
"Suamimu menjemput?" tanyaku sambil merenggangkan tangan ke atas.
"He-em. Dari pada naik bis turun di depan gang. Lumayan jauh, bukan?" Stefany berniat memberi tumpangan padaku.
"Oke deh. Kalau begitu aku menebeng pulang ya," kataku.
"Tenang saja." Stefany meneguk kopi latenya. "Besok juga kalau mau dijemput, tak apa. Udah tahu kan jika besok ada pergantian jabatan." Stefany memberi tahuku.
"Pergantian jabatan?" Aku pun bingung sendiri.
"Hahaha." Stefany tertawa lalu menaruh gelas kopinya ke meja. "Kau terlalu sibuk semingguan ini sampai tidak mendengar kabar terkini." Stefany meledekku.
"Hah ... ya mau bagaimana lagi. Sudah menjadi tugasku sebagai karyawan tertua di divisi kami." Aku mengatakannya dengan pasrah.
Stefany tersenyum simpul di sampingku. "Kau tahu, katanya juga akan ada kenaikan jabatan untuk karyawan lama. Kudengar bos baru kita itu masih sangat muda. Mungkin baru-baru lulus kuliah." Stefany menceritakannya.
"Hah??? Yang benar saja? Memangnya siapa?" tanyaku lagi.
"Aku tidak tahu siapa namanya. Tapi dia dari luar negeri. Dia anak pemilik perusahaan ini. Di pusat ayah ibunya yang memegang. Sedang di cabang dia yang akan mengambil alih. Benar-benar keluarga yang luar biasa, bukan?" Stefany membicarakan calon bos baru kami.
Aku mengangguk-angguk, tidak tahu harus menanggapi apa. Tapi jika bos baru kami baru lulus kuliah, lalu kami harus memanggilnya apa? Pak? Terlalu tua. Dek? Tidak mungkin. Kak? Tidak cocok. Lalu panggilan apa yang cocok untuknya?
"Ras."
"Dia juga masih single," kata Stefany lagi.
Aku menjauhkan diri darinya sambil melipat kedua tangan di dada. "Kenapa temanku jadi tukang gosip seperti ini ya? Ada apa sebenarnya?" Aku pun mulai curiga. Tidak biasanya Stefany membicarakan status hubungan orang lain.
"Hahaha." Dia tertawa lagi. "Tidak. Tidak ada apa-apa. Aku hanya senang karena kau sudah mempunyai pasangan. Jadi sepertinya tidak akan tergoda dengan bos kita yang lebih muda." Dia seperti meledek ku. "Ras, cepatlah menikah. Aku menantikan keponakan baru darimu." Stefany berkata padaku dengan senyum ceria dan kegembiraan yang tersirat dari wajahnya.
Entah mengapa saat mendengarnya, saat itu juga aku merasa sedih. Hatiku ini seperti tersayat-sayat sendiri. Kuakui kehadiran Vi di pesta adik tingkatku waktu itu dilihat oleh Ana, teman kantorku. Dan tentu saja Ana sudah menceritakannya ke mana-mana jika aku telah mempunyai pasangan. Tapi kini hal itu menjadi isapan jempol semata. Karena nyatanya aku hanya sendiri. Tanpa Vi, tanpa ada yang menemani.
"Baiklah. Kalau besok boleh nebeng, aku juga mau."
Pada akhirnya aku mengalihkan kesedihan ini dengan mengiyakan tawaran Stefany. Aku akan berangkat bersamanya esok pagi. Dan sore ini juga akan diantar olehnya. Semoga saja sampai di kontrakan belum hujan. Karena awan mendung sudah banyak berkeliaran.
Sesampainya di rumah, sepulang dari kantor...
Aku diantar Stefany pulang dengan menaiki mobil suaminya. Dan kini baru sampai di kontrakan sambil melambaikan tangan ke arahnya yang melaju pulang. Aku berterima kasih karena telah diantarkannya petang ini.
"Hati-hati, Stef! Terima kasih, ya!"
Aku pun berteduh sebentar di kontrakan bawah sambil melihatnya melaju pergi. Dan untungnya saja aku tidak sampai kehujanan. Hanya terkena rerintikannya. Lekas saja aku menaiki anak tangga untuk sampai di kontrakanku yang berada di lantai dua. Namun, sesampainya di sana kulihat payung berwarna kuning itu tergantung di depan pintu. Saat itu juga bayang-bayang Vi kembali terlintas di benakku.
Vi ....