MY SECRET CEO

MY SECRET CEO
Menyelidik



Aku terkejut melihat penampakan dalam rumahku sendiri. Bersih dan juga harum sekali. Aku tak menyangka jika dia yang membersihkan semuanya.


"Aku sudah masak. Kau mau makan?" Dia pun mendatangiku yang terdiam membisu di depan kamar.


"He-em."


Dan aku hanya bisa mengangguk sambil melongok tak jelas. Dia pun tersenyum padaku lalu segera ke dapur. Dia menyiapkan makan untukku. Saat itu juga aku membalikkan badan, masuk kembali ke kamar. Aku pun kegirangan karena ternyata pacar sewaanku begitu memuaskan. Aku benar-benar diperlakukan seperti ratu olehnya. Dan sepertinya tidak rugi juga untuk menyicilnya setiap bulan. Setidaknya pekerjaanku lebih terasa ringan dan aku ada yang memerhatikan.


Ah ... andai bisa terus seperti ini ....


Aku pun tersenyum-senyum sendiri. Namun, Vi mengetuk pintu kamarku, menyadarkanku jika makanan sudah disiapkan. Aku pun kembali ke wujud semula yang arogan. Aku harus menjaga image sebagai atasan. Jadi ya sudah, mari kita segera makan.


Malam minggu pertama...


Pacar sewaanku ini ternyata seorang pria yang jenaka. Dia bisa merubah roman wajah hanya dalam waktu beberapa detik saja. Dan aku hampir-hampir tertawa karenanya. Mungkin jika bukan pemiliknya, aku sudah tertawa terbahak-bahak di depannya. Tapi kembali lagi, kami baru saja berkenalan sehingga image itu harus tetap terjaga.


Kini Vi membantuku membuatkan pamflet promosi untuk menyambut anniversary perusahaan yang ke-9. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat sehingga sudah sembilan tahun perusahaan ini berdiri. Dan kulihat Vi begitu cekatan mengerjakannya. Dia membuat desain yang bagus sekali. Kami duduk di depan meja makan yang seperti orang Jepang ini. Lesehan dan hanya beralas karpet saja.


"Nama aslimu memang Vi?" tanyaku, membuka pembicaraan sambil melihatnya mewarnai desain yang telah jadi di laptopku.


"Bukan. Nama asliku Kimochi," katanya.


"Hah???" Aku pun tak percaya, terbelalak melihatnya.


Dia tertawa. "Bukankah cukup tahu sebatas yang ada di perjanjian saja?" Dia malah balik bertanya padaku.


"Kau pintar membuat desain gambar. Sepertinya bukan berasal dari keluarga yang kekurangan. Apa kau sedang menyamar di situs itu?" tanyaku lagi.


Vi melirik ke arahku. Terdiam sejenak lalu tersenyum. "Saras, kau ingin tahu tentangku?" Dia balik bertanya padaku.


Aku mengangguk. "Sejujurnya iya. Karena Elen mendapatkan pacar yang di luar ekspektasinya dari situs itu," kataku.


"Lalu kau ingin pria yang bagaimana? Aku akan memenuhinya. Lagipula ini pertama kalinya aku menjual diri di situs itu." Dia mengatakannya padaku.


"Apa kau mengalami kesulitan keuangan?" Aku pun ingin tahu.


Dia merapatkan bibirnya, seperti berpikir sejenak atas pertanyaanku ini. Mungkin dia merasa bingung harus menjawab apa.


"Em ... tidak juga. Mungkin hanya sekedar coba-coba," jawabnya ragu.


Coba-coba???


Aku pun jadi berpikir dengan jawaban itu. Bisa saja dia adalah pria kaya yang gabut seperti pacar Elen. Lalu menjual dirinya di situs itu untuk mencari kesenangan. Tapi kalau dilihat-lihat dari paras wajahnya, Vi seperti jujur padaku. Dia masih terlihat polos dan belum pernah tersentuh sama sekali. Lantas aku pun ingin mengujinya.


"Vi."


"Ya?"


"Kau pernah berciuman?" selidikku ingin tahu.