
...Saras...
...Bos Baru...
.........
Eh?!
Aku pun tak jadi melangkahkan kaki ini. Aku berbalik ke arahnya. "Pak?" Aku menegurnya.
Dia beranjak bangun dari sofa lalu melihatku. "Sudah selesai?" tanyanya.
"Sudah, Pak." Aku pun mengangguk.
Aku berdiri di dekat pintu. Padahal satu langkah lagi keluar dari ruangan ini. Dia pun melangkah ke meja kerjanya lalu duduk di kursi kebesarannya itu. Sedang aku menunggu instruksi berikutnya.
"Jangan pulang dulu. Aku akan mengeceknya sekarang."
Dan begitulah yang dia katakan saat aku sudah menyelesaikan tugasku. Ternyata dia memintaku untuk menunggu, tidak boleh pulang lebih dulu. Entah mengapa aku merasa diperlambat olehnya. Mau pulang saja susah. Apakah semua bos sama sepertinya?
Setengah jam kemudian...
Menit demi menit berlalu. Belasan, puluhan, sampai tiga puluh menit berlalu untuk menunggu kejelasan si bos baru. Dan aku masih berada di depan meja kerjaku. Browsing sana-sini karena bete menunggu. Pada akhirnya rasa kantuk pun mulai menerjangku. Aku sudah ingin pulang tapi masih diminta menunggu. Hingga akhirnya kudengar suara pintu ruangan bos terbuka. Saat itu juga aku menutup semua aplikasi web-ku.
Dia datang!
Kulihat bos baruku yang mirip sekali dengan Vi itu berjalan ke arahku. Detik demi detik pun terasa begitu lambat sekali. Ditambah penerangan yang hanya ada di atas kepalaku. Sedang lampu lain sudah dimatikan sejak petang tadi. Dan ya, dia memegang sebuah map di tangannya. Dia lalu mendekatiku.
"Saras." Dia menyapaku.
"Duduk saja." Dia memintaku untuk tetap duduk di kursi.
Aku mengangguk, kembali duduk di kursiku. Tapi saat itu juga dia mendorong kursiku sampai mepet sekali dengan meja kerjaku. Dan dia mengunciku dari belakang. Dia berada tepat di belakangku dengan kedua tangan yang dilebarkan ke depan. Tangan kanannya memegang mouse komputerku. Sedang tangan kirinya berada di mejaku.
"Kau sudah makan?" tanyanya padaku dengan jarak yang dekat sekali.
Dengan gemetar aku pun menjawabnya. "Sudah, Pak," jawabku.
"Tidak mengajak ku?"
Dia bertanya lagi lalu membungkukkan badannya ke dekatku. Wajahnya mendekati bahuku ini. Sontak saja aku merinding sendiri. Wajahnya itu tepat berada di atas bahuku, dekat dengan wajahku.
"Sa-sa-saya pikir Bapak sudah makan." Bibirku pun gemetar menjawabnya.
Dia menoleh ke arahku, menatapku dengan tangan yang masih memegang mouse komputer. Sontak saja aku menelan ludah karena jarak kami begitu dekat sekali. Bisa saja dia menciumku saat ini. Aku tidak akan bisa lari karena tubuhku telah terkunci.
"Kau tidak ada niat untuk menanyakannya padaku?" tanyanya lagi sambil memerhatikan wajahku ini.
Aku diam, kaku, dan tak bergerak sama sekali. Sedikit saja aku menoleh ke arahnya, bisa-bisa bibir kami bertemu. Aku pun tetap menghadap ke depan dan menatap layar komputerku. Dengan jantung yang berdebar, dengan hati yang deg-degan. Sungguh hangat napasnya itu bisa kurasakan menerpa permukaan bahuku.
"Maaf, Pak. Lain kali saya akan menanyakannya," kataku.
Dia tersenyum menyeringai di sampingku lalu membuka sebuah situs belanja online. Dan dia mengerti sesuatu di sana.
"Menurutmu mana yang bagus?" Dia menanyakan pendapatku.
"Ap-apa?!"
Saat itu juga aku tak percaya dengan barang yang akan dipilihnya. Dia mengetik lingeri di aplikasi belanja online komputerku. Dia memintaku untuk memilihkannya. Sungguh hatiku ketar-ketir dibuatnya.