MY SECRET CEO

MY SECRET CEO
Perpisahan



...Saras...



...Vi...



...... ...


Entah mengapa saat mendengarnya menyerah, saat itu juga hatiku terasa sakit sekali. Seperti terluka namun tidak mengeluarkan darah. Vi menerima keputusanku. Dia pun segera membereskan pakaiannya yang ada di sini. Memasukkannya ke dalam koper dengan terburu-buru. Sedang aku hanya bisa duduk diam di kursi sambil mengalihkan pandangan darinya. Aku sedih namun gengsi untuk mengakuinya. Aku harus bagaimana?


Tak lama dia pun selesai memasukkan semua pakaiannya ke koper. Vi kemudian menghampiriku sambil membawa koper besarnya. Dia berdiri kembali di hadapanku. Namun, kali ini dengan raut wajah yang penuh keputusasaan. Dia seperti tak rela pergi dari rumah ini. Namun, aku tidak mengizinkannya lagi karena sudah merefundnya. Pada akhirnya perpisahan itu pun terjadi.


"Aku akan mengganti semua uangmu. Aku pergi."


Dan begitulah yang dia katakan padaku sebelum berlalu pergi dari hadapanku. Saat itu juga seperti terdengar pecahan gelas yang sangat kuat di telinga ini. Seolah-olah menggambarkan keadaan hatiku. Aku pun segera berbalik untuk melihatnya. Dan kulihat dia berjalan pelan sambil membawa kopernya. Vi pergi dari rumah ini.


Vi ....


Entah mengapa aku ingin sekali menahannya. Tapi hal itu tidak bisa kulakukan padanya. Seperti ada dua sisi yang berlawanan di dalam diriku. Dan pada akhirnya aku membiarkannya pergi. Kulihat dari teras depan dia ditunggu oleh seseorang. Dia pun masuk ke dalam mobil yang menunggunya. Dan kemudian mobil itu pun berlalu pergi. Pergi selamanya dan tak akan pernah kembali. Saat itu juga aku menangisi diriku sendiri.


Vi ....


Mungkin aku adalah wanita ternaif di dunia ini. Aku telah membohongi diriku sendiri. Apa yang kulakukan berlawanan dengan hatiku. Dan aku juga tidak bisa menyesali itu.


Esok harinya...


Pagi ini kulalui dengan bersih-bersih sendiri. Dari menyapu, mengepel kulakukan seorang diri. Bahkan untuk mencuci pakaian dan menjemurnya juga kulakukan sendiri. Karena Vi tidak lagi berada di sini. Aku pun beristirahat sebentar setelah merapikan rumah ini. Tak lama kudengar seseorang mengetuk pintu rumah berulang kali. Aku pun lekas menuju pintu untuk membukakannya. Dan ternyata yang datang adalah...


"Vi?" Dia datang dengan raut wajah yang datar. Dia tidak ada ekspresi sama sekali.


"Aku datang untuk memenuhi janjiku. Ini kukembalikan semua uangmu."


Dia meraih tanganku lalu memberikan sebuah amplop berwarna cokelat tebal kepadaku. Aku pun seperti tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima amplop itu. Lalu kemudian dia pun pergi berlalu meninggalkanku. Dia pergi begitu saja tanpa ada kata-kata lagi untukku. Saat itu juga aku tahu bagaimana keadaan kami yang sesungguhnya. Kami tidak mempunyai hubungan apa-apa lagi. Dan yang tersisa hanya kenangan saja.


Vi ....


Sungguh aku ingin menahannya agar dia tidak pergi. Tapi aku tidak mampu melakukannya saat ini. Dia pun pergi dengan berjalan kaki dari rumah kontrakanku ini. Tanpa menoleh, tanpa melihat ke belakang untuk melihatku. Dia benar-benar telah kecewa padaku.


Vi, maafkan aku. Aku cemburu, tapi tidak bisa jujur padamu.