
Aku menceritakan semua kejadian kemarin. Perkataan senpai botak dan juga perkataan Akbar. Luna diam mendengar kan seksama cerita ku, namun kami masih tetap melangkah kan kaki kami berdua. "Lia. Dengar ya. Kamu itu bukan Akbar! Kamu itu Lia. Ya nggak bisa lah mau di samain sama Akbar semua. Kamu bukan Akbar, kamu Lia. Nasalia yang ngeselin nya minta ampun. Jadi lah diri mu sendiri Lia. Show yourself, don't let the fear inside you. (Tunjukkan diri mu. Jangan biarkan ketakutan di dalam kamu). "
Kau seperti kedua sahabat ku Luna. Menyemangati ku tanpa henti. Aku bersyukur memasukkan mu ke daftar list sahabat ku. Terima kasih Tuhan. Banyak yang tidak menginginkan keberadaan ku di sana. Namun ternyata, masih ada orang yang baik di tengah kejahatan.
*~*
Sesampainya di dojo. Aku sudah melihat senpai botak berdiri di depan pintu.
Flashback on.
"Lia. Kalau kamu ketemu senpai botak duluan, dan kalau dia melihat mu seperti ini (tatapan sinis), senyumin aja, bilang pada nya. Hai senpai, aku kembali. "
Flashback off.
"Hoo masih berani menunjukkan wajah ya?. "
"Hai senpai, aku kembali, " Ucap ku sambil tersenyum dan berjalan melewati nya. Entah apa yang ia rasakan ketika aku menanggapi cibiran nya itu dengan senyuman sejuta watt ku.
Di dalam, aku melihat Akbar dan teman-teman tim ku sedang bercengkrama. Akhh, aku belum mau bertemu dengan Akbar, hati ku belum siap. Kalem Lia, kalem. Harus terlihat profesional okeh. Profesional huh?!
"Lia!, " Panggil Akbar dan dia langsung berlari ke arah ku.
"Iyah?, " Jawab ku pelan dan menghentikan langkah ku yang ingin menyusul Luna ke kamar mandi.
Akbar menatap ku dengan mata sendu nya yang tajam. Kemudian dia menundukkan kepala nya dan menghela nafas dengan kasar. "Maaf. Aku tidak bermaksud berkata seperti itu kemarin, " Ucap Akbar sambil menatap ku kembali.
"Jangan di fikirkan. Toh aku sudah bilang, jangan ge-er, " Ucap ku sambil tersenyum namun hati ku retak seribu.
"Benarkah? Lalu kenapa kau kemarin menangis?, " Tanya nya khawatir.
Aku nggak bisa kabur lagi. Tidak mungkin aku kabur dari pertanyaan nya untuk kedua kali nya. Karena tidak ada tempat untuk menangis di sini. Ayo, kuat lah hati ku. Sebentar saja. Kuat sebentar saja.
"Nanti aku cerita kan sepulang latihan, " Ucap ku sambil mengangguk kan kepala ku pelan.
Aku berjalan ke arah kamar mandi mengikuti Luna yang sudah terlebih dahulu di sana. Kenapa ya, kalau lagi sedih itu, bawak-an nya mau pergi ke toilet? Author aja bingung yang bikin cerita.
"Sudah?, " Tanya Luna yang sedang mencuci tangan nya.
"Iya sudah, " Ucap ku sambil melihat wajah ku di cermin.
"Lia. Ayah ku pernah berkata seperti ini pada ku. Nak, ketika kau di cibir oleh orang lain yang tidak pernah tahu usaha mu. Jangan berkecil hati, jadi kan semua itu motivasi untuk mu. "
"Lia. Jangan putus asa okey? Ingat. Kalau kau putus asa, mereka akan mudah menjatuhkan mu. Kami semua siap mendukung mu, " Ucap Luna sambil menepuk bahu ku dan kemudian dia pergi meninggalkan aku sendirian di kamar mandi.
"Benar. Bukan aku saja yang sering mendapatkan cibiran seperti ini. Pasti, di luar sana ada banyak orang yang seperti. Ayo semangat diri ku! Lihat, teman-teman mu sedang mendukung mu!, " Teriak ku semangat.
Luna poV.
Lia. Jika kau merasa down seperti ini, kau semakin mudah untuk di jatuhkan. Jangan pikirkan perkataan mereka. Cukup tampar mereka dengan prestasi mu. Jangan khawatir, aku, dan yang lain nya selalu mendukung mu. Kami adalah tiang penyangga mu. Kalau kau kuat, kami juga pasti kuat.
