
Masih teringat jelas kala lembur di kantor waktu itu. Yang mana tiba-tiba saja ponselku berdering, menandakan ada panggilan masuk untukku. Segera saja kulihat siapa yang meneleponku, dan ternyata Vi lah yang meneleponku. Aku pun segera mengangkat telepon darinya itu.
.........
"Halo?"
"Aku sudah di bawah. Aku menjemputmu pulang," katanya.
"Hah?!" Aku pun terbelalak seketika. Segera bangun dari kursi lalu melihat ke halaman depan kantor dari balik kaca jendela. "Kau di pos satpam?" tanyaku memastikan.
Terdengar rintik hujan dan angin kencang dari sana. "Tidak. Aku tidak berani masuk ke kantormu. Aku menunggu di bawah pohon yang ada di dekat gerbang. Cepatlah. Aku sudah bawakan payung untukmu," katanya lagi.
Saat mendengarnya, saat itu juga entah mengapa hatiku terenyuh. Vi menjemputku pulang dan membawakan payung untukku. Dia begitu perhatian padaku. Padahal dia tidak punya kendaraan ataupun mobil untuk menjemputku. Pastinya dia menaiki bis ataupun ojek untuk sampai ke sini.
"Baik. Tunggu aku."
Aku pun lekas keluar dari kantor bersama teman-teman bagian promosi perusahaan ini. Sebagian mereka ada yang langsung pulang dengan mengendarai motornya. Sedang sebagian lain dijemput pacar atau keluarganya. Aku sendiri berjalan sambil melindungi kepala dari rerintikan hujan yang turun. Aku segera ke depan gerbang untuk menemui Vi di sana. Dan saat sudah sampai, Vi pun memanggilku.
"Saras!"
Dia memanggilku. Aku pun menoleh ke belakang untuk melihatnya. Dan kulihat dia menurunkan masker yang dipakainya. Dia tersenyum padaku sambil memegangi payungnya. Dan entah mengapa, aku melihatnya bak ditaburi bunga-bunga indah. Vi datang untuk menjemputku di tengah rerintikan hujan.
Dia mendekatiku. "Kau kebasahan. Kita ke halte bis sekarang." Dia menarik tanganku lalu memayungiku.
Aku tersenyum. "Terima kasih. Blezerku masih cukup menghangatkan," kataku.
Dia mengangguk. "Aku sudah masak. Aku juga sudah mencuci semua pakaianmu." Dia berkata lagi.
"Benar, kah? Kau rajin sekali." Aku pun tak menyangka jika dia akan serajin ini.
"Aku memenuhi apa yang kau inginkan. Bukankah itu cukup memuaskan?" tanyanya padaku.
.........
"Vi ...."
Tanpa terasa air mataku menetes membasahi pipi ini saat mengingatnya. Aku masih ingat dengan dirinya yang sepenuh hati memerhatikanku. Dia juga peduli bahkan sampai menjemputku. Tapi kini kusadari jika semuanya hanya tinggal kenangan. Vi tidak lagi berada di sini. Lantas aku pun lekas masuk ke rumah untuk menyegarkan diri. Mencoba melupakan semua kenangan indah yang telah terjadi. Semoga saja hari esok lebih baik lagi.
Esok harinya...
Cahaya matahari menyorotku yang baru sampai di kantor. Aku datang sendiri dengan menaiki bis dan tidak bersama Stefany. Sesampainya di kantor pun kulihat teman-teman sudah datang dan berdandan rapi. Sepertinya benar kalau hari ini ada pergantian jabatan yang baru. Aku pun lekas menghidupkan komputer untuk men-scanningnya dulu. Menghilangkan virus-virus membandel yang membuat lemot komputerku.
Tak lama manajer perusahaan datang dan meminta kami untuk segera memasuki ruangan rapat perusahaan ini. Kami diminta menyambut kedatangan bos baru kami. Entah siapa, sepertinya lebih baik menurut saja. Toh, masih menunggu komputer selesai di-scanning juga. Jadi aku pun segera menuju ke ruang rapat bersama teman-teman lainnya. Kami akan menjadi saksi pergantian jabatan di perusahaan ini.