MY SECRET CEO

MY SECRET CEO
Deg-Degan



Pukul sepuluh pagi waktu ibu kota dan sekitarnya...


Perkenalan bos baru di perusahaan ini benar-benar membuatku spot jantung. Sejak di ruang rapat sampai kembali ke meja, aku masih diam dan tak bicara. Aku syok, benar-benar syok. Sedang Ana terus saja bertanya padaku. Ia seperti pernah melihat bos baru kami. Ya tentu saja iya, karena memang bos baru kami seperti Vi.


"Saras, kau belum juga menjawab pertanyaanku."


Dan tumben-tumbenan dia menyebut aku kamu padaku. Padahal sebelum-belumnya dia menggunakan bahasa gaul untuk berbicara padaku. Apakah karena dia takut setelah melihat Vi?


"Aku tidak tahu, An. Mungkin saja cuma mirip. Bukannya satu orang mempunyai tujuh kembaran yang tersebar di bumi ini?" Aku beralasan saja.


"An, kerja lagi. Jangan nanya terus sama Saras. Saras juga banyak kerjaan." Stefany membelaku.


Ana terdiam. Dia takut pada Stefany karena Stefany adalah orang paling lama di perusahaan ini. Dan akhirnya Ana kembali ke meja kerjanya. Dia tidak lagi menanyai tentang Vi padaku. Sedang aku mencoba merelaksasikan pikiran ini setelah pertemuan yang singkat tadi. Aku tidak tahu harus apa dan bagaimana. Aku hanya menunggu dipanggil saja.


Kini semua karyawan telah kembali ke meja kerjanya. Tapi katanya bos baru akan memanggil semua karyawan lama. Mungkin benar akan naik jabatan. Aku juga tidak tahu bagaimana persisnya. Hanya saja aku deg-degan, takut diinterogasi di dalam ruangan nanti. Mirip seperti penjahat dan pak polisi di film kriminal. Karena aku yakin benar jika itu adalah Vi. Mungkin nama aslinya adalah Vi Hyung. Entahlah. Lebih baik kutunggu giliran saja.


Menjelang makan siang...


Satu per satu karyawan lama menghadap bos baru kami. Dan kini sudah pukul 11.45 saja. Tapi belum juga ada tanda-tanda aku akan dipanggil. Sedang saat ini Stefany yang masuk ke ruangan bos kami. Dia sudah lima belas menit di sana. Tapi entah kenapa belum keluar juga. Apa jangan-jangan tugas baru akan diembannya?


Sungguh semakin mendekati waktu menghadap, semakin berdebar juga jantungku. Setelah Stefany, aku yang akan masuk ke dalam. Itu juga jika dianggap kinerjanya memuaskan. Jika tidak, jangan pernah berharap naik jabatan.


Kudengar suara pintu ruangan bos dibuka. Aku pun menoleh ke belakang dan melihat Stefany yang keluar dari ruangan. Aku pun menantikan kabar apakah akan dipanggil ke dalam atau tidak.


"Hah ...." Stefany terlihat kelelahan sekali.


"Kenapa, Stef? Ada apa?" Aku pun ingin tahu apa saja yang dibicarakan di dalam.


Stefany duduk di kursinya lalu menoleh ke arahku. "Bos kita yang sekarang mulutnya seperti cabe rawit. Berhati-hatilah padanya, Ras." Stefany menceritakan.


Aku menelan ludah, merasa takut duluan karena mendengar ceritanya. "Dia bicara apa saja?" tanyaku dengan tingkat kecemasan yang begitu tinggi.


"Sepertinya akan diadakan rapat lagi. Semua divisi yang berhubungan dengan penulis akan dipanggil," terang Stefany.


"Memangnya?" Aku pun terheran.


"Saras!!!"


Belum sempat Stefany menjawab, tiba-tiba saja manajer berteriak dari depan ruangan bos. Aku pun menelan ludah seketika. Sepertinya sudah tiba giliranku untuk menghadap bos baru.


"Stef, aku ke sana dulu ya. Nanti kita lanjutkan lagi."


Pada akhirnya aku segera berdiri lalu berjalan menuju ruangan bos baru kami. Sungguh rasanya jantungku ini seperti ingin lari. Tak kuat memompa darah yang melaju begitu deras tanpa henti. Dan aku sangat takut sekali. Aku takut jika dia itu memang benar Vi lalu memintaku untuk berhenti.