
"Aku ingin kasih saran pada mu Lia. Seharusnya, kamu senang bisa bertemu dengan nya. Pesan ku, jangan sia-siakan dia, sayangi dia selagi bisa, sebelum kematian memisahkan kalian" Kata Luna sambil menatap ke arah langit.
"Dan ku harap, dia bisa tahu kalau aku sangat menyanyangi nya dari bawah sini" Lanjut Luna sambil mengangkat tangan nya, seolah-olah ingin menggapai langit.
Ahhh. Aku lupa memberi tahu kalian. Kalau Luna itu memang seorang playgirl yang selalu gonta-ganti pacar. Tapi... Di balik sikap nya itu. Dia masih punya hati. Dia masih tetap mencintai laki-laki itu. Laki-laki yang sangat dia cintai.
Tapi, semua itu berakhir. Karena, laki-laki itu meninggal dunia. Dia meninggalkan dunia dan Luna untuk selamanya. Aku tidak tahu, apa yang terjadi pada laki-laki itu.
"Ha-hh, sudahlah, semua itu sudah lama, sudah lama terjadi jangan di ungkit lagi, aku takut dia tidak akan tenang di atas sana" Kata Luna sambil meninggalkan ku di luar sendirian. Dia masuk tanpa mengajak ku. Aku duduk di luar memandangi semua kendaraan di depan ku, dan tiba-tiba ada sebuah tepukan tangan di bahu ku yang membuat ku setengah kaget.
"Ih, siapa sih" Kata ku sambil menoleh ke belakang ku. Saat menoleh, aku melihat Akbar di depan ku. Dia duduk di sebelah ku, dan aku bingung kenapa dia duduk di sini dan ketika aku melihat ke arah pintu keluar tadi. Aku melihat Luna tersenyum dan kemudian mengeluar kan lidah nya seolah-olah, dia sedang mengajak ku. Aku mengerti kenapa dia tadi masuk tanpa mengajak ku, dia pasti memanggil Akbar.
Kaki ku mulai bergetaran, dan tangan ku mulai mengeluar kan keringat dingin. "Ada apa? " Tanya ku pada Akbar.
"tidak ada, aku hanya mencari udara segar" ujar nya pada ku.
"Lia,pertanyaan ku tadi, belum kamu jawab" Kata nya.
Ah, sial dia mengungkit itu lagi. Aduh bagaimana ini, dia kembali menanyakan nya lagi. "kenapa kamu terlihat seperti sedang menjauhi ku?" Tanya Akbar.
"aku tidak menjauhi mu. Aku hanya stres karena banyak yang aku pikir kan" kata ku.
"Apa yang kamu pikir kan? Laki-laki?" tanya nya lagi pada ku.
Aku kaget mendengar nya menyebut kan laki-laki, kok tiba-tiba? " Bukan, aku hanya memikir kan tugas sekolah ku" jawab ku sambil memaling kan pandangan ku dari nya.
"berhenti lah memikir kan tugas sekolah. Tugas saja tidak memikir kan mu" jawab nya nyeleweng yang mana membuat ku terkekeh mendengar perkataan nya. Kemudian dia tiba-tiba menarik ku ke dekat nya dan dia mulai membisikan sesuatu pada telinga ku.
"Besok kan hari Senin, hari libur nasional, Stefano mengajak ku pergi ke mall, dia meminta ku untuk mengajak mu juga" kata nya sambil berbisik di telinga ku.
"Mengajak ku? Kenapa" tanya ku.
"Ya, aku tidak tahu, jadi apa bisa kamu ikut? " tanya nya lagi.
"Aku mau ikut, hitung-hitung refresing" Kata ku sambil mengangguk pertanda setuju. Dia tersenyum, dan berkata "baik. Aku akan menjemput mu di rumah mu jam delapan atau jam sembilan? " Tanya nya.
"jam delapan saja" kata ku.
"Okeh" Dia mengangguk pertanda menyanggupi.
"Ayo kita masuk" Kata nya.
*~*
Pagi hari nya, aku sudah siap dari jam 07.00 tadi. Keluarga ku yang melihat ku sudah berpakaian rapi pagi-pagi sekali, mereka bertanya pada ku.
"kamu mau ke mana?" Tanya ayah.
