MY SECRET CEO

MY SECRET CEO
Berangkat



Vi mengangguk. Aku pun beranjak berdiri dari kursi rias. Aku menggandengnya di depan cermin yang ada di kamar ini. Vi pun tampak terkejut dengan sikapku.


"Aku masih serasi denganmu, bukan?" tanyaku sambil berkaca di cermin.


Vi pun memerhatikanku. Entah apa yang ada di pikirannya, aku hanya bisa melihat senyumnya saja. Dia tidak banyak bicara malam ini. Tak berapa lama suara klakson mobil yang menjemput kami pun tiba.


"Vi, itu dia. Ayo!" Aku pun mengajak Vi untuk keluar kamar segera.


Dia mengangguk kembali. Kami pun berjalan bersama keluar kontrakan dengan tanpa lupa mengunci pintunya. Kami siap berangkat ke acara pesta.


"Nanti mesra, ya," pintaku pada Vi.


Dia mengangguk sambil melihatku mengunci pintu.


"Di sana ada orang yang sering mengejekku karena belum mempunyai pasangan. Jadi kau harus membantuku untuk mematahkan pikirannya. Ayo kita pergi, Sayang."


Aku pun memanggilnya dengan kata sayang saat sudah mengunci pintu. Kulihat Vi juga terkejut dengan panggilan sayangku ini. Tapi segera kugandeng saja tangannya untuk turun tangga bersama. Dan ya, malam ini akan menjadi milik kami berdua. Tentunya sebagai sepasang kekasih. Tapi bukan sungguhan, melainkan hanya sewaan. Semoga saja semesta merestui kebohongan ini.


Di perjalanan...


Saat ini sudah pukul setengah tujuh malam. Aku dan Vi pun masih berada di perjalanan. Kami menyewa mobil beserta supirnya. Yang mana pulang nanti Pak Supir akan menjemput kembali. Malam ini kuhabiskan uang sekitar lima ratus ribu untuk penampilan kami. Tapi itu belum termasuk amplop yang akan kuberikan ke mempelai. Biaya hidup memang benar-benar mahal.


"Iya. Aku masih di perjalanan saat ini. Kau sudah sampai?" tanyaku pada Elen lewat jaringan telepon WA.


"Aku juga masih di perjalanan. Tapi mungkin tak lama lagi akan sampai. Aku mengenakan dres hitam bersama El. Aku menunggu di mobil saja ya." Elen memberi tahuku.


"He-em." Aku mengangguk. "Tunggu saja di dalam mobil agar kita masuk bersamaan," kataku pada Elen.


"Oke. Sampai nanti, Saras."


Tak lama sambungan telepon kami pun terputus. Elen menelepon untuk menanyakanku sudah sampai di mana. Dan ternyata dia juga belum sampai ke acara pesta.


"Em, Saras." Pria tampan di samping kiriku ini memanggil.


"Apakah nanti ada pesta dansa?" tanya Vi padaku.


Aku berpikir sejenak. "Hm ... mungkin. Aku juga tidak tahu seperti apa pesta pernikahan adik tingkatku itu," jawabku.


"Jika ada, maukah kau berdansa denganku?" tanya Vi lagi kepadaku.


Eh? Dia bisa berdansa???


Sontak aku pun memikirkan ucapannya. Jika Vi bisa berdansa tentunya dia bukanlah pria sembarangan. Karena setahuku hanya orang-orang tertentu saja yang bisa berdansa dengan sempurna. Kalangan menengah ke bawah mana bisa. Biaya les dansa saja hampir setengah gajiku untuk satu bulannya.


"Vi."


"Ya?"


"Aku rasa kau itu multi talenta," kataku.


"Apa?!" Dia terkejut tapi kemudian tertawa malu di sampingku.


Aku memberanikan diri untuk merebahkan kepala ini di bahunya. "Kau tampan dan serba bisa. Mungkinkah kau itu orang kaya?" tanyaku kepada Vi tanpa menghiraukan Pak Supir yang sedang mengemudikan mobil ini.


Aku mendongakkan kepala untuk melihat wajahnya. Saat itu juga kulihat dia gugup dan menelan ludahnya. Aku jadi curiga. Dari roman wajahnya mengatakan dia itu sebenarnya orang punya. Tapi kenapa sampai menjual dirinya di situs ilegal itu? Apakah dia mata-mata atau seorang agen intelijen yang sedang menyamar?


.........


...Vi...



...Saras...