My Unrequited Love, It's You

My Unrequited Love, It's You
Chapter 12 Death Separates?



"Hah? Apa-apaan ini... Lucu sekali...!"


Glek


*~*


"Sumpah, aku tidak mengerti, apa-apaan ini, situasi macam apa ini yang terjadi di hadapan ku".


Flashback on.


"Hah? Apa-apaan ini... Lucu sekali kamu. Kamu lucu sekali".


Luna tertawa setelah aku mengatakan perasaan ku yang selama ini ku sembunyikan, perasaan ku yang menyukai Akbar. Aku kebingungan, kenapa dia tertawa. Seharus nya dia marah.


" Lia, Lia, kamu kenapa minta maaf. Apakah menyukai seseorang adalah sebuah kesalahan fatal? Bukan?!".


Dia kembali tertawa. Aku bertanya pada nya, kenapa dia tertawa, apa ada yang lucu, perasaan ku tidak ada yang lucu. Dia menjawab "iya, ada kamu". Dia menunjuk ke arah ku, dan aku hanya bisa memasang wajah kebingungan.


" Aku masih tidak mengerti kenapa kamu tertawa? " Tanya ku pada Luna yang masih tertawa.


"Lucu nya itu, kamu mengira kalau aku juga menyukai Akbar! Tidak kok, kamu alah paham. Aku memang pernah bilang pada mu bukan? Kalau dia akan menjadi target ku selanjut nya, tapi tetap saja, aku hanya menjebak mu" kata nya dan mengeluarkan gelak tawa nya.


Aku terkejut dengan perkataan nya barusan. Dia bilang dia menjebak ku?


"Menjebak ku? " Tanya ku yang masih tidak percaya.


"iya aku, menjebak mu. Sebenar nya, aku sudah tahu, kalau kamu menyukai Akbar. Aku sudah menduga hal itu, tapi kamu tidak ingin mengatakan nya pada ku dengan jujur. Aku sudah tahu. Aku dengar suara teriakan mu waktu di kamar mandi, di situ aku semakin yakin kalau kamu menyukai nya".


"Jadi inti nya? "Tanya ku.


" Jadi inti nya, aku tidak menyukai Akbar. Tidak sama sekali, kamu kan tahu. Walaupun aku selalu disebut seorang playgirl yang suka gonta-ganti pacar, tapi di hati ku masih hanya ada dia. Sebanyak Laki-laki yang pernah ku sukai, di hati ku, hanya ada dia yang tak bisa ku lupakan" kata Luna sambil memegang pakaian ganti nya.


Tiba-tiba dia merangkul bahu ku. Dia menyuruh ku menatap ke arah kaca. "Coba kamu tatap ke arah kaca sekarang. Apakah ada orang yang sedang jatuh cinta? "tanya nya sambil melihat ke arah kaca.


Aku bingung, "siapa? "tanya ku.


" Yeahhhh, lihat saja sendiri"kata Luna sambil melepaskan rangkulan nya dari bahu ku.


"aku tidak melihat siapa pun, kecuali bayangan ku, tunggu jangan-jangan maksud mu-".


"iya. Kamu yang sedang jatuh cinta, tapi tidak sadar jika sedang jatuh cinta" Kata Luna sambil tersenyum pada ku.


Aku tersenyum, kemudian berkata "aku minta maaf Luna. Karena sudah salah paham pada mu" Kata ku sambil membungkuk kan badan ku.


Luna mengangguk, "tidak apa. Kesalah pahaman, memang sering terjadi dalam cinta. Jadi, semangat ya, jangan lepasin Akbar. Kalau bisa sampai nikah, dan aku jadi panitia makanan nya" Kata Luna sambil menepuk punggung ku.


"Makanan teross" Kata ku sambil tertawa.


Flashback off


Sumpah deh, aku pikir Luna akan marah pada ku, yeahhh, tidak sesuai dengan dugaan ku. Ternyata aku yang salah. Aku pikir dia menyukai Akbar, tapi ternyata aku hanya salah paham pada nya. kini, Luna, masih tertawa, dia tidak berhenti tertawa. Aku kesal melihat nya, ku jitak kepala nya dan dia berteriak kesakitan.


