
Aku berhenti melangkah sejenak. Aku pun memerhatikannya. "Kau bekerja dulu, baru bicarakan masa depan. Oke?" Aku memintanya.
Dia tersenyum-senyum sendiri di hadapanku. "Apakah kalau sudah mempunyai pekerjaan kita bisa langsung menikah?" tanyanya yang seperti menantangku.
Aku pun merasa tertantang olehnya. "Langsung punya anak juga bisa," jawabku.
Dia membelalakkan matanya dengan begitu bahagia. Mulutnya pun sampai terbuka lebar di hadapanku. Sedang aku...
Dia kenapa sih?
Aku sweatdrop sendiri melihatnya. Tak biasa-biasanya dia bersikap seperti ini. Vi bertingkah aneh di depanku. Seolah-olah sedang menghibur hati anak kecil yang kesal. Lantas saja aku menarik tangannya.
"Sudah, jangan terlalu banyak berkhayal!"
Kami pun meneruskan perbelanjaan di supermarket ini dengan melupakan apa yang terjadi tadi. Aku tidak menganggap serius obrolanku bersama Vi.
Makan siang...
Aku dan Vi memutuskan untuk makan siang bersama di salah satu rumah makan yang ada di ibu kota. Di sini selalu ramai oleh para pengunjung yang kelaparan. Aku pun memilih tempat di pojokan untuk bersantap siang dengannya. Tak lama minuman pembuka kami pun datang.
"Kau suka makan di tempat ini?" tanya Vi padaku.
Aku mengangguk. "Tempatnya ramai, masakannya juga enak. Dan yang terpenting ... murah!" Aku berbisik pada Vi.
Vi mengangguk-angguk. Dia mengerti alasanku.
"Pesanannya." Tak lama seorang pelayanan juga datang membawakan makanan yang kami pesan.
"Terima kasih." Aku pun mengucapkan terima kasih kepada pelayan itu. Tapi...
"Ya Tuhan?!" Saat dia melihat Vi, saat itu juga dia berteriak.
Eh?!
Aku pun tak mengerti mengapa pelayan rumah makan ini berteriak.
"Mas, Mas ini bukannya artis terkenal itu ya? Anggota boyband itu ya?" tanya pelayan pria yang mengantarkan makanan kami.
Artis terkenal? Boyband?
Aku pun mencoba melihat Vi lebih jelas lagi.
"Mas, boleh minta tanda tangannya? Saya ngefans banget sama Mas!" kata pelayan ini lagi.
Sontak teriakan pelayan tersebut membuat pengunjung rumah makan ini menujukan pandangannya ke kami. Aku pun jadi malu sendiri dengan sikap pelayan pria ini. Pada akhirnya aku pun memintanya pergi.
"Em, maaf. Bisakah kami makan terlebih dahulu?" tanyaku.
Astaga ....
Aku pun mengernyitkan dahi sendiri. Tak menyangka akan kedapatan hari yang seperti ini. Tak tahu mengapa sudah dua kali kejadian tak terduga kualami. Apakah sebentar lagi akan ada hal yang istimewa untuk kami?
Pelayan itu kemudian pergi. Aku pun beralih ke Vi. "Vi, dia bilang kau itu artis terkenal. Anggota boyband. Memangnya benar?" tanyaku berharap lekas mendapatkan jawaban.
Vi tersenyum lalu menyeruput es teh manisnya. "Mungkin hanya mirip." Dia berkata seperti itu padaku.
"Mirip siapa?" tanyaku lagi.
"Coba tebak mirip siapa?" Dia malah mengajak ku untuk main tebak-tebakan siang ini.
"Dasar!"
Aku pun tak ingin memusingkannya. Aku lupakan saja yang tadi lalu segera menyantap hidangan yang telah kupesan ini. Aku tidak mau pusing sendiri.
"Hm, makanannya enak." Vi pun memuji masakan rumah makan ini.
"Itu namanya lele terbang bakar." Aku memberitahunya.
"Eh? Memangnya bisa lele terbang?" Dia malah membahasnya.
Dahiku berkerut seketika. "Sudah makan atau kucium nanti!" Aku pun mengancamnya.
Dia tersenyum-senyum sendiri di depanku. "Dua-duanya juga aku tidak keberatan." Dia malah meledekku.
"Vi!"
"Ma-maaf."
"Dasar!"
Aku pun menggerutu kesal lalu melanjutkan makan siang ini. Sepertinya kami memang sudah dekat. Atau hanya meyakinkan kepura-puraan ini?
.........
...Saras...
...Vi...