MY SECRET CEO

MY SECRET CEO
Kesal



Arrghh! Dia menyebalkan!


Sungguh aku kesal malam ini. Dia sudah mengerjaiku malam ini. Dan kini dia seenaknya memerintah bahkan mengancamku. Apakah dia benar-benar ingin membalas dendam padaku?


"Ini, Pak." Pada akhirnya kudapatkan ponsel dari saku celananya itu.


Sambil menghirup napas dalam-dalam, aku kembali duduk di kursiku yang berhadapan dengannya. Untung saja malam ini pengunjung rumah makan tidak terlalu ramai. Jika iya, mungkin aku sudah diteriaki mesum oleh banyak orang. Bagaimana tidak, aku pindah kursi untuk duduk di dekatnya lalu merogoh saku celananya. Pasti orang berpikiran yang tidak-tidak saat melihatnya. Benar, bukan?


Telepon kembali berdering. "Angkatkan telepon untukku," pintanya.


Aku mengerti. Kuangkat telepon itu lalu kudekatkan ke telinganya. Saat itu juga kudengar suara orang berbicara samar-samar kepadanya.


"Kirimkan ke rumah makan lele terbang. Aku sedang berada di sini. Di meja dua belas." Dia berkata seperti itu. Tak lama sambungan telepon pun terputus.


Beginikah semua sikap orang kaya? Gayanya luar biasa. Mengalahkan hukum fisika.


"Merepotkan saja."


Dia akhirnya menyudahi makannya. Segera pergi dari hadapanku lalu mencuci tangan di wastafel rumah makan ini. Sedang aku meneguk habis jus yang kupesan tadi. Entah mengapa aku merasa haus sekali.


"Permisi." Tak lama seorang pria bertopi oranye pun datang menghampiriku.


"Ya? Ada apa?" tanyaku kepadanya.


"Maaf, Nona. Ini pesanan tuan Vi. Lingeri yang tadi. Harganya lima ratus ribu sudah termasuk ongkos kirim."


Lima ratus ribu?!!


Ternyata oh ternyata kurir belanja online lah yang menghampiriku dan memberikan pesanan Vi. Sontak saja aku menelan ludahku ini. Ternyata dia benar-benar memesankannya untukku. Sungguh aku mulai takut padanya. Apakah sifat aslinya memang seagresif ini?


Vi datang menghampiriku setelah mencuci tangannya. "Ada apa?" Dia bertanya seperti itu.


"Berapa?" tanya Vi.


"Lima ratus ribu, Tuan."


"Sudah termasuk ongkir?" tanyanya lagi.


"Sudah, Tuan."


Vi kemudian mengeluarkan beberapa lembar uang kertas pecahan besar. "Ini lima ratus lima puluh. Ambil saja lebihnya." Dia pun memberikan semua uang itu ke kurir pengantar pesanannya.


"Banyak sekali, Tuan? Terima kasih. Terima kasih banyak." Kurir itu pun berterima kasih dengan kegirangan kepada Vi.


Vi menerima pesanannya lalu kembali duduk di hadapanku. "Kita pulang sekarang. Ada yang ingin kau beli?" tanyanya.


"Em ...." Aku pun berpikir cepat mengenai pertanyaannya.


"Ingin belanja mingguan? Aku temani." Dia menawarkan diri.


"Em, ti-tidak. Tidak perlu, Pak." Aku pun menolaknya segera.


Dia tersenyum padaku. "Kenapa? Takut?" Dia menyeringai di hadapanku.


Aku menelan ludah ini. "Ti-tidak, Pak. Saya sudah lelah. Saya ingin beristirahat." Aku berkata seperti itu padanya.


Dia menggangguk-angguk. "Baiklah. Kita pulang sekarang. Ayo!" Dia pun berjalan duluan di depanku.


Aku mengangguk dan segera mengambil tasku. Dia pun ke kasiran untuk mengambil pesanan dan membayar makan malam ini. Lalu setelahnya segera keluar dari rumah makan bersamaku. Kami masuk mobil bersama lalu segera melaju. Entah apa yang akan terjadi nanti, aku juga tidak tahu. Aku jalani saja hidupku. Aku pasrah karena sudah lelah. Berharap kabar baik lekas kuterima. Ya, semoga saja begitu.