
Lusa kemudian...
Hari Senin kembali datang dan membuat se-ibu kota sibuk dengan pekerjaannya. Dan kini aku sedang mewawancarai seorang karyawan baru di kantorku. Dia akan menggantikan teman kantorku yang cuti hamil selama tiga bulan ke depan. Dan aku menanyakan profil dirinya. Duduk berhadapan di sebuah ruangan.
"Dari mana kau tahu ada lowongan pekerjaan di kantor ini?" tanyaku pada wanita yang usianya tujuh tahun lebih muda dariku.
"Dari tetanggaku, Kak. Katanya teman dari temannya bekerja di sini." Dia menerangkan.
Teman dari teman tetangganya? Mengapa alurnya begitu pusing untuk dipikirkan?
"Baiklah. Kau sudah berkeluarga?" tanyaku lagi.
"Sudah, Kak. Anak saya malah sudah dua," jawabnya lagi.
Saat itu juga aku mengernyitkan dahi. Aku kalah telak darinya. "Apa motivasi terbesarmu bekerja di perusahaan ini?" tanyaku padanya.
"Saya ingin mengetahui ruang lingkup pereditoran di perusahaan literasi, Kak. Saya yakin bisa beradaptasi dengan cepat di sini," jawabnya lagi.
"Memangnya kamu punya kemampuan apa di bidang literasi?" tanyaku padanya.
"Saya sudah tiga tahun menjadi pembaca, Kak. Saya juga sudah tujuh tahun menulis. Saya menulis dengan kaidah penulisan yang berlaku. Saya memahami konsep 5W+1H dan juga What if." Dia menjawabnya dengan yakin.
"Baiklah. Satu minggu ini kau diberi kesempatan untuk menunjukkan dedikasimu. Jika dinilai baik, maka kami akan memperpanjang kontrakmu." Aku pun tertarik padanya.
"Terima kasih, Kak. Terima kasih." Dia pun berterima kasih padaku.
Sebenarnya ini adalah tugas bagian HRD untuk mewawancarai karyawan baru. Tapi mereka semua sedang rapat dengan manager kami. Sehingga sebagai karyawan lama, aku menggantikan tugas mereka sementara waktu. Karena kasihan juga jika membiarkan si pelamar kerja menunggu terlalu lama. Dia juga masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.
Jam pulang kantor...
"Kemarin ibu dirut benar-benar tidak mengundangmu, Ras?" tanya Stefany sambil merapikan meja komputernya.
"Tidak," jawabku singkat.
"Kau tidak ada niat untuk mencari pasangan?" Stefany terlihat khawatir padaku.
Aku menunduk. Bingung harus menjawab apa.
"Ras, Teman-teman lama kita semuanya sudah menikah. Mungkin sudah saatnya kau menyusul mereka. Lima tahun ini kau melajang tanpa arah. Baiknya kau berdamai dengan dirimu sendiri. Belum tentu pacarmu nanti seperti yang dulu."
Stefany seperti tahu benar apa yang terjadi padaku. Katakanlah dia teman terdekatku di kantor ini. Dia juga selalu membelaku di setiap ada orang yang mencela status jombloku.
"Aku masih memikirkannya." Aku pun berkata demikian.
Stefany memegang pundakku. "Jika hanya dipikirkan, maka tidak akan menyelesaikan masalah. Ada baiknya kita berusaha, entah bagaimana caranya. Setidaknya Tuhan tahu jika kita berusaha. DIA pasti juga akan memberikannya." Stefany berkata lagi padaku.
Aku terharu. Stefany begitu baik padaku. Aku pun memeluknya sebagai seorang teman dan keluarga. Karena nyatanya usia kami memang tidak berbeda jauh. Bedanya dia sudah menikah dan punya dua anak saja, sedangkan aku belum.
"Baiklah. Aku akan berusaha." Aku pun bersemangat di depannya.
Stefany tersenyum. "Kau pasti bisa meraihnya, Ras. Semangat!" Dia pun menyemangatiku.
"Semangat!!!"