
"Eh, Saras?!"
Tiba-tiba kudengar suara seseorang yang menyebut namaku. Aku pun menoleh, melihat siapa gerangan yang memanggil namaku. Dan ternyata...
"Ana?"
Aku melihat Ana, teman sekantorku yang datang ke meja ini. Dan kulihat dia menggandeng mesra seorang pria. Entah siapa, aku juga tidak mau memedulikannya.
"Sama siapa Ras ke sini? Jangan bilang sendiri." Dia pun memerhatikan siapa saja yang ada di dekatku.
Dia mulai lagi.
Aku tahu jika Ana hanya ingin mengejekku. Lantas aku pun tidak mau kalah dengannya. Aku segera memperkenalkan Vi padanya.
"Sayang, kenalkan ini Ana. Dia teman sekantorku." Aku pun berbicara pada Vi sambil mengajaknya berdiri.
Vi menurut. Dia berdiri di sampingku lalu berkenalan dengan Ana. Sontak Ana pun terkejut melihat Vi. Dia membelalakkan matanya saat melihat pacar sewaku ini. Vi pun tampak mengerti apa yang harus dilakukannya.
"Ini bener pacar lo, Ras?" Ana tak menyangka.
Vi menjulurkan tangannya ke Ana. "Aku Vi. Pacar Saras. Kami berniat segera menikah tahun ini."
Tanpa basa-basi Vi berkata seperti itu yang mana membuat Elen terbatuk-batuk sendiri. Ia tersedak salad buahnya sendiri. Sedang Ana tampak tak percaya.
"Uhuk! Uhuk!"
Elen seperti tidak sanggup mendengar perkataan Vi yang seberani itu. Aku pun tersenyum bahagia lalu menggandeng tangan Vi. Vi juga menggandeng pinggulku.
Saat itu juga aku melihat tangannya yang melingkar di pinggulku ini. Rasanya sungguh berbeda sekali. Kami benar-benar seperti kekasih sungguhan. Kuakui jika dia memang jago berakting.
Ana menelan ludahnya. Dia seperti masih berpikir bagaimana cara untuk mengejekku kembali. "Oh, begitu. Memangnya kerja apa, Mas Vi?" tanya Ana sambil memerhatikan Vi dari atas sampai bawah.
Vi tersenyum. Sepertinya dia juga tidak suka pada Ana. "Aku CEO salah satu perusahaan yang ada di ibu kota ini. Doakan kami segera menikah." Vi berkata kepada Ana. Sontak Ana pun seperti minder sendiri.
"Ras, gue duluan!" Dia kemudian pergi dari hadapan kami dengan tanpa menggandeng pacarnya. Mungkin dia malu atas pengakuan Vi.
Hihihi, pria sewaanku ini ternyata benar-benar seorang penghayal yang luar biasa. Dia sampai mengaku sebagai CEO di salah satu perusahaan ibu kota.
Tak tahu mengapa aku ingin tertawa saat ini. Satu orang sudah kubereskan dan kupatahkan pikirannya hanya dalam waktu dua minggu saja. Dan kini aku merasa senang sekali. Tinggal mengajak Vi pulang ke kampung halaman lalu memperkenalkannya kepada keluarga. Kurasa tidak akan ada pertanyaan kapan kawin lagi. Karena aku sudah mempunyai pasangan sekarang.
Baiklah. Selanjutnya.
Suatu kemajuan akhirnya kudapatkan di minggu ke dua perjanjianku bersama Vi. Semoga saja untuk ke depannya ada jalan-jalan baik untuk kami. Aku sendiri tidak mempermasalahkan dia mau mengaku bekerja sebagai apa di hadapan orang-orang. Karena kontrak kami hanya enam bulan. Setelah kontrak habis aku bisa bilang ke orang-orang jika kami memang belum berjodoh. Jadi gampang bukan mengelabui orang?
Sepulangnya dari pesta...
Pukul sembilan malam aku tiba di rumah seusai mengikuti acara pesta yang meriah. Ternyata tidak ada pesta dansa di sana. Dan kini aku sedang duduk di kursi tamu sambil menyandarkan punggung dan merelaksasikan pikiran. Vi juga mengambilkan air minum untukku. Dia kemudian duduk di sampingku.
Vi menelan ludahnya saat dia melihat belahan gaunku. "Saras, minumlah." Dia pun memintaku untuk minum.
"Ambilkan, Sayang." Aku pun masih memanggilnya dengan sebutan sayang.