"pergi" kata ku pada Ayah.
"Pergi? Tumben, biasa nya masih ngebo di kamar" Kata kakak ku sambil meminum teh nya.
"dengan siapa? "tanya ayah sambil melirik ke arah ku.
"dengan Akbar" kata ku agak berbisik.
"Hah apa siapa? " Tanya Ayah yang tidak mendengar suara ku yang kecil tadi.
"dengan Akbar" kata ku dengan nada yang agak meninggi.
"oh ya sudah hati-hati, jangan lupa bawa oleh-oleh" Kata ayah dan mama ku.
"Oleh-oleh?" Tanya ku.
"Iya. Calon menantu ya" Kata ayah dan mama ku serempak.
"Kakak oleh-oleh nya coklat" Teriak kakak ku.
"Apa sih ma, yah, kakak lagi, makanan teross" Kata ku sambil meninggalkan mereka yang sedang menggoda ku.
Aku menunggu Akbar di depan rumah ku, tiba-tiba aku mendengar bunyi klakson mobil yang terdengar di telinga ku. Aku keluar, aku melihat sebuah mobil, dan Akbar duduk di dalam mobil itu sambil melambai kan tangan nya, menyuruh ku masuk ke dalam.
"ayah, mama aku pergi" Pamit ku.
Aku naik ke dalam mobil nya itu dan masuk. "Sudah siap? "tanya nya. " Iya" Kata ku sambil memasang sabuk pengaman. Kemudian dia menjalan kan mobil nya, pelan tapi agak sedikit kencang.
"kamu bisa menyetir?" tanya ku.
"nggak, nggak bisa. Ya bisalah, kamu nggak lihat siapa yang nyetir, hantu?!" tanya nya sambil tersenyum.
Aku hanya tersenyum dan kemudian memalingkan pandangan ku dari nya. Tiba-tiba aku merasa haus dan aku mulai batuk-batuk karena tidak sengaja tersedak air liur ku sendiri. Akbar mengulur kan tangan nya, memberikan ku sebuah air minum dan menyuruh ku untuk meminum nya.
Aku mengambil botol itu dari tangan nya, dan berkata "terima kasih". "sama-sama" Kata nya.
"Apa ini masih bersih? Belum kamu minum kan? " tanya ku.
"Belum lah, kamu nggak lihat itu masih ada segel nya? " Kata Akbar kesal.
Saat berhenti di lampu merah, Akbar mengambil botol minum itu dari tangan ku yang masih mencoba membuka tutup nya, dan dia dengan mudah membuka tutup botol itu. "nih" kata nya sambil memberikan ku botol minum yang sudah terbuka pada ku.
"terima kasih" kata ku.
"Kamu pukulan nya kuat tapi buka beginian nggak kuat" Kata yang sedang mengejek ku. Aku hanya diam menahan malu, dan dia mempercepat dikit laju mobil nya dan membuat kami berdua sampai lebih awal di mall.
"Di mana anak-anak itu?!" kata Akbar sambil mencoba menelpon teman-teman nya. Dan kemudian Stefano datang di ikuti oleh teman-teman nya di belakang nya. Mereka semua menyapa ku, dan aku hanya membungkuk dan berbalik menyapa mereka.
"Wow, Lia, kamu cantik sekali dengan dress itu" ucap Stefano sambil melihat ku dari bawah ke atas. Ya karena pada saat itu aku memakai dress batas lutut dan sepatu boot coklat dan rambut ku, ku sanggul ke belakang.
"Ya sudah kita nonton dulu" kata Akbar sambil membelakangi ku, yang mana dari tadi Stefano terus melihat ku dari bawah ke atas. Akbar menarik tangan ku, dan aku berjalan mengikuti nya dari belakang, dan lebih lagi tangan ku digandeng oleh nya. Jantung ku berdetak dengan sangat kencang. "Tuhan...".
Akbar dan Stefano mengantri tiket dan dia meminta ku untuk membeli pop corn dan soda. Dia meminta aku membelikan nya soda dan pop corn yang berukuran besar. Setelah Akbar dan Stefano selesai membeli tiket, kami masuk ke dalam teater dan saat ingin duduk, Stefano mendorong ku mendekat ke arah Akbar. Membuat ku hampir jatuh tapi tidak jatuh karena tubuh ku menabrak tubuh nya akbar. Dan wajah ku bertabrakan dengan dada keras nya Akbar. "Ya Tuhan... Situasi macam apa ini" Kata ku dalam hati.
