MY SECRET CEO

MY SECRET CEO
Lembur



Saat itu juga dia terdiam dan menghentikan pewarnaan desainnya. "Kau ingin kita berciuman?" tanyanya dengan raut wajah menduga sekaligus harap-harap cemas.


Aku melipat kedua tangan di dada. "Di perjanjian mengatakan pihak pembeli bisa meminta pria sewaannya melakukan apa saja. Apa kau keberatan jika aku menginginkannya?" tanyaku, memancingnya.


Vi menelan ludahnya. "Kau yakin? Kita baru saja kenal?" Entah mengapa keringat dingin itu kulihat mulai bermunculan dari keningnya.


Aku semakin menjadi-jadi. Kudekatkan diri ini kepadanya. Aku duduk di sampingnya dengan lengan yang bersentuhan di atas meja. Aku pun menatapnya dengan jarak pandang yang dekat sekali. Seperti ingin menciumnya. Saat itu juga kulihat jarinya gemetaran di atas keyboard laptopku.


Apa benar dia pria yang polos? Lalu kenapa nekat menjual diri di situs yang bisa meminta dia melakukan apa saja?


Lantas kudekatkan wajahku ini ke wajahnya. Aku memerhatikannya dari dekat. Kedua mata Vi pun terbuka lebar melihatku. Namun, saat ujung hidung itu hampir bersentuhan, aku berhenti. Aku tidak jadi mendekatkan wajahku lagi ke wajahnya. Aku pun tersenyum melihatnya.


"Kau harus siap jika suatu saat nanti aku meminta hal itu kepadamu," kataku yang membuat Vi terlihat kaku.


Dia menelan ludahnya. "Aku harap kau tidak akan menyesal." Dia berkata padaku.


Aku mengembuskan napas lalu berdiri dari sampingnya. "Kita lihat saja nanti."


Aku pun masuk ke kamarku, meninggalkannya yang masih sibuk membantu mewarnai pamflet punyaku. Entah apa yang ada di pikirannya, sepertinya aku mulai suka mencandainya. Wajahnya terlihat polos sekali. Entah jika suatu saat nanti. Apakah dia masih mampu memasang wajah polos di depanku?


Menyambut hari ulang tahun perusahaan, tim promosi lembur di kantor. Kami berlima sibuk melakukan persiapan acara dan juga mengajukan sponsor ke banyak merek ternama. Ini sudah menjadi tugas kami untuk melakukannya. Dan ya, aku juga ikut serta. Apalagi aku angkatan terlama di bagian promosi. Katakanlah jika aku mengetuai promosi acara ini.


Kini jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Pekerjaan kami juga belum selesai. Dan akhirnya rintik-rintik hujan itu mulai turun membasahi bumi. Membuatku merasa nyaman dan ingin segera tidur. Maklum, seharian ini aku bekerja penuh waktu dari sembilan pagi sampai delapan malam. Perutku juga mulai keroncongan karena belum makan.


"Kak Saras, rasanya kita bisa meminta sponsor dari banyak merek kosmetik. Mereka membayar V dan kita mempromosikan produk mereka di laman depan aplikasi. Bukankah itu bentuk kerja sama yang menguntungkan?" Nia, junior marketing mengajukan saran padaku.


"V?" tanyaku.


"Ya." Dia menjawabnya dengan yakin.


Entah mengapa saat mendengar kata V, saat itu juga aku teringat dengan seorang pria yang sudah hampir seminggu ini menemaniku. Dia begitu rajin dan juga peduli padaku. Dia tak segan mengajak ku bercanda dan membuatku tertawa. Dia memang sedikit berbeda dari yang lainnya. Tapi di sisi lain aku juga merasa kasihan padanya. Bisa-bisanya pria setampan dirinya menjual diri di situs itu.


Sedang apa dia sekarang? Sayang dia tidak mempunyai ponsel pintar. Jadi aku tidak bisa melihat statusnya.


Vi datang ke rumahku dengan membawa satu koper besar dan juga ponsel selular biasa. Dia tidak mempunyai smartphone seperti kebanyakan orang. Dia bilang tidak terlalu membutuhkannya. Karena yang dia perlukan hanya untuk memberi dan menanyakan kabar. Selebihnya tidak diperlukannya.