My Unrequited Love, It's You

My Unrequited Love, It's You
Chapter 32 My Choice



"Lia. Boleh aku tanya satu hal pada mu?, " Tanya nya.


"Silakan. Tanyakan saja, " Ulas ku.


"Apa kau menyukai ku, " Tanya nya sambil menatap ku.


Deg


Iya, aku menyukai mu. Aku menyukai mu segenap hati ku. Aku sangat menyukai mu. Sangat menyukai mu. Sampai-sampai, aku selalu ingin berada di dekat mu. Aku selalu ingin kau berada di dekat ku. Sangat ingin.


*~*


Aku melirik Akbar yang masih rebahan di rumput. Dia menjadikan kedua tangan nya menjadi bantal untuk kepala nya. Dia menatap lurus ke arah langit yang penuh banyak bintang.


"Kenapa tidak kau Jawab?, " Tanya Akbar lagi.


Jika aku jawab, apa kau akan menerima ku? Apa kau tidak membenci ku? Tapi. Bukan nya ini yang kau ucap kan waktu pertama kali kita bertemu. Kau bilang kalau aku jatuh cinta pada mu, kau tidak akan tanggung jawab? Entah kenapa aku merasa takut.


"Hei. Kenapa nggak di jawab?, " Tanya Akbar sambil mengguncang tubuh ku.


Aku bangun dari rebahan, dan langsung melihat handphone yang sedari tadi bergetar. Aku melihat, di layar handphone ku, ada banyak sekali pesan dan panggilan ayah ku. Aku menelfon ayah kembali.


"Halo yah?. "


"Nak. Pulang. Udah malam, " Kata ayah.


"Iya ayah. Aku pulang. "


Aku berdiri dari duduk ku dan memberes kan tas ku. Saat aku ingin melangkah kan kaki ku. "Eh kak, jangan di tarik." Akbar menggenggam tangan ku dan menarik tangan ku. Kaki ku belum berdiri dengan ke seimbangan yang baik, aku malah terjatuh. Brukkk.


Mungkin Akbar tidak sadar, jika dia menarik tangan ku dengan sangat kuat. Membuat ku jatuh menindih nya. "Uaahhh." Akbar meletakkan tangan ku di dada nya, dan aku cepat-cepat berdiri. Wajah ku tiba-tiba memanas, rasa nya malu sekali.


" Aku pulang dulu ya kak, " Kata ku sambil membungkuk kan badan ku sekaligus meminta maaf.


"Tunggu dulu. Mau ku antar kamu pulang?, " Tanya nya membuat langkah ku terhenti.


"Tidak. Terima kasih!, " Kata ku dengan tegas namun tidak melihat ke arah nya.


Sebenarnya, aku tak yakin. Apa malam-malam begini masih ada bus atau kendaraan? Ya, mungkin lebih baik naik ojol saja. Kalau boleh jujur, seharusnya aku menerima tawaran Akbar. Tapi, bagaimana ya. Aku merasa tidak nyaman. Aku takut canggung.


"Lia! Jika benar kalau kau menyukai ku. Tolong, hapus perasaan itu sekarang!, " Teriak Akbar membuat langkah ku terhenti untuk kedua kali nya.


Akbar meneriakkan perkataan nya yang membuat hati ku benar-benar kesal. Aku menoleh ke arah Akbar sambil tersenyum dan langsung berkata " Hidih, geer kamu mah. " Aku langsung berlari meninggalkan nya sendirian di sana.


Sakit. Kesal. Menyebalkan. Ughhh, ya Tuhan. Tiba-tiba aku ingin menyebur kan diri ke selokan. Tiba-tiba aku ingin menjadi semut saja. Tiba-tiba aku ingin bersembunyi di goa. Meneriak kan semua jeritan hati yang bergema di hati ku.


Aku berlari dengan sekuat tenaga. Meninggalkan dojo yang masih ada banyak anak-anak yang duduk di sana, termasuk Akbar dan Senpai botak.


Sungguh, air mata ku berderai dengan sangat deras. Mata ku begitu hangat dan basah akibat air mata ku. Rasa nya, aku di tolak sebelum menyatakan cinta ku pada nya. Sakit sekali. Benar-benar menyebalkan.


Air mata ku berderai dengan deras. Aku menangis di bawah naungan malam yang penuh bintang. Angin yang menyejukkan, membuat air mata ku semakin basah.


Lari, kaki ku mulai memelankan langkah nya. Langkah kaki ku mulai seperti berjalan, namun lemas. Aku masih berdiri, mencoba kuat dengan melangkah kan kaki ku walau pelan.


Drrttt drrttt


Saat Aku sudah berada di luar dan ingin memesan ojol, aku merasa kan getaran handphone ku yang ada di dalam tas ku. Aku tak melihat nama yang tercantum di layar handphone ku dan hanya asal mengangkat telefon orang itu.


"Halo?. "


"Apa kau menangis?. "


Aku cepat-cepat menghapus air mata ku, dan langsung menebar kan senyuman yang seolah mengatakan bahwa aku tidak apa-apa. Akbar mematikan handphone nya dan memarkirkan mobil nya ke tepi jalan. Dia turun dari mobil dan langsung berlari menghampiri ku.


