
"Saras? Saras? Saras!" Tiba-tiba dia menepuk pipiku.
"Vi?!" Aku pun tersadar seketika.
"Kau melamun?" tanyanya padaku.
"Ap-apa?!" Aku belum menyadarinya.
Vi mencubit pipiku. "Pasti habis berhayal jorok. Sudah, lekas makan!" pintanya padaku.
Eh???
Saat itu juga aku menyadari apa yang terjadi. Ternyata tadi itu hanya sebatas delusi. Apakah aku segila ini? Sampai berhayal tentangnya saat duduk bersama? Kuakui jika dia begitu memesona. Lantas apakah bisa aku menahan diri sedang kebersamaan kami masih lima bulan dua minggu lagi?
Selesai makan malam...
Makan malam diwarnai dengan berdiaman sepanjang mulai sampai selesai. Vi pun hanya sesekali melirik ke arahku. Dia tidak bicara apapun selain memerhatikanku dalam diam. Padahal aku hanya sedang menutupi malu karena sempat-sempatnya berhayal tadi. Dan ya, kini kami sudah selesai makan malam bersama.
"Jangan langsung tidur sehabis makan. Nanti perutmu besar," katanya.
Kalau dipikir-pikir yang banyak mengatur itu adalah dirinya dibandingkan aku. Tapi karena merasa diperhatikan, aku jadi tidak terlalu mempermasalahkannya. Dan kini kami sedang duduk di sofa TV yang ada di rumah ini. Aku pun mulai memilih-milih channel TV yang bagus. Sampai akhirnya tertuju pada drama Turki.
"Hoaaammm..."
Tanpa sadar aku juga mulai menguap. Aku sudah mulai mengantuk lima menit setelah makan. Dan ya aku ingin tidur sekarang. Aku tidak kuat lagi untuk menahan kantuk. Tapi, Vi memintaku untuk terus bertahan.
Aku menoleh ke arahnya sambil memasang wajah cemberut. "Kalau begitu pinjamkan bahumu agar aku bisa terus duduk," kataku.
Vi mendekat. Dia duduk di sebelahku dengan jarak sekitar lima senti saja. Lantas aku pun merebahkan kepala di bahunya. Aku sudah tidak kuat untuk menahan kantuk. Tak lama kemudian kudengar dia juga berbicara padaku. Seperti berbisik di telinga ini. Tapi karena tidak mau delusi kembali, aku lekas melemaskan badan lalu terpejam. Dan akhirnya aku pun tertidur di bahunya. Aku sudah mengantuk sekali.
Beberapa jam kemudian...
Hening. Itulah yang kurasakan saat semilir kipas angin menerpa wajahku. Kurasakan kedua kelopak mata yang berat untuk terbuka. Aku pun terus melanjutkan tidur karena masih mengantuk. Tapi, sesaat kemudian tersadar jika masih di ruang TV.
"Vi ...."
Aku pun menyebut namanya. Nama seorang pria yang tadi meminjamkan bahunya untukku. Tak lama kurasakan ada yang aneh di kepalaku. Aku mencoba memegangnya untuk memastikan ini bahu atau bukan. Dan ternyata...
Seperti bantal.
Lekas saja aku membuka mata untuk melihatnya. Aku pun meraba-raba sekelilingku. Tapi saat membuka mata, saat itu juga aku melihat kamarku sendiri. Ternyata aku sudah berada di dalam kamarku.
"Astaga!"
Lantas aku pun terbangun lalu duduk di kasur. Aku melihat keadaanku sekarang. Dan ternyata aku berselimut tebal dengan pakaian yang masih utuh. Itu berarti tidak terjadi apa-apa padaku. Aku pun berniat untuk mencari di mana keberadaan Vi. Aku khawatir dia pergi tanpa mengunci pintu dahulu. Lalu akhirnya kutemukan dirinya tidur di depan TV. Dia tidur menggunakan kasur lantai yang ada di rumah ini.
Dia membawaku ke kamar lalu menarikkan selimut untukku. Dia begitu perhatian sekali.
Aku duduk berjongkok di sampingnya sambil memandangi wajahnya. Kulihat paras wajahnya saat tertidur seperti ini. Dan Vi begitu tampan sekali. Rasanya aku ingin memeluknya saja. Tapi aku juga masih gengsi. Aku tidak ingin memulainya karena aku adalah pembeli. Aku masih harus menjaga image di depannya.