MY SECRET CEO

MY SECRET CEO
Cemberut



Aku menaikkan sudut bibirku. "Aku juga tahu kalau kau itu lelaki. Jija perempuan, aku tidak akan pernah mau menyewamu!" kataku padanya.


Aku pura-pura marah padanya. Kulihat dia juga mengembuskan napas lelahnya seraya menunduk di hadapanku. Lantas saja aku berjalan meninggalkannya. Aku tak ingin pembicaraan ini berlanjut. Karena kutahu dia itu lelaki. Pastinya jika teruskan akan ada saja yang terjadi. Apalagi kami berlawanan jenis.


Semakin dilihat, dia semakin lucu. Apa aku mulai tertarik padanya?


Setengah jam kemudian...


Segar. Itulah yang kurasakan sehabis mandi. Aku pun lekas duduk di depan meja makan yang lesehan ini. Vi juga datang menghidangkan makanan untukku. Berupa sup ayam dengan taburan bawang goreng di atasnya. Kami pun makan bersama.


"Makan yang banyak agar tubuhmu lebih berisi," katanya yang membuat seleraku berubah.


Dia ini!


Entah mengapa dia seperti menyindir tubuhku yang ramping ini. Padahal berat badanku sudah ideal untuk seusiaku. Tapi perkataannya seolah-olah kurang berisi. Aku pun ingin membalasnya dengan cara lain.


"Aku malas makan," kataku sambil malas-malasan menyuap nasi.


"Kenapa?" Vi juga menyuap nasi ke dalam mulutnya.


"Malas. Maunya disuapin," ambekku yang membuat dia terdiam.


"Baiklah." Dia pun akhirnya mengambil piring nasi beserta sendok makanku."


Aku tersenyum. Dia kemudian menyendokkan nasi untukku. Dia bersikap kebapak-bapakan sekali. Mungkin hanya usianya saja yang baru dua puluh delapan tahun. Tapi jiwanya sudah mengayomi bak seorang suami.


"Buka mulutnya," pintanya padaku.


Aku pun membuka mulut ini. Tapi...


Dia?!


Vi memainkan sendok berisi nasi di depanku. Saat aku ingin menyuapnya, saat itu juga dia menggeser sendoknya. Akhirnya nasi di sendok itu tidak masuk-masuk ke mulutku. Aku pun dibuat kesal olehnya.


Lantas saja kuterjang dirinya. Vi pun jatuh ke belakang dengan satu tangan yang memegang sisi meja makan ini. Sedang aku...


"Kau keterlaluan! Aku sudah menyewamu dengan harga mahal! Kau harus menuruti semua permintaanku!"


Aku pun duduk di atas perutnya dengan kedua paha yang menempel erat di pinggangnya. Sontak Vi melihat ke arahku dengan tatapan yang berbeda. Entah apa yang ada di pikirannya, tapi posisi seperti ini jujur saja membuatku risih sendiri. Aku menyadarinya, sesaat setelah dia jatuh ke belakang.


"Saras." Dia pun menyebut namaku dengan lembut sekali.


"Ini? Ini?" Aku pun lekas beranjak bangun darinya. Tapi, saat itu juga Vi menahan pinggulku.


Astaga! Dia?!


Aku pun mulai merasa aneh saat kedua tangannya itu memegang pinggulku. "Jangan macam-macam!" kataku, memeringatkannya.


Vi tersenyum. Dia tersenyum manis sekali. Mungkin tak menyangka jika akan terjadi hal seperti ini. Dia kemudian beranjak duduk di hadapanku. Yang mana membuat jarak kami semakin dekat saja. Dia lalu menatapku.


"Kau menginginkannya? Katakan jika kau menginginkannya, Saras," pintanya.


"Hah? Apa?!" Aku pun tak mengerti maksudnya.


Vi tersenyum lagi. Bibir peach itu bergerak kembali. "Aku bersedia melakukannya. Malam ini juga," katanya yang membuatku berpikir ke arah sana.


"Vi?!"


"Saras, mari kita lakukan bersama," pintanya lagi.


Vi mulai mendekatkan wajahnya ke wajahku. Tangan kirinya mulai membelai rambutku ini. Dia menyampirkannya ke belakang telinga. Sontak saja aku merasa geli.


"Jangan. Tidak boleh."


Aku pun berkata demikian padanya. Namun, wajahnya semakin mendekati wajahku. Seolah tak peduli terhadap laranganku.