
"Baiklah. Nanti kita ajukan ke beberapa perusahaan kosmetik. Buat saja isi suratnya lebih dulu. Besok pagi taruh di depan mejaku." Aku berpesan kepada juniorku.
Di perusahaan ini senioritas dan junioritas masih dijunjung tinggi. Tapi bukan untuk berbuat semena-mena terhadap pekerjaan. Melainkan agar ada rasa hormat ke yang lebih tua. Tapi jika dengan teman-teman sebaya atau tidak berbeda jauh masuk kerjanya, kadang ada saja yang semena-mena berkata. Ya, contohnya saja Ana yang kemarin meledekku karena belum mempunyai pasangan. Tapi kini hal itu tidak bisa lagi dia lakukan. Karena aku sudah mempunyai gandengan.
"Eh, ada telepon?!"
Di tengah lembur ini tiba-tiba ponselku berdering. Kulihat ada telepon masuk dari jaringan biasa. Tidak salah lagi jika Vi lah yang meneleponku. Karena biasanya teman-teman atau keluarga menelepon lewat WA.
"Halo?" Aku pun mengangkat teleponnya.
"Aku sudah di bawah. Aku menjemputmu pulang," katanya.
"Hah?!" Aku pun terbelalak seketika. Segera bangun dari kursi lalu melihat halaman depan kantor dari balik kaca jendela. "Kau di pos satpam?" tanyaku memastikan.
Terdengar rintik hujan dan angin kencang dari sana. "Tidak. Aku tidak berani masuk ke kantormu. Aku menunggu di bawah pohon yang ada di dekat gerbang. Cepatlah. Aku sudah bawakan payung untukmu," katanya lagi.
Saat mendengarnya, saat itu juga entah mengapa hatiku ini terenyuh. Vi menjemputku pulang dan membawakan payung untukku. Dia begitu perhatian padaku. Padahal dia tidak punya kendaraan ataupun mobil untuk menjemputku. Pastinya dia menaiki bis ataupun ojek untuk datang ke sini.
"Baik. Tunggu aku."
"Teman-teman, kita sudahi pekerjaan malam ini. Besok kita lanjutkan lagi. Sudah jam delapan lewat. Baiknya kita segera pulang untuk menjaga kondisi," kataku kepada tim promosi.
"Baik, Kak." Mereka pun segera membereskan peralatan kerjanya. Bersiap-siap untuk pulang ke rumah.
Pukul setengah sembilan malam...
Aku keluar dari kantor bersama teman-teman bagian promosi perusahaan ini. Sebagian mereka ada yang langsung pulang dengan mengendarai motornya. Sedang sebagian lain dijemput oleh pacar atau keluarganya. Aku sendiri berjalan sambil melindungi kepala dari rintik hujan yang turun. Aku pun segera ke depan gerbang untuk menemui Vi di sana. Dan saat sudah sampai aku mencari-cari di mana keberadaannya. Vi pun memanggilku.
"Saras!"
Dia memanggilku. Aku pun menoleh ke belakang lalu membalikkan badan. Dan kulihat dia menurunkan masker yang dipakainya. Dia tersenyum padaku sambil memegangi payungnya. Dan entah mengapa, aku melihatnya bak ditaburi bunga-bunga indah. Vi datang untuk menjemputku di tengah rintik hujan.
Dia mendekatiku. "Kau kebasahan. Kita ke halte bis sekarang." Dia menarik tanganku lalu memayungiku.
Saat tersentuh olehnya, saat itu juga getaran di hatiku muncul ke permukaan. Entah mengapa dia begitu lembut memperlakukanku. Apakah ini memang sifat aslinya atau hanya sekedar bersandiwara untuk memuaskan penyewanya?
Aku juga tidak tahu apa isi hatinya. Tapi yang jelas aku nyaman bersamanya. Aku harap dia seperti ini terus selamanya. Dan semoga saja dia dapat memaklumi tabiatku nantinya. Ya, karena selama beberapa hari ini dia belum melihat sifat asliku. Aku masih menjaga image di depannya.