"Kamu nggak berubah kasar nya, nanti Akbar gak suka" Kata Luna sambil mengelus kepala nya yang habis ku kita.


"Ini balasan untuk mu yang sudah menjebak ku" ucap ku sambil meninggalkan Luna sendirian di kamar mandi. Saat ada di atas, aku melihat Akbar, dia berdiri di hadapan ku.


Tiba-tiba jantung ku berdetak sangat kencang. "Aduh tolong dong jangan seperti ini. Nanti aku malah nggak fokus" Ucap ku pada diri ku sendiri.


Aku hanya melewati nya, tidak mengapa nya sama sekali. Setelah itu, kami disuruh berbaris. ku berbaris di sebelah nya, karena aku dan dia adalah partner, jadi aku harus berbaris di dekat nya. Tidak bisa ke mana-mana. Biasa nya, setelah pemanasan kami akan berlatih beberapa teknik, tapi tidak untuk kali ini. Kami langsung di cerai berai, aku pergi mengikuti Akbar dan teman-teman ku.


Aku sudah pernah bilang kan, yang mengajari ku dan Akbar, adalah senpai botak. "Nah Akbar, Lia, kalian berdua, coba tunjuk kan pada saya kuncian yang ada bantingan nya".


Aku terkejut, yang benar saja, langsung bantingan dan lagi kuncian itu membuat wajah dan badan ku sangat dekat dengan wajah dan badan nya Akbar. Kalian tahu kan bagaimana ketika seseorang jatuh cinta dan dia begitu dekat dengan orang yang di cintai bakal gak fokus ya tuhannn. Ya sudahlah, mau gak mau, dari pada harus push-up. Ku berikan tangan ku untuk di genggam oleh Akbar. Dia menggenggam tangan ku dengan sangat kuat membuat ku mengerang kesakitan.


"Ahhh...".


Dia tidak merespon suara ku yang terlihat kesakitan oleh pegangan oleh tangan nya. Dia malah menguat kan cengkraman tangan nya, membuat ku kesal. Ingin sekali memukul nya. Dia mulai melakukan kuncian dan sekilas wajah ku dan wajah nya berdekatan. Aku cepat-cepat memaling kan pandangan mata ku dari nya, dan dia juga begitu, dia juga memaling kan pandangan mata nya dari ku.


Brukkk.


Oke aku dibanting untuk kedua kali nya. Aku terduduk di atas matras dan tangan ku masih tetap di genggam kuat oleh Akbar. Akbar menarik ku berdiri membuat wajah ku dan wajah nya kembali berdekatan. Aku reflek mendorong nya dengan lembut, tidak membuat nya jatuh sama sekali.


Aaat istirahat tiba, Akbar terus mengikuti ku kemana-mana. Aku duduk di sini, dia duduk di sebelah ku. Aku pergi keluar, dia mengikuti ku dan saat aku pergi ke kamar mandi, dia juga mengikuti ku. Aku yang kesal karena dia terus-terusan mengikuti ku sampai ke kamar mandi.


"Kak. Kamu ngapain sih? Ini kamar mandi anak gadis. Kamu kan cowok ngapain ngikut kesini? Sudah ganti kelamin?" tanya ku dengan suara yang agak sedikit meninggi.


"Enak saja ganti kelamin, aku cowok tulen, mau lihat punya ku apa? " Ujar nya sedikit berteriak.


"Ikh, gak mau, nanti mata suci ku ternodai" Kata ku sambil menutup kedua mata ku.


"Makanya, jangan bicara sembarangan. Kalau begitu aku tunggu di luar" Kata Akbar sambil berlari ke atas.


Dia bilang begitu pada ku? "Oy oy, dia kenapa sih? " Tanya ku pada diri sendiri. Aku ke dalam kamar mandi dan dia menunggu ku di atas. Aku tidak mengerti apa yang dia lakukan. Mengapa dia terus mengikuti ku dan mengapa dia menunggu ku di luar.


Aku hanya mencuci wajah ku karena terus-terusan jantung ku berdebar sangat kencang. "Tuhan kumohon kenapa aku terus berdetak sangat kencang ketika berdekatan dengan Akbar? Tolonglah, jangan sekarang aku harus fokus" Kata ku pada diri ku sendiri sambil menepuk-nepuk wajah ku sehingga meninggal kan bekat agak merah.


