
Aku mengangguk, tapi hanya sekedar mengangguk, tidak langsung mandi. Aku malah duduk di sofa TV sambil mencari chanel yang bagus hari ini.
Wah, ada drama Korea?!
Aku pun langsung melihat kapan jam tayangnya. Ternyata saat tayang aku masih belum pulang dari kantor.
Sudahlah yang lain.
Aku pun mencari chanel lain hingga berhenti di permainan tebak harga barang. Aku menontonnya sambil menunggu Vi selesai menjemur pakaian.
"Akhirnya selesai juga." Tak berapa lama kulihat Vi masuk ke rumah sambil membawa bak besar berisi cucian kami tadi. "Kau tidak mandi? Aku mau mandi, Saras," katanya.
"Mandi duluan saja. Aku masih sedikit mengantuk," kataku.
Dia mengangguk tanpa bicara apapun. Dia kemudian lekas ke kamar mandi untuk menyegarkan diri. Sedang aku memerhatikannya yang masuk ke kamar mandi. Dan entah mengapa niatan buruk itu muncul di pikiranku.
Dia begitu tampan. Bagaimana tubuhnya? Apakah sempurna?
Aku pun berniat untuk mengintipnya mandi. Lantas saja aku beranjak bangun saat mendengar shower air dihidupkan. Pelan-pelan melangkahkan kaki ini menuju pintu kamar mandi.
Vi, maaf. Aku hanya ingin tahu.
Kamar mandi kontrakan ini bersebelahan dengan kamar tidurku. Yang mana di depan kamar mandinya ada dapur mini beserta perabotannya. Sedang di depan kamarku langsung meja makan yang berbentuk lesehan dan sofa TV. Ruangan di kontrakan ini tidak ada sekatnya. Hanya kamar mandi dan kamar tidur saja yang tertutup sempurna. Sedang yang lain dibiarkan terbuka atau open space.
Kupegang gagang pintu pelan-pelan lalu mencoba membukanya. Dan ternyata...
Astaga?! Dia tidak mengunci pintu kamar mandinya?!
Apa dia sengaja membiarkan aku mengintipnya?
Aku pun mulai berprasangka yang tidak-tidak. Tapi saat itu juga, sebuah dering ponsel terdengar di telingaku. Aku pun tak jadi membuka pintunya melainkan segera ke kamarku. Aku mengambil ponsel di kamar untuk melihat siapa gerangan yang menelepon. Dan ternyata...
"Elen?" Elen lah yang meneleponku. "Halo?" Aku pun segera menjawab teleponnya. Saat itu juga dia mengabarkan sesuatu padaku.
Sabtu pukul setengah sepuluh pagi...
Elen datang ke rumah untuk menanyakan kesiapanku ke acara pesta. Ternyata dia juga diundang oleh adik tingkatku. Dan tentu saja aku jadi punya teman untuk datang ke sana. Dan kini aku sedang mengobrol bersama Elen di depan meja makan lesehan. Sedang Vi...
Dia betah juga ngobrol bersama El di luar?
Kulihat Vi bercengkrama dengan teman seprofesinya di luar. Elen datang bersama El ke kontrakan. Dan tentu saja ini adalah pertama kalinya aku melihat El secara langsung. Dan badannya begitu tegap sekali. Lebih berisi dibanding Vi. Tapi walaupun begitu aku tidak boleh sampai tergoda. Karena El adalah pacar sewaan Elen. Cukup aku hanya menyukai Vi saja.
"Jadi kau berniat untuk menyewa mobil ke sana?" tanyaku.
"He-em." Elen mengangguk. "Acaranya jam tujuh malam. Kita bisa berdandan dari sekarang. Kebetulan aku punya kenalan salon yang bisa menyewakan pakaian pesta pria dan wanita. Kau berminat?" tanya Elen padaku.
"Lalu bagaimana dengan mobilnya?" Aku masih bertanya.
"Itu mudah. Kita bisa menyewa mobil untuk ke sana. Asal siap sumbangan saja," tutur Elen lagi.
Aku sedikit pesimis mendengar hal ini. "Jika kita menyewa mobil, itu berarti kita menyewa supirnya juga?" tanyaku pada Elen.