedua sahabat ku ini agar tidak tercerai berai. Aku tidak ingin, hubungan mereka berdua rusak hanya karena laki-laki yang tak tahu diri itu. Apapun yang akan terjadi, Aku harus siap menghadapi nya.
Dan rencana ku sekarang, adalah, Aku harus membuat paman berpihak pada ku, bukan dengan Alex.
Giska poV end.
To be continued...
Jangan lupa vote, komen, dan kasih rating bintang 5. Dan juga, support author dengan cara follow instagram nya author @__serendipitygirl__