
Dia memiringkan kepalanya lagi untuk melihatku. "Siapa bos di sini?" tanyanya dengan raut wajah yang amat menjengkelkan."
"Bapak," jawabku.
Dia membentuk garis bibir seperti pelangi. "Jadi bukankah terserah aku mau bicara apa?" Dia menunjukkan sisi arogannya padaku.
"Iya, Pak. Benar." Aku pun mengangguk saja di hadapannya agar pembahasan ini cepat selesai.
"Begini, Saras." Dia kemudian menegakkan tubuhnya kembali. "Aku punya pekerjaan untukmu. Dan kau harus menyelesaikannya hari ini juga. Tak banyak, hanya beberapa lembar saja yang harus kau ketik. Ada sepuluh nama perusahaan yang ingin memasang iklan di aplikasi perusahaan. Bisakah buatkan nota kesepahaman beserta administrasi penagihan?" tanyanya padaku.
Eh, kenapa malah aku? Bukannya itu tugas admin perusahaan?
Aku pun tak mengerti mengapa bos baru kami memberiku pekerjaan yang di luar ranahku. Aku jadi ingin menolaknya segera. Tapi saat itu juga kusadar sedang berhadapan dengan siapa. Bisa-bisa surat pemecatan itu malah harus kutandatangani karena menolak tugas yang diberikan.
"Em, baik, Pak."
Lantas kuterima saja tugas darinya. Dengan amat terpaksa, dengan amat penuh penyesalan. Aku menyesal kenapa hari ini tidak masuk kerja saja. Jika izin sakit pastinya tidak akan mendapat tugas seperti ini. Tapi kembali lagi, nasi sudah menjadi bubur. Tinggal mencari bawang dan kerupuknya saja untuk menambah rasa. Jadi ya sudah, kuterima tugas darinya.
"Bagus. Itu yang kuharapkan. Jadi lekas kerjakan!" serunya lalu tersenyum padaku.
Beberapa jam kemudian...
Lelah. Itulah yang kurasakan saat pekerjaan yang diberikan bos baruku ditunggu. Sepuluh data perusahaan harus selesai kubuat beserta nota kesepahaman dan juga surat piutang. Padahal ini adalah tugas admin perusahaan untuk membuatnya. Tapi malah aku yang disuruh olehnya. Mau tak mau aku pun melakukannya.
Jika dilihat dari parasnya, alisnya, senyumnya, aku yakin benar jika pria yang di dalam ruangan bos itu adalah Vi. Tinggi badannya, postur tubuhnya juga sangat mirip sekali. Tapi ini hanya sebatas spekulasi. Aku belum berani menyatakan jika itu memang benar adalah Vi. Karena aku takut salah orang. Terlebih kata Stefany dia seperti cabe rawit. Jadi lebih baik kupendam saja rasa penasaranku ini. Walau nyatanya aku sangat ingin tahu tentangnya.
Kini jam di dinding ruangan sudah menunjukkan pukul dua siang. Aku pun belum makan siang sedari tadi karena pekerjaan ditunggu olehnya di ruangan. Kulihat keadaan kantor juga sudah mulai kembali disibukkan dengan aktivitas dan rutinitas keseharian. Sedang aku mendapat pekerjaan tambahan dengan penuh kekhawatiran. Aku khawatir ini hanya akal-akalannya saja untuk memecatku. Sekali buat kesalahan, dilemparkannya keluar.
"Ras, ada telepon untukmu." Stefany pun memberikan telepon kantor kepadaku.
Aku mengangguk lalu menunda sebentar pekerjaanku. Aku melangkah sedikit ke sebelah Stefany untuk menerima telepon yang entah dari siapa itu. Aku pun menyapa seseorang di seberang sana.
"Halo?" kataku.
"Belum makan siang? Masuk ke ruanganku sekarang," pinta seseorang dari seberang telepon yang kutahu benar suara siapa itu.
Vi??? Jadi benar?!