Akbar memegang kedua lengan ku dan menjauh kan wajah ku dari dada nya. "Tolong jangan mendekat ke arah ku seperti ini" Kata nya sambil menyuruh ku duduk. Mendekat ke arah nya kata nya? Aku di dorong oleh teman mu tahu! Karena kesal atas perkataan nya, aku menginjak kaki nya dengan sepatu boot ku yang agak memiliki heels.
"Awww! " Teriak nya kesakitan dengan tangan nya mengelus kaki nya.
Aku diam dan tersenyum senang dengan apa yang barusan ku lakukan. Dia duduk di sebelah ku, dan mengambil pop corn dari tangan ku. Ku letakkan soda kami di dekat kami berdua. Dan film pun mulai.
"Film hantu ya? " Tanya ku pada Akbar.
"Iya, kenapa takut? " Tanya nya sambil memakan pop corn.
"Nggak, biasa aja " Kata ku sambil mengambil pop corn yang di pegang nya.
"Heh, kok di ambil" Kata nya marah.
"Kenapa? Gak boleh? Aku yang beli tadi" Kata ku sambil memarahi nya.
"Pakai uang ku tapi" Kata nya.
"Yaudah, bodo! ".
" Yahhh ngambek, nih makan anak ayam" Kata nya sambil memberi kan ku pop corn itu beserta wadah nya.
"Humpp".
" Kalian berdua kalau mau romantisan, jangan di sini, tolong hormati yang jomblo".
*~*
Saat di tengah-tengah film, Tiba-tiba aku merasa ada kepala seseorang yang mau jatuh ke bahu ku. Kalau kalian fikir itu adalah kepala nya Akbar, kalian salah. Bukan kepala nya, tapi kepala Stefano. Aku menyenggol tangan Akbar dan menyuruh nya melihat situasi dimana Stefano tertidur.
"Tuh anak tidur" Kata nya sambil menarik palang yang memisah kan kami berdua. Kemudian, dia menarik ku agak mendekat ke arah nya, dan kepala Stefano terbentur, yang mana membuat nya terbangun.
Aku dan Akbar tertawa melihat Stefano yang kesakitan akibat benturan tadi. Tapi... Aku agak sedikit bingung, karena tangan Akbar masih terletak di bahu ku. Dia masih meletakkan tangan nya di bahu ku. Duhh.... Gimana ini...
Akbar mengambil salah satu soda dan meminum nya. "Kenapa rasa nya agak manis asam stroberi" Kata Akbar bertanya pada ku. "Hah? ". Saat ku lihat minuman yang di minum nya tadi, ternyata minuman itu adalah minuman ku.
" Ini minuman ku" Kata ku.
"Hah? " Kata nya.
"Kenapa rasa stroberi? Kamu kan tidak membeli rasa stroberi" Tanya Akbar.
"Ahhh, mungkin karena hari ini bibir ku, ku pakaikan liptint yang ada rasa stroberi nya " Kata ku sambil meletakkan soda itu kembali.
"Ah apa? ".
Akbar poV.
" Gila!!! Ciuman nggak langsung!!! "*Dalam hati.
Uakhhh. Kenapa aku gak lihat dulu soda itu tadi. Dan ternyata aku malah minum soda milik anak ini. Mana terjadi ciuman gak langsung lagi. Untuk nggak ciuman secara langsung. Tapi apa rasa nya ya, kalau ciuman secara langsung? Apa bibir nya lembut?
Astaghfirullah.
Akbar poV end.
"Kamu kenapa sih kak? " Tanya ku sambil menggenggam tangan nya.
"Apa kakak takut? " Tanya ku khawatir.
"Nggak, aku hanya deg-degan. Aku cuman lagi shock" Kata nya.
"Shock kenapa? " Tanya ku semakin khawatir.
"Aku nggak sengaja ciuman langsung" Kata nya sambil mengelus bibir nya.
"Hah? "
To be continued...
Jangan lupa vote, komen, dan kasih rating bintang 5. Dan juga, support author dengan cara follow instagram nya author @__serendipitygirl__