
Vi memberikan air minum untukku. Aku pun lekas meminumnya. Tapi saat itu juga air minumnya tidak sengaja tertumpah di gaunku.
"Aduh!"
"Saras, kau tak apa?" tanyanya yang seketika khawatir.
"Em, aku baik-baik saja." Aku pun mencoba membersihkan gaunnya.
"Biar kubantu." Vi pun mengambilkan tisu lalu mengelap air yang tumpah di gaunku.
Vi ....
Saat itu juga aku melihatnya memperlakukanku dengan lembut sekali. Kupandangi paras tampannya yang membuat semburat senyum itu terlukis di wajahku. Dan entah mengapa ada sesuatu yang terbesit di hati ini. Lantas aku pun memegang tangannya yang sedang membersihkan gaunku. Aku mulai mendekatkan wajah ini ke wajahnya. Dia pun terdiam seketika.
"You are handsome, Vi. Like a prince!" Aku memujinya.
Vi menelan ludahnya. "Saras."
Dan entah mengapa suasana sekitar berubah dengan cepat. Vi menarikku lalu mendaratkan ciumannya di bibirku. Lembut bibirnya pun kurasakan hingga membuat hasrat di dalam tubuh ini muncul. Getarannya begitu kuat hingga aku berharap lebih. Ciuman dari bibirnya begitu lembut sekali.
Aku tidak ingin ini lekas berakhir.
Lantas aku pun membalas ciumannya. Kami beradu bibir sambil memejamkan mata dengan kedua tangan yang saling berpegangan. Vi pun kemudian memegang tengkuk leherku ini. Seolah memintaku untuk tidak cepat-cepat mengakhirinya. Hingga akhirnya dia mendorongku. Aku pun jatuh terlentang di kursi tamu. Saat itu juga aku pasrah terhadap hal apa yang akan terjadi.
"Vi ...."
"Saras ...."
Kami saling berpandangan. Kulihat senyum manis itu juga mulai mengembang. Kurasakan sebentar lagi akan terjadi sesuatu pada kami. Vi pun mulai mendekatkan kembali wajahnya ke wajahku. Saat itu juga aku memenjamkan mata di hadapannya. Aku pasrah jika dia menginginkanku malam ini juga.
Kata-kata itulah yang kudengar di telinga ini. Tak lama kurasakan sesuatu yang lembut pun menyentuh bibirku. Sapuan-sapuan lembut itu akhirnya kurasakan hingga membuatku seperti tersengat aliran listrik. Vi mencium lembut bibirku. Kedua tangannya memegang erat tangan ini. Kami bak siap melakukan hal itu. Perlahan tanganku pun melingkar di lehernya.
Miliki aku, Vi ....
Aku pun mencoba mengintipnya. Dan kulihat Vi memejamkan matanya sama sepertiku, menikmati ciuman ini. Hingga akhirnya, kami mulai terbawa suasana.
"Bangunkan aku," pintaku padanya agar dia membangunkanku.
Vi pun menurutku. Dia menarik tubuhku. Aku pun memberanikan diri untuk duduk di atas pangkuannya. Aku mencoba menyalurkan perasaan terpendam sejak lima tahun ini. Aku mulai menciumnya kembali.
Vi, aku menyukaimu ....
Vi juga memegang pinggulku. Kurasakan kedua tangannya yang mulai mengusap-usap pinggulku ini. Tangan kirinya lalu memegang tengkuk leherku. Sedang tangan kanannya meremas pinggulku. Aku pun mencoba untuk terus menciuminya, mencium dengan jari tangan kanan yang menari-nari di tengkuk lehernya. Vi pun tampak begitu menikmati momen ini.
"Emmhh ... Saras...."
Napasnya terdengar begitu berat. Dia mengajakku untuk semakin tenggelam dalam gejolak yang memburu. Vi pun mengajakku bertukar saliva, beradu lidah sambil menikmati udara yang kami hirup. Aku pun mulai melepas jasnya. Tampak dirinya yang diam saja. Vi tidak melakukan perlawanan sama sekali.
"Saras? Saras? Saras?" Tak lama kurasakan ada yang mencubit hidungku ini.
"V-Vi???" Aku pun menyadari jika Vi lah yang mencubit hidungku.
Dia menatapku sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia melipat kedua tangannya di dada.
"Dan terjadi lagi," katanya yang membuatku tersadar dengan apa yang terjadi.