
Sesampainya di rumah kontrakan...
Saat ini sudah pukul sembilan malam waktu ibu kota dan sekitarnya. Saat ini juga aku baru sampai di depan rumah kontrakanku. Tampak pria di sampingku segera keluar dari mobilnya lalu mengajak ku. Aku pun keluar dari mobil lalu bergegas menuju lantai dua kontrakanku. Namun, saat itu juga Vi tidak tinggal diam. Dia malah ikut melangkahkan kaki bersamaku menuju lantai dua rumah kontrakan ini.
"Em, Pak." Aku pun memberhentikan langkah kaki ini. "Sampai di sini saja. Tidak perlu mengantarkanku sampai ke depan pintu," kataku, saat berhenti di anak tangga bersamanya.
Vi diam. Dia tidak berkata apa-apa. Lantas aku pun kembali melangkahkan kaki menuju pintu rumah kontrakanku. Tapi saat itu juga kusadari jika dia mengikutiku. Ia masih mengikutiku sampai ke depan pintu rumah kontrakanku.
Astaga! Sebenarnya apa yang dia inginkan?
Dia pun masih membawa bag lingeri itu. Hingga akhirnya aku menjadi risih sendiri lalu berbalik ke arahnya, mengucapkan terima kasih agar dia tidak ikut lagi. Aku pun mengambil kunci kontrakanku lalu lekas membuka pintu. Berniat untuk segera menutupnya dari dalam. Tapi, saat itu juga...
Di-dia?!
Vi menahan pintu yang akan kututup dari dalam. Sontak aku terperangah melihatnya.
"Tidak memperbolehkanku masuk?" tanyanya.
Eh?! Aku pun tak mengerti apa maksudnya. "Em, Pak. Sudah malam. Tidak enak dilihat tetangga." Aku pun beralasan padanya.
Dia menatapku tajam, tepat di mata. Seolah tidak menerima penolakan dariku. Tangan kirinya itu masih menahan daun pintu. Sedang tangan kanannya menahan di sisi lain.
Dia menggelengkan kepalanya, tidak terima. "Kau punya utang padaku, Saras. Aku ingin menagihnya," katanya.
"Ap-apa?!" Sontak aku jadi gugup seketika.
"Kau ingat hari di mana kita pulang dari supermarket itu?" tanyanya lagi. Saat itu juga aku teringat dengan perkataanku sendiri...
Dia tersenyum-senyum sendiri di hadapanku. "Apakah kalau sudah mempunyai pekerjaan kita bisa langsung menikah?" tanyanya yang seperti menantangku.
Aku pun merasa tertantang olehnya. "Langsung punya anak juga bisa," jawabku.
Dia membelalakkan matanya dengan begitu bahagia. Mulutnya pun sampai terbuka lebar di hadapanku.
.........
"Em, anu ...." Aku pun seperti tidak bisa berkata apa-apa padanya.
Dia menaikkan satu alisnya di hadapanku. "Kau punya banyak utang padaku, Saras." Dia mencoba menerobos masuk ke dalam kontrakanku.
"Tu-tunggu dulu." Aku pun berusaha menahannya.
Dia diam di tempat, memerhatikanku. Saat itu juga kuputar otak dengan cepat agar bisa membuatnya pergi dari sini.
"Aku akan membayar semua utang-utangku, Pak. Utang uang. Ya, uang lima juta itu akan kukembalikan," kataku dengan tergesa-gesa.
Dia tersenyum sinis di hadapanku. "Kau pikir aku ingin uang?" tanyanya. "Tidak, Saras." Dia menggelengkan kepalanya. "Yang aku inginkan tubuhmu. Not money, but you're body."
Dia pun menerobos masuk ke dalam rumahku. Sontak aku memundurkan langkah kaki ini ke belakang dengan tubuh yang gemetar. Setelah itu dia menutup pintu rumahku. Menguncinya dari dalam lalu melempar jas ke lantai. Dia juga melonggarkan dasinya di hadapanku. Entah mengapa aku serasa ingin diterkamnya. Vi yang sekarang sangat berbeda dengan Vi yang dulu. Dia kini bak pejantan yang siap untuk mengawini betinanya. Lalu jika sudah begini, aku harus bagaimana?
.........
...Tamat...