Ketika di atas aku melihat Akbar, dia duduk di atas kotak hijau. "Kakak ngapain sih? "tanya ku pada nya. Aku duduk di dekat nya, duduk di sebelah nya


" Sharusnya aku yang tanya ke kamu. Kamu yang kenapa? "tanya Akbar membalik kan pertanyaan ku yang barusan ku lontarkan kepada nya dan kembali kepada ku.


" Aku kenapa? "tanya ku.


"kamu terlihat seperti sedang menjauhi ku. Ada apa? Apa aku membuat kesalahan pada mu? tanya nya.


Aku menggeleng pertanda tidak setuju dengan perkataan nya.


"terus kalau tidak, kenapa kamu tidak menyapa ku sama sekali, bahkan selama latihan kamu diam saja? " tanya nya.


"Tunggu dulu. Wajah mu kenapa? Kenapa merah begin" Tanya nya lagi.


Aku terdiam. Suara ku tidak mau keluar. Aneh seperti ada kunci yang mengunci suara ku, aku diam beberapa saat dan kemudian Luna datang ke dekat kami.


"ya tuhan terima kasih sudah mendatangkan Luna" dalam hati ku.Aku mengisyarat kan pada Luna untuk membawa aku pergi dari Akbar. Karena saat ini jantung ku benar-benar berdetak sangat kencang.


"Lia, kamu ngapain di sini? Kamu di panggil senpai". Luna menarik ku seakan dia mengerti isyarat yang ku berikan pada nya tadi.


"kakak aku dipanggil oleh senpai. Nanti lagi ya" kata ku sambil melambai ke arah nya, dan dia hanya menghela nafasnya.


Akbar poV.


Tadi, saat dia datang, dia tidak menyapa ku sama sekali dan ketika bertemu ku juga tidak menyapa ku. Bahkan latihan bersama ku pun dia hanya diam seperti patung. Tidak biasa nya, biasa nya, dia selalu mengoceh pada ku seperti induk burung.


Aku mengikuti nya kemana-mana bahkan, bodoh nya aku, aku mengikuti nya sampai ke kamar mandi. Aku tidak sadar kalau aku mengikuti nya hingga ke kamar mandi. Dia memarahi ku karena aku mengikutinya hingga ke kamar mandi dan menyebut ku 'Ganti kelamin'_-.


Aku langsung berlari keluar dari kamar mandi itu dan menunggu nya di luar kamar mandi. Saat dia keluar, aku ingin bertanya pada nya kenapa dia hanya diam saat bersama ku dan saat aku tanya pun dia hanya diam. Dia tidak menjawab pertanyaan ku.


Kemudian Luna datang menghancur kan semua pertanyaan yang akan aku tanya kepada nya. Sudahlah nanti saja tanyakan pada nya.


Akbar poV end.


"Ya Tuhan. Terima kasih. Dan Terima kasih untuk mu Luna. Karena sudah menyelamatkan ku dari Akbar tadi" Kata ku sambil memuji syukur.


"Kamu kenapa sih Lia? " Tanya Luna.


"Seharusnya kamu tadi senang berada di dekat nya" Kata Luna mengomeli ku.


"Harus nya. Tapi jantung ku berdebar sangat kencang. Aku jadi salah fokus" Kata ku pada Luna sambil memasang wajah cemberut.


"Kamu gak boleh gitu. Ninggalin dia begitu saja. Mana melibatkan aku lagi" Kata Luna yang tambah memarahi ku.


"Iya, maaf kan saya bos Luna" Kata ku sambil tersenyum kesal.


"Aku ingin kasih saran pada mu Lia. Seharusnya, kamu senang bisa bertemu dengan nya. Pesan ku, jangan sia-siakan dia, sayangi dia selagi bisa, sebelum kematian memisahkan kalian" Kata Luna sambil menatap ke arah langit.


"Dan ku harap, dia bisa tahu kalau aku sangat menyanyangi nya dari bawah sini" Lanjut Luna sambil mengangkat tangan nya, seolah-olah ingin menggapai langit.


To be continued...


Jangan lupa vote, komen, dan kasih rating bintang 5. Dan juga, support author dengan cara follow instagram nya author @__serendipitygirl__