
Sesampainya di rumah...
Vi membawa semua barang belanjaanku sejak turun dari bis sampai ke rumah kontrakan ini. Setelahnya dia pun meletakkannya di atas meja makan yang lesehan ini. Tanpa sengaja ponselnya terjatuh karena dia terburu-buru ke kamar mandi. Lantas saja aku memberanikan diri untuk melihatnya. Dan ternyata ada banyak panggilan masuk ke ponselnya atas nama Klara.
Klara? Pacarnya?
Entah mengapa hatiku tiba-tiba terasa sakit saat membayangkan jika Klara itu adalah pacarnya. Rasanya seperti kecewa yang tidak bisa diungkapkan. Sosok pria yang menemaniku selama dua minggu ini ternyata sesuai dengan apa yang aku pikirkan. Yang mana ternyata dia sudah mempunyai pasangan. Vi pun keluar dari kamar mandi sambil membenarkan celananya. Sedang aku...
"Aku mau istrahat!" Aku berkata padanya dengan nada kesal. Aku juga meletakkan ponselnya ke atas meja. Vi pun melihatnya.
"Saras, kau ingin tidur siang? Baru pukul satu. Apa tidak ingin menonton TV dahulu?"
Vi mengejarku. Tapi tak kuindahan. Aku segera menutup pintu lalu berbaring tidur. Aku kesal, sangat kesal melihat sebuah nama yang sering meneleponnya. Pasti dia berteleponan saat aku tak berada di rumah. Entah mengapa hatiku ini sakit sekali. Aku pun mulai bosan dengan kepura-puraan ini.
Aku ingin refund saja. Apakah bisa?
Aku pun berniat mengembalikan Vi ke situs ilegal tersebut. Aku tidak ingin habis uang, habis pikiran dan tenaga karena memikirkannya bersama wanita lain. Sungguh hal bodoh jika masih terus kulanjutkan. Aku pun berniat menyudahi kepura-puraan ini.
Satu minggu kemudian...
Seminggu terakhir aku jarang bersapa dengan Vi. Pergi kerja ya pergi, pulang kerja ya langsung beristirahat. Dan kini mens-ku sudah datang sehingga bisa bernapas lega. Aku pikir akan telat datang bulan periode ini. Tapi ternyata tidak. Akhirnya kalenderku merah sendiri.
Kini aku sedang duduk di sofa TV sambil merelaksasikan badan sejenak. Vi sedang tidak berada di rumah karena katanya ingin menemui ibunya. Aku pun mengiyakan saja karena tidak punya hak untuk melarangnya. Karena nyatanya aku bukan siapa-siapa. Hanya kekasih yang pura-pura. Aku pun tidak ingin mengekangnya untuk pulang ke rumah. Kubiarkan saja dia pergi. Tak kembali juga tak apa-apa.
"Kau di mana?" tanya Elen padaku.
"Aku di rumah. Sendiri," jawabku.
"Aku ke sana sekarang," katanya meminta izin padaku.
Aku mengangguk. "Baiklah."
Tak lama telepon kami pun terputus. Aku kembali duduk santai sambil menunggu Elen datang. Entah apa yang akan dia bicarakan, aku menunggunya saja. Sekalian ingin menanyakan refund atas Vi bisa atau tidak.
Setengah jam kemudian...
"Jadi kau berniat mengembalikan Vi?" tanya Elen sambil meneguk minuman bersoda yang kusajikan.
Aku mengangguk. "Aku rasa lelah terus berpura-pura. Hanya dapat itu saja tapi uang yang kukeluarkan terlalu besar," jawabku.
Elen tampak bersimpati padaku. "Tapi kau akan terkena pinalti, Ras. Dan uang pinalti 10% dari total angsuranmu. Kau siap?" tanya Elen padaku.
Aku berpikir kembali. Angsuranku setiap bulan untuk Vi adalah dua juta lima ratus selama sepuluh bulan. Jika aku mengakhirinya, menggenapkan satu bulan, maka aku harus membayar angsuran bulan pertama ditambah pinalti. Itu berarti lima juta yang harus kubayar. Tapi rasanya sayang juga untuk mengeluarkan uang sebesar itu hanya untuk satu bulan bersama pacar sewaan. Sepertinya aku telah terjebak ke permainan.