
Beberapa menit kemudian...
"Saras, aku sudah memasakkan air panas untukmu. Saras!"
Lima menit berselang dari aku masuk ke kamar, Vi mengetuk pintu dan memberitahukan jika dia sudah memasakkan air panas untukku. Dia memang pria yang pengertian. Pulang kerja aku tinggal mandi tanpa perlu memasak air lagi. Dia juga sudah siap untuk menghidangkan makan malam untukku. Tapi entah mengapa aku masih kesal jika ingat dia menerima telepon tadi. Aku cemburu. Mungkinkah ini pertanda bunga cinta telah bersemi di hatiku? Atau hanya perasaanku saja?
Aku membuka pintu. Dia pun terlihat senang melihatku. "Saras, kita makan malam bersama lagi." Dia semringah melihatku.
Aku diam. Masih diam karena terbawa perasaan kesal. Aku pun pergi ke dapur lalu mengambil air panas yang dia masakkan. Lalu setelahnya menuju kamar mandi untuk menyegarkan diri. Aku tidak berkata apapun padanya. Masih malas bicara karena melihatnya teleponan tadi. Vi pun seperti tidak enak hati sendiri. Mungkin dia khawatir kinerjanya tidak memuaskanku. Sedang aku mencoba untuk tidak memedulikannya walau hati ini terus memikirkannya. Entah mengapa aku jadi sensitif seperti ini. Apakah mau menstruasi?
Vi, jika perjanjian sudah usai, apakah kau masih ingat padaku?
Pada akhirnya aku pun lekas mandi. Membersihkan diri dari aktivitas yang begitu padat sekali. Kugunakan sabun aroma terapi untuk menenangkan pikiranku. Semoga saja aku tidak baper lagi. Aku harus sadar diri. Karena nyatanya hubunganku dan Vi hanya sebatas perjanjian enam bulan. Tidak lebih.
Satu jam kemudian...
Sehabis mandi aku langsung merebahkan diri di kasur berukuran sedang ini. Aku belum makan malam. Lampu kamar juga kumatikan karena ingin tidur lebih cepat. Tapi entah mengapa aku melihat seseorang yang hilir mudik di depan jendela kamarku. Yang mana membuatku sedikit takut. Lantas saja aku keluar dari kamar untuk mencari keberadaan Vi. Tapi nyatanya dia tidak ada di rumah ini.
Dia ke mana?
Kulihat jam sudah menunjukkan pukul delapan kurang delapan menit. Dan karena masih sore, aku pun memberanikan diri untuk keluar dari kontrakan. Aku ingin melihat siapa orang yang mondar-mandir di depan jendela kamarku. Aku pun membuka pintu rumah ini sambil membawa sapu. Dan saat membuka pintu, saat itu juga kulihat seorang pria berhodie hitam sedang mencoba membuka jendela kamarku. Lekas saja aku memukulnya dengan gagang sapu.
"Sa-saras, ini aku. Vi!" Kudengar dia berkata seperti itu.
"Vi?!" Saat itu juga aku tersadar siapa pria yang ingin mencoba membuka jendela kamarku.
Dia membuka penutup kepalanya. Dan saat itu juga kulihat memang dirinya lah yang memakai hodie hitam itu. Aku pun tersadar jika tidak mungkin ada maling saat masih sore seperti ini. Aku pun berhenti memukulinya.
"Apa yang kau lakukan, Vi?! Mengapa seperti ingin maling saja?!" tanyaku dengan nada setengah kesal.
"Em, maaf. Aku ... aku ingin mengetahui keadaanmu," katanya.
"Keadaanku?" Aku pun balik bertanya padanya.
Dia mengangguk sambil menunduk. "Aku khawatir kau kenapa-napa di dalam. Jadi aku ingin memastikan kau baik-baik saja."
Dia memasang raut wajah sedihnya di hadapanku. Sontak aku pun merasa kasihan padanya. Aku tidak marah lagi padanya.
"Sudah. Kita masuk lagi," kataku memintanya.