"Ada apa kak?, " Tanya ku lembut.


"Yang ada apa itu kamu Lia. Kamu kenapa menangis?, " Tanya nya sambil memasang wajah khawatir.


"Aku nggak nangis, " Jawab ku dengan ekspresi muka yang datar.


Akbar memperhatikan wajah ku dengan seksama. Aku masih menebar senyuman yang sebenarnya sakit untuk ku lakukan. Ayo, tahan lah mulut ku. Ayo, tersenyum lah sebentar saja.


"Apa kau menangis karena tidak dapat kendaraan?, " Tanya Akbar sambil melihat sekeliling.


"Tidak. Aku mau jalan saja. "


Aku berjalan meninggalkan nya sendirian. Sebenarnya, rumah ku begitu jauh kalau dari sini. Sangat jauh malah. Aku sedang ingin menghindari nya sebentar saja. Mengingat perkataan nya tadi dan perkataan senpai botak yang benar-benar membuat ku sakit hati.


"Lia. Apa kau marah dengan perkataan ku tadi?, " Tanya Akbar membuat langkah kaki ku terhenti untuk ketiga kali nya.


Aku menggeleng kan kepala ku tanpa melihat nya sekali pun. "Apa senpai botak mengatakan sesuatu yang membuat mu sakit hati?, " Tanya Akbar lagi.


"Lia. Kalau boleh jujur. Gerakan mu itu sungguh buruk. Jauh dari kata bagus. Sedangkan Akbar berbeda. Gerakan nya sudah melebihi kata bagus, jangan rusak citra Akbar dengan gerakan buruk mu, seharus nya kamu tidak berada dalam perlombaan ini. Hanya karena ayah mu seorang senpai, saya terpaksa mengajak mu. "


Tiba-tiba, aku teringat kata-kata senpai botak yang sangat menyakiti perasaan ku itu. Aku memejamkan mata ku, dan kemudian menggeleng kan kepala ku. Mencoba mengalihkan fikiran ku yang sudah kemana-mana. Aku menggeleng kan kepala ku lagi tanpa suara. Menjawab pertanyaan Akbar dengan gelengan kepala ku yang pelan.


"Lia. Ada apa? Jangan membuat ku bingung, " Kata Akbar sambil memegang tangan ku.


Saat ini, aku sedang menahan amarah ku yang ingin sekali meledak. Aku tak mau menunjuk kan amarah ku pada nya. Walaupun aku menceritakan semua perkataan senpai botak tadi. Dia pasti tidak akan mengerti. Kau pasti tidak akan mengerti Akbar, apa yang ku rasakan dan apa yang aku ingin kan.


"Karena orang yang bersinar seperti mu, tidak akan mengerti penderitaan orang gelap seperti ku. "


Kali ini aku menjawab pertanyaan Akbar dengan senyuman yang lebar. Aku melepaskan genggaman tangan nya, dan berlari menjauhi nya. Aku melirik ke belakang, melihat wajah nya yang kebingungan melihat sikap ku barusan.


*~*


Sesampainya di rumah, aku di marahi ayah ku karena pulang larut malam. Untung besok sekolah kami rapat untuk membahas perihal rencana liburan itu, dan meliburkan para siswa. Saat aku pulang, aku hanya mendapati ayah ku seorang diri. Ternyata, mama dan kakak ku menginap di rumah kerabat.


Aku merebah kan tubuh ku ke kasur. Ayah membuka pintu kamar ku, membawa nampan berisi makanan. Aku lupa kalau aku belum makan malam sekarang. Ayah meletakkan nampan itu di meja belajar ku, dan iya duduk di tepi ranjang ku.


"Ada apa sayang?, " Tanya ayah sambil mengelus kepala ku.


"Tidak ada, " Jawab ku malas.


"Tadi Akbar ke sini. Dia bilang, kamu pulang jalan kaki. Dia sudah memberi mu tumpangan, tapi kamu menolak nya, dan memilih jalan kaki. Dia khawatir, jadi dia mengikuti mu dari belakang. "


Akbar? Dia mengikuti ku? Dia khawatir pada ku? Nggak salah?


"Dia juga bilang. Kalau kamu di marahi oleh senpai yang ada di sana. "


Aku diam sejenak. Dan kemudian duduk. Aku mulai menceritakan pada ayah, apa saja yang barusan terjadi pada ku. Bagaimana aku bisa melupakan gerakan ku, dan bagaimana kata-kata senpai botak itu yang menyakiti hati ku.


"Maaf ya nak. Ayah tak tahu kalau semua ini bisa menyakiti hati mu, maaf ya nak. "


Ayah menundukkan kepala nya, terlihat menyalahkan diri nya atas sakit hati yang ku Terima. Aku memeluk ayah ku dengan erat, dan juga ia membalas nya dengan lembut.


"Ini pilihan mu. Kamu masih mau ikut serta dalam perlombaan itu, atau tidak, dan kamu boleh ikut dalam liburan itu? Ayah tidak akan memaksa mu lagi. "


To be continued...


Jangan lupa vote, komen, dan kasih rating bintang 5. Dan juga, support author dengan cara follow instagram nya author @__serendipitygirl__