
Masih jam dua. Lebih baik aku tidur lagi.
Lantas aku pun ke kamar mandi untuk pipis. Setelahnya meneguk segelas air hangat lalu kembali tidur lagi. Aku masih harus bekerja esok hari. Semoga saja nanti bisa mimpi indah bersama bintang. Tentunya ada Vi juga di sana, pacar sewaanku yang tampan rupawan dan juga perhatian.
Jumat, pukul empat sore...
Hari ini adalah hari menuju akhir pekan yang kunanti. Setelah beberapa jam berada di luar kantor, kini aku kembali lagi ke kantor dengan membawa kabar gembira. Aku berhasil bernegosiasi dengan salah satu merek komestik yang akan bekerja sama dengan perusahaan ini. Dan ya, nota kesepahaman sedang dipersiapkan sebelum ditandatangani.
Lelahnya. Tapi besok bisa libur panjang. Aku ingin mengajak Vi ke kampung halamanku. Kira-kira dia mau tidak, ya?
Aku kembali ke ruangan lalu duduk sambil membawa kopi late yang hangat. Kulihat suasana kantor mulai santai saat pukul empat sore. Beberapa di antara karyawan sudah menyelesaikan pekerjaannya. Dan beberapa di antara mereka ada yang sedang asik mengobrol dengan gengnya. Sedang aku...
"Undangan?"
Kulihat di atas mejaku ada sebuah undangan yang entah dari siapa. Aku pun lekas membukanya. Dan saat dibuka, aku terkejut seketika. Ternyata adik tingkatku yang mengundang ke acara pernikahannya.
"Eh, Ras. Lo diundang juga?" Tiba-tiba aku mendengar suara seseorang dari belakang.
Stefany?
Aku pikir Setefany lah yang menegurku. Aku pun langsung berbalik menghadapnya. Tapi ternyata, Ana.
"Ana? Memangnya kebapa?" tanyaku balik padanya.
Dia menghentak-hentakkan kakinya sambil melipat kedua tangan di dada. "Enggak apa-apa sih. Masalahnya gue juga diundang ke sana. Dan gue bakal bawa pacar. Lo sendiri gimana?" tanyanya padaku.
Saat mendengarnya, saat itu juga aku tahu apa maksudnya membicarakan hal ini. Dia ingin mengejekku karena belum mempunyai pasangan Namun, kali ini aku bisa membalasnya.
Dia membentuk bibirnya bak lekukan pelangi. "Bagus deh kalau gitu. Gue tunggu di sana," katanya lalu beranjak pergi dari hadapanku.
Dia sombong sekali. Aku pun memerhatikannya pergi.
"Ras, sudah balik?" Kali ini benar Setefany lah yang menegurku. Dia keluar dari ruangan manajer sambil membawa beberapa dokumen di tangan.
"Kursimu kosong dari tadi. Kupikir tadi dirimu yang menyapaku." Aku kembali duduk menghadap komputerku.
"Iya. Tadi pak bos minta dipilihkan beberapa novel bagus hasil karya penulis kita. Dan aku mengajukan romansa modern kepadanya," tutur Stefany.
"Romansa modern? Kenapa tidak coba roman fantasi saja? Kita sudah terlalu banyak mengajukan romansa modern yang tidak jauh dari ruang lingkup CEO dan juga kemelut rumah tangga. Roman fantasi kita sangat sulit terjamah." Aku memberi saran.
Stefany mengangkat bahunya. "Pak bos memintanya seperti itu. Katanya kalau bisa yang diangkat dari kisah nyata. Tapi aku belum menemukannya. Jadi kurasa roman fantasi jauh dari kriteria." Stefany menjelaskan.
Aku mengangguk, mengerti sudut pandangnya.
"Oh, ya. Tadi ada undangan untukmu." Stefany memberi tahu.
"Oh, sudah kuterima. Siapa yang mengantarkannya?" tanyaku balik.
"Entahlah. Pak satpam yang datang tadi. Mungkin undangan pernikahan. Soalnya tertutup dan aku tidak berani membukanya," jelasnya.
Stefany merupakan karyawan angkatan pertama. Dia berdarah Chinese yang baik hatinya. Kadang saat imlek dia memberiku kue tutun yang begitu besar. Dia juga sering berbagi cemilan pada saat makan siang. Dia yang merubah sudut pandangku tentang seseorang. Katakanlah dia mentor bagiku walau kami berbeda keyakinan.