MY SECRET CEO

MY SECRET CEO
Permintaan Penyewa



...Vi...



...Saras...



...Elen...



.........


Elen menoleh ke arah pria itu yang duduk di depan kami. "Apakah kau tidak bisa datangnya lebih siang? Kau datang pagi sekali ke sini. Temanku baru saja bangun dan melihatmu. Mungkin dia mengira kau itu hantu!" Elen mendengus kesal kepada Vi.


Aku melambaikan tangan, berusaha mengatakan tidak. "Tak apa. Aku baik-baik saja. Mungkin terlalu kaget karena kedatangan tamu pagi-pagi," kataku dengan nada yang masih lemas.


"Em, Nona. Maaf, ini dokumen perjanjian yang harus ditandatangani. Pria berbadan kekar itu menunggunya di bawah," kata Vi.


"Pria berbadan kekar?" Aku pun menoleh ke Elen.


Elen mengangguk. Mungkin memang seperti itu prosedur penyewaan jasa pacar pria tampan. Tapi apapun itu, saat ini aku bisa tenang karena sudah mempunyai pasangan. Ya, walaupun hanya sementara. Setidaknya tidak akan ditanyakan kapan kawin lagi. Cukup bilang, doakan saja. Jadi mari mulai hari ini dengan lebih bahagia.


Tiga jam kemudian...


Elen baru saja pulang dan aku juga sudah mandi. Kini aku duduk di kursi tamu bersama Vi. Kami akan berbincang-bincang sebentar sebelum melanjutkan hari.


"Usiamu dua puluh delapan tahun?" tanyaku saat melihat data dirinya.


Dia masih memanggilku dengan sebutan nona. Padahal bisa memanggil nama saja. Karena jika memanggil nona itu serasa aku sangat tua sekali darinya.


"Panggil saja Saras. Sekarang aku temanmu. Eh, bukan! Aku ratumu. Selama enam bulan kau harus menuruti semua keinginanku." Keegoisanku mulai muncul kala sudah memilikinya.


"Tentu." Dia juga mengangguk-angguk.


"Aku jarang merapikan rumah jika tidak seminggu sekali. Aku juga jarang mencuci pakaian jika tidak tiga hari sekali. Kau bisa menggantikan tugasku jadi setiap hari?" tanyaku.


"Bisa!" Dia menjawabnya dengan yakin.


"Bagus. Kebetulan yang punya kontrakan juga datang setahun sekali. Jadi jika ada yang bertanya siapa dirimu, katakan saja kau itu adikku. Lingkungan di sini juga tidak terlalu peduli pada tetangga. Tapi ada baiknya kau bersapa saat bertemu mereka. Karena bagaimanapun kesopanan yang utama," kataku lagi.


"Baik."


"Dan satu lagi. Di depan teman-temanku kita harus berlaku mesra seperti sepasang kekasih. Jangan tunjukkan jika kita hanya pura-pura. Karena tujuan utamaku adalah menyumpal mulut mereka agar tidak seenaknya lagi mendiskriminasiku yang masih sendiri. Kau mengerti?" tanyaku dengan tegas.


Kulihat dia seperti menahan tawanya. Aku pun langsung mendekatkan wajah ke arahnya. "Kau menertawaiku?!" Aku pun langsung ngegas kepadanya.


"Eh, tidak-tidak. Itu suara perutku! Ya, perutku. Aku belum makan sejak semalam. Aku lapar sekali." Dia berkata seperti itu padaku.


Entah benar, entah tidak. Tapi saat mendengarnya, saat itu juga aku merasa kasihan. Bagaimana bisa pria setampan dirinya tidak mempunyai pekerjaan sampai harus menjual diri seperti ini? Lantas karena tidak ada apa-apa di rumahku, aku pun mengajaknya ke pasar. Aku mengajak Vi ke pasar tradisional untuk membeli bahan makanan. Dan ya, mulai hari ini beban hidupku juga akan bertambah. Karena aku tidak hanya memberi makan kepada diriku sendiri. Tapi juga kepada Vi, pacar jadi-jadianku.


Sore harinya...


Hari ini Hari Sabtu. Aku juga baru terbangun dari tidurku. Aku sampai lupa jika Vi sudah berada di rumahku. Lantas aku pun keluar kamar untuk melihatnya. Dan ternyata...


Ya Tuhan?!