MY SECRET CEO

MY SECRET CEO
Canda



...Saras...



...Vi...



.........


"Kau ingin pakai jaket buluku?" Dia menawarkan jaket beruangnya kepadaku saat kami berjalan menuju halte bis bersama.


Aku tersenyum. "Terima kasih. Blezerku masih cukup menghangatkan," kataku.


Dia mengangguk. "Aku sudah masak. Aku juga sudah mencuci semua pakaianmu." Dia berkata lagi.


"Benar, kah? Kau rajin sekali." Aku pun tak menyangka jika dia akan serajin ini.


"Aku memenuhi apa yang kau inginkan. Bukankah itu cukup memuaskan?" tanyanya padaku.


Sejenak aku terdiam mendengar pertanyaannya. Entah mengapa ada rasa takut menyelimuti hatiku bilamana perjanjian ini selesai. Apakah dia akan bersikap yang sama kepada wanita yang menyewa selanjutnya? Entah mengapa aku seperti tidak rela jika ada wanita lain yang menyewanya. Entahlah. Aku juga tak mengerti mengapa.


Vi, kau pengertian.


Lantas malam ini pun menjadi saksi kami yang menunggu bis datang. Kami duduk di halte bis dengan jarak yang berjauhan. Dia tadi memegang tanganku hanya karena ingin aku mengikutinya. Dan kini kami berjauhan lagi. Seperti memang tidak ada perasaan di antara kami. Rintik-rintik hujan yang turun pun menjadi saksi.


Sesampainya di rumah...


Rasa kantuk itu menerjangku setelah duduk belasan menit di dalam bis. Dan kini aku baru sampai di kontrakanku. Aku pun lekas membaringkan diri di kursi tamu karena tak kuat menahan kantuk. Tapi, Vi memintaku untuk mandi.


Rumah kontrakanku ini bisa dibilang lengkap. Saat aku datang ke sini, semua perabotan sudah tersedia dan bisa langsung pakai saja. Ada kursi tamu, kasur, lemari pakaian, perabotan dapur dan juga sofa TV. Jadi aku tinggal memakainya saja. Maka dari itu uang sewanya juga besar.


Aku sudah tiga tahun di sini. Dan karena sudah lama, aku mendapat kortingan harga. Yang awalnya sejuta, kini aku hanya perlu membayarnya delapan ratus ribu saja. Lumayan bukan? Dua ratus ribu itu bisa kubelikan peralatan mandi dan cuci setrika.


"Hah ... lelah sekali. Kapan ya punya uang banyak tanpa perlu bekerja keras?" Aku pun menghayal sendiri.


"Ehem!" Vi pun berdehem kepadaku. "Air panasnya sudah jadi. Mandilah agar tubuhmu lebih segar," katanya.


Aku pun beranjak bangun dari kursi tamu ini. Aku mendekatinya. "Aku maunya dimandiin," kataku sambil tersenyum padanya.


Vi menelan ludahnya. Dia menatapku dengan ragu. "Em, nanti. Sekarang mandi sendiri dulu." Dia pun menjawab seperti itu.


"Kapan?" tanyaku manja.


"Em ...," Dia seperti sedang memutar otak untuk menjawabnya. "Saat kau tidak akan pernah menyesalinya." Vi melanjutkan perkataannya.


"Maksudmu?" Aku kembali bertanya padanya.


Kulihat Vi tersengal-sengal untuk menjawab. "Saat kau siap punya anak," katanya, yang saat itu juga membuatku ingin tertawa.


Dia ini lucu sekali.


Aku pun terkekeh dalam hati. Mendengar jawaban darinya seperti seorang pria yang belum terjamah sama sekali. Aku jadi penasaran dengannya. Benarkah dia seperti itu? Atau hanya pura-pura? Aku ingin mengetahui lebih jauh tentangnya.


"Hm, baiklah. Aku akan mempersiapkan diri untuk itu. Tapi ...," Aku memerhatikan dirinya. "Aku ingin kau juga bekerja untuk menafkahi anak itu. Jangan cuma aku saja." Entah mengapa obrolan ini terus berlanjut.


Dia mengembuskan napas sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Saras, mandilah. Jangan bicara lagi. Aku ini lelaki," katanya yang membuatku berpikir sejenak tentang apa alasannya.