
"Em, Saras. Kau terlalu banyak berhayal. Sudahi hayalanmu dan lihat ke depan saja." Dia berkata seperti itu padaku.
Aku menatapnya. "Benar, kah? Kalau begitu mari berhayal bersama," kataku seraya tersenyum semringah padanya.
"Uhuk! Uhuk!"
Tiba-tiba kudengar Pak Supir terbatuk-batuk. Sepertinya dia keselak udaranya sendiri. Aku pun langsung menjauhkan diri dari Vi. Dan kulihat Vi seperti menyesali kejadian ini. Dia seperti tidak rela aku menjauh darinya.
Vi, bagaimana jika aku jatuh hati padamu?
Pada akhirnya aku pun diam di dalam mobil sambil menunggu sampai di tujuan. Sebuah gedung besar akan menjadi saksi pesta pernikahan adik tingkatku dulu. Dan ya, tentu saja pesta pernikahan ini akan menjadi saksi kedekatanku dan Vi. Aku akan mencoba lebih dekat dengannya walau hubungan kami masih berstatus pura-pura. Semoga saja dia juga tidak keberatan jika aku manja. Aku ingin lebih dekat dengannya.
Sesampainya di acara pesta...
Pesta pernikahan ini begitu berkelas. Dekorasinya terlihat mewah dan juga elegan. Biaya yang dikeluarkan juga pasti sangat mahal. Sampai-sampai aku tidak bisa memperkirakan. Hiasan lampu kristal dan bunga yang beraneka warna sangat banyak terlihat di sini. Bahkan saat masuknya saja kami melewati hamparan bunga mawar yang begitu panjang. Dan ya, sejak keluar dari mobil sampai duduk di dalam ruangan, aku terus menggandeng tangan Vi. Aku tidak mau melepaskannya sedikit saja.
"Elen, gaunmu begitu terbuka. Apakah El tidak risih melihatnya?" tanyaku kepada Elen dengan setengah berbisik. Dia duduk di sebelah kiriku.
Aku, Vi, Elen dan El mengambil meja dengan empat kursi. Kami pun duduk melingkari meja ini yang mana sudah tersedia toples kecil kristal berisi berbagai macam permen. Dan ya, pot bunga mawar kecil juga menjadi penghiasnya. Aku pun memerhatikan sekelilingku yang dihias sama. Dan tak berapa lama aku juga melihat Ana yang duduk di ujung sana.
"Eh? Serius?!" Aku pun masih berbisik-bisik bersama Elen. Sedang Vi dan El fokus ke acara yang segera akan dimulai.
Elen mengangguk. "Dia perkasa di atas ranjang. Dia idaman para wanita." Elen pun membisikkan hal itu padaku.
Saat mendengarnya, saat itu juga kutelan ludahku. Ternyata Elen dan El benar-benar mencari kesenangan bersama. Tak kusangka temanku sudah segila ini sejak mempunyai pacar dari situs ilegal. Apakah dia tidak takut jika nanti perjanjian telah usai? Aku sih tidak sanggup membayangkannya.
"Selamat malam, Hadirin."
Tak lama seorang pria tua membuka acara ini. Aku pun mulai fokus mendengarkannya sambil sesekali melirik ke arah El. Dan ya, El pun melihatku. Tatapan matanya sungguh sangat berbeda sekali. Apakah dia seorang buaya yang sedang mencari mangsa baru? Aku harap ini hanya sebatas pemikiranku.
Satu jam kemudian...
Tahapan demi tahapan acara telah dilaksanakan. Dan kini kami pun dipersilakan untuk mencicipi hidangan yang telah disediakan. Aku kembali ke meja seusai mendapatkan sepiring nasi berserta lauk pauknya. Dan juga satu cup salad buah yang menggoda selera. Tentunya Vi dapat juga.
"Sayang, tolong tisunya."
Di depan Elen, aku bersikap mesra dengan Vi. Elen pun tampak menahan tawanya melihatku seperti ini. Sedang Vi menurut saja apa yang aku pintakan padanya. Mungkin dia sudah mulai menerima status kami yang pura-pura. Kata sayangku juga diterima baik olehnya. Dan aku rasa apa yang kulakukan tidaklah sia-sia. Aku mulai merasa bahagia.