
Aku pun ikut bersemangat. Kami lantas tertawa bersama sebelum pulang ke rumah. Kurasa akan nekat melakukannya. Ya, aku akan menyewa pacar dari situs ilegal itu. Mengikuti jejak Elen yang sudah berhasil lebih dulu. Semoga saja bisa mendapatkan cicilan terendah nanti. Doa terbaik menyertai diriku ini.
Jumat malam, pukul delapan waktu ibu kota dan sekitarnya...
Elen menginap di rumahku malam ini. Karena pacar sewaannya sedang izin pulang sebentar ke rumah. Yang mana membuatku jadi sedikit heran. Tapi aku tidak ingin menanyakannya. Aku tidak ingin membuat Elen kepikiran.
Kini Elen sedang membantuku memilihkan pria yang cocok untuk mendampingiku selama enam bulan ke depan. Dia juga membantu memilihkan cicilan terendah untukku. Ya anggap saja uang kenaikan gaji untuk membayarnya. Dan ya akhirnya mataku tertuju pada seorang pria di sana. Namanya Vi.
"Ini saja," kataku kepada Elen.
"Yakin?" tanya Elen sebelum mengekliknya.
"Iya. Sepertinya dia lucu. Dia bertingkah aneh di sana."
Aku melihat pria itu menari-nari tak jelas di sana. Entah siapa dia, yang penting bukan orang gila saja.
"Baiklah. Sekarang kau klik sendiri." Elen memintaku untuk mengeklik sendiri.
Aku pun menurutinya. Tapi entah mengapa saat ingin mengeklik, tanganku gemetaran. Keringat dingin pun mulai bermunculan di dahiku.
"Cepat, Ras! Nanti terburu diambil orang!" Elen pun memintaku untuk segera mengekliknya.
Sungguh jantungku berdebar bukan main. Seribu pertanyaan bersanding dengan jawaban di otakku. Pada akhirnya aku pun mengekliknya dengan napas terengah-engah. Tak berapa lama kemudian keluar persyaratan yang harus segera kutandatangani dan isi. Elen pun membantuku untuk mengisinya. Dan akhirnya...
"Selesai! Besok kita tunggu dia datang." Elen pun tersenyum semringah sekali.
"Hem."
Esok harinya...
Pagi-pagi pintu rumahku diketuk. Tak tahu siapa yang mengetuknya, aku pun lekas bangun dari kasurku. Kulihat Elen masih meringkuk di sampingku. Tidurnya memang aneh sekali, tapi dia tetap temanku.
Dengan lemas aku pun berjalan menuju pintu. Sambil mengucek mata, kucoba untuk mengembalikan penuh kesadaranku. Kulihat samar-samar jam di dinding telah menunjukkan pukul setengah enam pagi. Lantas saja aku membuka pintu kontrakanku. Aku ingin melihat siapa yang datang pagi ini. Dan ternyata...
"Selamat pagi, dengan Nona Saras?" tanyanya yang mengejutkanku.
"Em, siapa ya?" Aku pun balik bertanya padanya.
Dia tersenyum dengan satu tangan yang disembunyikan ke belakang. Aku tak tahu apa yang dia pegang. Tapi kemudian...
"Ini untukmu. Aku Vi, pacarmu," katanya yang membuatku lemas seketika. Aku pun terjatuh di depan pintu.
"Nona! Nona!!!"
Dia pun berteriak-teriak memanggilku. Tapi entah mengapa aku hanya bisa mendengarnya saja. Pria yang datang ini terlalu tampan bagiku. Aku pun terjatuh lemas melihatnya. Senyumnya, matanya, membuatku terpesona. Sampai-sampai aku tak kuat lagi menapakkan kaki saat dia berada di hadapanku. Aku ingin pingsan saja.
Setengah jam kemudian...
"Ras, kau baik-baik saja?"
Mentari baru saja terbit. Sinarnya pun mulai masuk ke dalam kontrakan yang berada di lantai dua ini. Dan ya, Elen sudah terbangun dan menemaniku di kursi tamu. Dia membantu menyadarkanku.
"Maafkan kedatangan saya yang tidak mengabari lebih dulu," kata pria berpakaian klasik itu.