MY SECRET CEO

MY SECRET CEO
Frustrasi



Dan pada akhirnya kesendirian itu harus kuterima sebagai takdir hidupku. Vi yang menemaniku harus pergi selama-lamanya dari sisiku. Karena rasa gengsi, karena kearogansianku. Aku pun mencoba menerima kenyataan ini. Yang mana aku yang membuatnya sendiri. Aku masuk kembali ke rumah sambil membawa apa yang dia berikan padaku. Dan ternyata dia benar-benar mengembalikan semua uangku.


"Lima juta? Dari mana dia mendapatkan uang sebanyak ini hanya dalam waktu tidak sampai satu malam?"


Aku pun merasa heran dengannya. Tapi hanya sebatas heran yang tidak bisa ditanyakan. Aku mencoba berlapang dada menerima perpisahan kami. Semoga saja akan ada gantinya yang lebih baik lagi.


Satu minggu kemudian...


Malam ini adalah malam ke dua puluh delapan bagiku semenjak kenal dengan Vi. Tapi malam ini juga tepat satu minggu aku sudah tidak bertemu lagi dengannya. Entah sedang apa dia sekarang, tapi yang jelas rasa rindu itu mulai membelengguku. Aku merasa kehilangannya. Dan kini aku duduk sendiri di depan meja makan lesehan ini. Di mana biasanya Vi mengambilkan makan untukku. Tapi kini tidak lagi.


"Sedang apa dia ya?"


Aku kesepian. Ya, mulai merasa kesepian setelah satu minggu tidak bertemu dengannya. Pulang kerja terasa sepi, pergi kerja juga terasa kosong. Sosok pria yang biasanya menghiburku tidak ada lagi. Aku pun mulai merana dibuatnya. Aku ingin meneleponnya sekedar untuk menanyakan kabar. Tapi sungguh rasa malu itu begitu besar. Aku tak kuasa untuk memulai duluan.


"Elen sedang apa ya? Mau tidak berangkat bersamaku besok pagi?"


Saras, kau tidak boleh menyesalinya. Semua sudah terjadi. Toh, belum terjadi apa-apa juga dengan kalian. Bahkan bersentuhan tangan hanya sekali. Lalu apa yang harus kau pusingi?


Begitulah kata hatiku saat dilema merasuk ke pikiranku. Aku pun mencoba menetralkan keadaan dengan menghirup napas dalam-dalam. Sebisa mungkin melupakan Vi dan semua kenangan yang telah tercipta di antara kami. Karena nyatanya kami hanya sebatas pura-pura menjalin hubungan ini. Bukan sungguhan seperti akan naik ke pelaminan. Lalu apa yang harus dipusingkan? Sedang hidup terus berjalan.


Lantas aku pun masuk ke kamar lalu merebahkan diri. Mencoba memejamkan mata agar tidak terlingat Vi lagi. Esok adalah Hari Senin dan aku harus datang pagi. Karena setiap Senin diadakan rapat mingguan oleh manajer kami. Jadi ya sudah, kututup dengan doa malam ini semoga hari esok lebih baik bagi. Ada atau tanpa adanya Vi.


Esok harinya...


Cuaca mendung menyelimuti ibu kota saat hari sudah semakin sore saja. Kulihat jam sudah menunjukkan hampir pukul lima. Hari ini pun kulalui dengan begitu kerasnya. Bolak-balik ke sana dan kemari untuk mendukung hari jadi perusahaan ini. Dan ya, kini tinggal lelahnya saja. Aku baru bisa duduk tenang sambil menunggu waktu pulang tiba.


"Ras, mau hujan. Ikut aku saja ya pulangnya. Kebetulan mau mampir ke rumah saudara di dekat sana." Stefany datang sambil membawa kopi latenya.