Ayah ku pernah berkata " Friends, is a most important recipe in life". Yang arti nya, teman adalah yang terpenting di dalam resep kehidupan. Bukan teman nama nya jika tidak mendukung dari awal sampai akhir. Toh, jika teman itu berhasil. Kau akan merasa sangat bangga pada diri mu sendiri yang berhasil mendukung teman mu.
Teman adalah keluarga. Teman juga adalah rumah kedua setelah keluarga. Teman juga tempat berkeluh kesah, berbagi suka dan duka mu. Walau terkadang, ada banyak orang di luar sana, yang tidak peduli dengan masalah hidup mu. Tapi, orang yang seperti itu. Tidak pantas di sebut sebagai teman. Melainkan lebih tepat nya di sebut Penjilat.
Luna poV end.
Aku kembali ke atas, dan berkumpul bersama Akbar. Kami latihan seperti biasa. Eh tidak, tidak seperti biasa. Senpai botak mengawasi ku lebih extra dan membuat ku sedikit tak nyaman sekaligus kesal. Akbar hanya tersenyum melihat wajah ku yang berkerut karena kesal dan itu tambah membuat ku kesal. Dasar ngeselin kalian semua.
Akbar masih saja tersenyum dengan wajah yang polos bin ngeselin itu. Ku tonjok baru tahu rasa wajah ganteng mu nanti. Saat istirahat sejenak, aku dan Akbar menghentikan pergerakan kami, dan aku melihat ke arah Luna yang seperti nya sedang di marahin oleh senpai botak.
Luna hanya tersenyum menanggapi nya dan hanya mengangguk-ngangguk kan kepala nya dengan pelan. Aku bisa melihat dari kejauhan itu, kalau senpai botak benar-benar marah pada Luna. Entah apa yang di perbuat Luna sampai ia semarah itu pada nya.
Saat senpai botak selesai memarahi Luna, ia meninggalkan Luna yang masih saja tersenyum. Luna menatap ke arah ku dan mengajak ku berbicara tanpa suara. " Sudah biasa, " Jelas Luna yang berbicara tanpa suara.
Aku tersenyum, dan hanya mengacungkan jempol kanan ku kepada nya.
Selesai latihan;
"Tinggal 6 hari lagi kita akan berlomba. Jadi jangan sampai ada yang melupakan gerakan lagi!. " Senpai botak menatap tajam ke arah ku, dan aku hanya tersenyum paksa seakan-akan senyuman ku berbicara " Enyah saja aku dari muka bumi ini. "
"Wah, sudah dekat ya hari nya, " Ucap Akbar tak percaya dan di sambut debaran jantung ku yang khawatir akan perlombaan itu yang semakin dekat.
Kami di bubarkan, dan di suruh untuk pulang ke rumah dengan cepat. Karena langit terlihat seperti ingin hujan deras. Aku dan Luna langsung berganti pakaian. Aku mengganti pakaian ku dengan sangat cepat, berniat untuk kabur dari Akbar yang mungkin sekarang sedang menunggu ku menjawab pertanyaan nya tadi. Selepas berganti pakaian, aku langsung berlari meninggalkan Luna sendirian di sana.
"Eitts. Mau kemana kamu? Jangan coba-coba kabur kamu. " Akbar menarik tas gandeng ku.
S*alan. Dia sudah berdiri di sini menunggu ku. Aku tak bisa kabur. Dia menggenggam erat tangan ku, takut aku mencoba kabur lagi. Dia menyuruh ku untuk masuk ke dalam mobil nya, dia bilang dia akan mengantar ku pulang, sekaligus mendengar jawaban ku.
"Jadi, seperti nya ada yang mau di jawab deh?, " Pancing Akbar sambil tersenyum miring menyeballan sekali.
Aku melirik nya dengan tatapan membunuh. Ya sudahlah, toh aku sudah tertangkap basah. Lebih baik jujur. Aku menceritakan kenapa aku menangis, tapi aku tidak menceritakan nya karena perkataan nya yang seakan sudah menolak pernyataan cinta ku. Melainkan, aku bercerita kalau aku menangis karena perkataan senpai botak itu.
Ckittt!!
"Uahhh!. "
Akbar menginjak rem mobil nya dengan keras. Membuat jantung ku langsung berdetak sangat kencang, rasa nya nyawa ku hilang setengah karena terkejut. "Kak, ini sedang di jalan oke. Tolong bawa mobil mu dengan benar. Hampir saja aku mati, " Kesal ku sambil memegang dada ku dan dapat ku rasakan debaran kencang di sana.
"Jangan ngajak ya, " Ledek nya dan di sambut jitakan oleh ku.
To be continued...
Jangan lupa vote, komen, dan kasih rating bintang 5. Dan juga, support author dengan cara follow instagram nya author @__serendipitygirl__