
Aku tak tahu harus mengatakan apa, ketika aku mengetahui masa lalu Alex yang merubah nya menjadi orang yang kurang ajar seperti itu. Aku tidak terlalu mengerti dengan keluarga nya Alex. Aku bahkan belum pernah melihat wajah ayah Alex. Yang ku tahu, hanya keluarga nya Giska.
Jujur. Ketika aku tahu Giska adalah bagian dari keluarga Alex. Yang mana nama nya Alexandria. Aku ingin sekali memukul kepala nya. Aku ingin sekali menghajar nya, aku ingin sekali menendang nya keluar dari rumah Salsa.
Tapi. Mendengar rencana nya yang ia rencana kan. Melihat bagaimana dia ingin membantu aku dan Salsa mengatasi kesulitan yang di alami Salsa. Sampai-sampai membuat diri nya di lecehkan oleh Alex. Hati kecil ku berteriak marah pada diri ku sendiri.
Memaki diri ku sendiri yang tidak tahu apa-apa. Membuat ku malu pada semua orang. Membuat nama mereka tercemar karena kehadiran ku. Kepala ku hanya bertindak atas perintah otak ku. Tapi, aku tak pernah membiarkan kepala ku berdiskusi dengan hati ku terlebih dahulu.
Aku hanya membiarkan otak ku berjalan seperti yang ia mau, dan aku langsung melakukan nya. Naif. Naif sekali. Naif sekali kamu Lia. Hampir saja kau menambah kebencian seseorang pada diri mu.
"Dasar anak sil!. "
"Pembunuh. Lebih baik kau mati saja!. "
"Tidak akan pernah ku ampuni kau!. "
"Jika saja anak ku tidak berteman dengan mu. Dia tidak akan mati. "
"Dasar pembawa si*l!. "
"Memalukan. Mati saja sana!. "
"Pembawa aib keluarga!. "
"Bunuh dia*!. "
****. Kenapa di saat-saat seperti ini ingatan yang ingin sekali ku lupakan teringat kembali. Kenapa begini? Lupakan Lia. Semua nya sudah lalu. Dia sudah tiada. Dia tidak akan datang lagi. Iya, benar. Dia tidak akan datang lagi, tapi ingatan itu akan terus-menerus mendatangi ku. Dia pasti tidak akan membiarkan aku hidup dengan tenang.
*~*
"Yeahh. Agar ayah nya Alex senang karena kamu berhasil membuat putra nya berubah dan keluarga mu dapat terselamat kan dari ancaman Alex, " Ujar Giska sambil mengacungkan jempol nya.
"Hilih."
Aku dan Salsa tertawa kecil mendengar pengakuan dari Giska. Ketika Giska sedang menceritakan masa lalu Alex. Aku mencuri pandang, melirik ke arah Salsa, yang wajah nya terlihat sangat sedih dan murung.
Aku sudah mengerti dari ekspresi nya walau hanya sekali lihat. Secara garis besar, Alex adalah orang yang Salsa sukai. Laki-laki pertama yang Salsa sukai, atau lebih tepat nya di sebut dengan cinta pertama nya. Pantas ia merasa sedih dengan masa lalu yang menimpa orang yang ia sukai. Hal itu wajar kok.
"Jadi. Begitulah rencana ku, " Kata Giska.
"Aku setuju dengan rencana mu. Bagaimana dengan mu Lia?, " Tanya Salsa sambil menghadap ke arah ku.
Aku menatap nya dengan tatapan mata yang kosong. Saat ini fikiran ku benar-benar melayang kemana-mana. " Aku. (Menghela nafas), jika Salsa setuju. Aku setuju, " Jawab ku pasrah.
"Oke. Kita sepakat!. "
Aku melihat ke arah Giska dan Salsa yang sedari tadi meloncat kegirangan. Tiba-tiba suasana hati ku, berubah menjadi khawatir. Aku tiba-tiba khawatir dengan pertandingan yang tinggal tiga hari itu.
Aku takut, bagaimana kalau aku lupa gerakan lagi. Bagaimana kalau aku jatuh di sana. Aku harus bagaimana kalau menghadapi Akbar kalau kami kalah. Dan mau di taruh di mana wajah ku kalau aku kalah. Senpai botak itu pasti akan memaki ku kalau aku kalah. Kalau begitu, aku tidak boleh kalah. Aku harus menang bukan?!
"Ada apa Lia?, " Tanya Salsa mendekat pada ku.
"Kau terlihat seperti banyak fikiran, wajah mu kalau lagi banyak fikiran seperti nenek-nenek keriput, " Ujar Giska yang perkataan nya tiba-tiba membuat ku kesal dan dia ikut-ikutan mendekat pada ku.
"Tidak. Aku hanya khawatir dengan pertandingan yang tinggal tiga hari itu, " Jelas ku pada mereka berdua.
