
"Vi???" Aku pun mencoba tersadar sepenuhnya.
"Lekas ganti pakaianmu sana. Lalu beristirahatlah," katanya padaku.
Beristirahat???
Dan akhirnya memang benar apa yang dikatakan Vi. Jika hal itu terjadi padaku lagi. Aku delusi kembali saat menatap wajahnya. Aku rasa sudah mulai menggila. Atau mungkin terobsesi dengan ketampanannya? Entahlah mungkin benar dua-duanya.
Minggu, pukul sebelas siang waktu ibu kota dan sekitarnya...
Hari Minggu telah tiba. Kini saatnya bagiku untuk berjalan-jalan bersama Vi di supermarket yang ada di sini. Tidak jauh, kami memilih supermarket terdekat agar nanti bisa cepat sampai di rumah. Dan kini aku sedang memilih-milih keperluan bulananku termasuk pembalut untuk mens nanti.
"Vi, mana yang bagus?" tanyaku pada Vi tentang pembalut pilihanku ini.
Dia menelan ludahnya. "Tidak salah menanyakan hal itu padaku?" Dia tampak mengernyitkan dahinya, tak percaya.
"Hahaha."
Aku pun tertawa, lalu memasukkan salah satu pembalut pilihanku ke kereta belanja. Dan ya, Vi selalu menemaniku ke mana saja. Dia setia berada di sisiku. Tapi, ada satu hal yang kuanehkan darinya. Dia selalu memakai masker saat pergi ke mana-mana. Hanya semalam saja saat di pesta dia tidak memakainya. Entah mengapa.
"Pandemi sudah berakhir, tapi kau masih memakai masker." Aku pun nyeletuk kepadanya.
Vi menoleh cepat ke arahku. "Apakah tidak boleh?" tanyanya padaku.
Aku melihatnya. "Boleh. Apa yang tidak boleh untukmu, Tampan."
Aku pun memujinya sambil mencubit pelan pipinya itu. Sontak Vi pun terperangah melihatku. Mungkin tak menyangka jika aku sudah bersikap seluwes ini padanya.
"Saras!"
Tiba-tiba saja di tengah perbincangan kami ada suara seseorang yang memanggilku. Aku pun menoleh ke asal suara untuk melihat siapa gerangan yang memanggil. Dan ternyata, mantanku.
Ngapain dia ada di sini?!
"Saras?" Dia pun melihatku bersama Vi.
"Rival? Kau berbelanja di sini?" Aku pura-pura bertanya padanya.
Dia mengangguk. "Em, ya. Lama tak jumpa, Saras. Aku rindu kenangan dulu." Dia jor-joran berkata padaku.
Rindu? Rindu kepalamu! Sudah ketahuan selingkuh malah seenaknya berkata rindu! Sana ke laut saja!
"Em, Sayang. Kenalkan ini Rival." Aku segera mengalihkan pembicaraan dengan mengenalkan Vi dan Rival.
Sontak Rival pun terkejut mendengar kata sayang yang kutujukan untuk Vi. Dia pun menyadari jika aku sudah mempunyai pasangan sekarang.
"Vi."
Vi pun tersenyum singkat kepada Rival. Kurasa Vi kesal karena melihat mantanku itu. Tapi bukan karena cemburu, melainkan karena gaya Rival yang jor-joran.
"Em, maaf. Aku harus memilih keperluan lainnya." Aku berkata pada Rival. "Ayo, Sayang." Aku pun menggandeng mesra Vi di hadapannya.
Entah mengapa menjelang siang ini aku bertemu dengan mantanku. Mantan terakhir yang lagi-lagi kepergok selingkuh. Padahal aku tidak pernah mengharapkan untuk bertemunya kembali. Tapi ternyata Tuhan berkata lain untukku. Jadi ya sudah, lebih baik aku mengindarinya saja. Aku tidak memedulikannya. Toh, tidak ada untungnya.
"Itu ...?" Vi bertanya padaku.
"Mantanku."
"Kau suka pria-pria seperti itu?" tanya Vi lagi sambil mendorong kereta belanjaanku.
"Sudah jangan bicarakan dia. Itu tidak penting!" kataku pada Vi.
"Lalu ingin bicarakan apa? Bicarakan masa depan kita saja?" tanyanya yang seolah ingin menghiburku.