MY SECRET CEO

MY SECRET CEO
Tersudut



"Ak-aku ... aku tidak tahu, Pak." Dan akhirnya aku menjawab seperti itu saja.


"Tidak tahu? Tapi waktu itu aku melihat celana rendamu." Dia mengingatkanku pada sesuatu.


Di-dia?!


Sontak aku terkejut. Aku pun menoleh cepat ke arahnya. Saat itu juga ujung hidung kami hampir bersentuhan. Jarak kami begitu dekat sekali. Mungkin sesenti pun tak ada. Hingga akhirnya aku menyadari jika dia memang benar adalah Vi.


"Vi? Kau???" Aku pun bertanya-tanya dengan rasa penasaran yang begitu besar.


Dia tersenyum padaku. Senyum menyeringai, penuh kemenangan. "Saras, aku datang ingin meminta pertanggungjawabanmu," katanya yang membuat jantungku ini tersentak hebat.


Saat itu juga aku takut. Saat itu juga aku panik. Kata-katanya seolah ingin menuntut lebih dariku. Ternyata benar dia adalah Vi, mantan pacar sewaanku dulu. Aku pun menelan ludah ini di depannya. Berulang kali sampai laju napasku normal kembali.


"Vi." Aku seolah tidak bisa berkata apa-apa.


"Cepat pilih lingeri mana yang kau suka," katanya yang membuat pikiranku ke mana-mana.


Buat apa dia memintaku memilih lingeri? Apakah ... apakah dia menginginkan tubuhku???


Aku adalah wanita dewasa. Sedikit saja berkata, sudah mengerti maksudnya. Dan kini dia memintaku untuk memilih lingeri. Dia juga bilang ingin meminta pertanggungjawaban dariku. Sungguh aku tak bisa berpikir lagi. Aku seperti terjebak dalam perangkapnya. Aku tak bisa lari selain menuruti keinginannya.


Ya Tuhan, ternyata benar dia adalah Vi.


Pada akhirnya dia memintaku untuk memilih lingeri yang sesuai dengan seleraku. Aku pun memilihnya dengan amat terpaksa. Dia kemudian menelepon penjual lingeri itu. Dia minta diantarkan segera. Tak tahu apa yang akan terjadi nantinya, aku pasrah saja. Aku terjebak ke dalam perangkapnya.


...... ...


...Vi...



...... ...


Lelah, itulah yang kurasakan saat ini. Aku tidak punya persiapan sebelumnya untuk lembur hari ini. Tapi nyatanya sampai sekarang pun belum tiba di rumahku. Aku masih mampir di warung lele terbang yang ada di kota ini. Dan ya, aku menemani Vi makan malam. Tanpa bisa menolak, tanpa bisa beralasan. Sungguh tak kusangka akan begini jadinya.


Ternyata benar pria yang ada di hadapanku ini adalah Vi. Tapi Vi kali ini sangat berbeda dengan Vi yang kukenal dulu. Vi yang dulu bisa dibilang pria pemalu dan bisa menjaga sikapnya. Tapi Vi yang sekarang tanpa ragu menunjukkan sikap agresifnya kepadaku. Aku jadi heran, apakah bisa dua kepribadian dalam satu badan? Atau lagi-lagi dia sedang bersandiwara di depanku?


"Pesan dua untuk dibawa pulang,"


katanya kepada pelayan rumah makan.


"Baik, Mas." Pelayan yang mengantarkan minuman ke kami pun mencatatnya.


Aku memerhatikannya yang lahap menyantap hidangan lele terbang ini. Dia bahkan memesan dua untuk dibawa pulang. Mungkinkah dia kelaparan atau sedang menunjukkan sisi lain dirinya padaku? Entahlah. Hal itu hanya dia yang tahu.


Untung dia tampan.


Tak berapa lama kudengar dering ponselnya bergetar. Tapi dia tampak tak senang saat mendengar ada suara telepon masuk itu. Lantas dia pun memintaku untuk mengambilkan ponselnya.


"Saras, tolong ambilkan ponselku."


"Apa?!" Aku pun terkejut seketika.


"Di saku celana. Cepat! Aku sedang makan!" Dia memerintahku.


"Ba-baik."


Dan pada akhirnya aku pun menurut padanya. Duduk di dekatnya lalu merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya itu.


"Jangan salah sentuh, Saras. Nanti gajimu kupotong setengah." Dia pun mengancamku.