Salsa dan Giska saling berpandangan. Mereka kini duduk di hadapan ku. "Uhm, aku baru ingat kalau 3 hari lagi kamu tanding, " Ujar Salsa.
"Oh iya. Kau tadi bercerita tentang apa yang senpai botak itu katakan kan?, " Kata Giska.
"Lia. Kalau boleh jujur. Gerakan mu itu sungguh buruk. Jauh dari kata bagus. Sedangkan Akbar berbeda. Gerakan nya sudah melebihi kata bagus, jangan rusak citra Akbar dengan gerakan buruk mu, seharus nya kamu tidak berada dalam perlombaan ini. Hanya karena ayah mu seorang senpai, saya terpaksa mengajak mu, itukan yang ia katakan?, " Tanya Giska lagi.
"Iya."
"Lia. Jangan jadikan cacian orang itu sebagai penghalang untuk diri mu. Jangan dengarkan, jangan masukkan ke hati. Tapi jadikan dorongan untuk kesuksesan mu, bukan karena kamu juga anak seorang senpai, " Ucap Giska menasehati ku dengan nada suara yang terdengar gembira namun tegas.
"Dari awal kamu itu memang tidak sepatut nya berdiri di posisi yang sama seperti Akbar dan yang lain!. Dia juga bilang begitu kan?," Tanya Salsa memastikan.
"Iya."
"Kau tahu Lia. Kamu bukan Akbar. Kamu Lia, bukan Akbar. Dia bilang kau tidak pantas untuk berdiri di posisi yang sama seperti Akbar. Iya memang. Karena kamu bukan Akbar. Kau adalah Lia. Lia, bukan Akbar! . "
"Jadilah diri mu sendiri. Dan berdiri lah di posisi yang berbeda dari mereka yang di banggakan!, " Teriak kedua sahabat ku itu dan membuat ku terkejut.
"Apa maksud kalian berdua? Berdiri di posisi yang berbeda?, " Tanya ku tak mengerti.
"Mereka di banggakan karena gerakan yang bagus. Tapi kamu tidak, kamu membuat posisi mu dari cacian mereka. Tunjukkan pada mereka apa manfaat dari cacian mereka. Tunjuk kan siapa kamu!. "
"Jadi diri sendiri. Dan buat lah posisi yang benar-benar membanggakan untuk mu!. "
Terkadang, itulah guna nya sahabat. Menyemangati kita sampai akhir. Bukan nya ikut mencaci-maki. Mendukung, memberi dorongan dari bawah. Menjadi tiang penyangga untuk kita berdiri. Dan memberi kita pupuk untuk tetap subur, dan selalu memberi kita air untuk tidak layu.
Apapun itu. Terima kasih. Terima kasih sahabat ku.
*~*
Tak lama, Giska pamit untuk pulang ke rumah nya. Aku masih ada di sini, di rumah Salsa. Sedari tadi, ia jalan mondar-mandir seperti sedang memikir kan sesuatu. Tapi, aku tidak tahu apa yang sedang ia fikirkan.
Aku memperhatikan nya yang semakin terlihat kebingungan. Aku menyuruh nya untuk duduk di dekat ku, dan ia menuruti nya. Ia duduk di samping ku, namun wajah nya masih terlihat kebingungan.
"Ada apa sih?, " Tanya ku pada Salsa karena aku juga ikut-ikutan kebingungan.
"Kira-kira, bagaimana ya cara mengubah sifat Alex?, " Tanya nya pada ku.
Hah?
"Hah? Apa maksud mu?, " Tanya ku pura-pura tak mengerti padahal aku mengerti dengan jelas apa yang ia maksud.
"Dihh, aku tanya bagaimana cara mengubah sifat nya Alex seperti dulu, " Kesal Salsa.
"Aku tahu maksud mu. Tapi untuk apa?, " Tanya ku pada Salsa.
"Untuk apa?, " Tanya nya melontar kan pertanyaan ku kembali pada diri ku sendiri.
"Iya. Untuk apa kamu mau mengubah sifat nya. Padahal dia sudah mengancam mu seperti ini, " Jelas ku yang malah ikut-ikutan kesal.
"Iya ya. Kenapa coba aku mau mengubah sifat nya, padahal dia sudah mengancam ku. Begitukan reaksi yang ingin kau lihat? Maaf Lia. Aku nggak bisa, " Jawab Salsa sambil memasang wajah memelas.
"Kenapa nggak bisa?, " Tanya ku padanya.
"Kau tahu kan Lia. Aku menyukai Alex. Aku menyukai nya. Aku tidak bisa melihat nya terus-menerus jatuh ke pengaruh yang buruk. Dia itu orang yang baik Lia. Cuman salah didik aja, " Jawab Salsa dan membuat ku tertawa kecil.
To be continued...
Jangan lupa vote, komen, dan kasih rating bintang 5. Dan juga, support author dengan cara follow instagram nya author @__serendipitygirl__