MY SECRET CEO

MY SECRET CEO
Pinang Dibelah Dua



"Ap-apa?!"


Aku terkejut saat dia berkata seperti itu. Tidak salah lagi jika dia menganggapku sebagai pembohong. Dan tidak salah lagi jika dia adalah Vi. Aku tidak dapat menafikan hal ini. Dan ingin sekali aku menciumnya segera untuk menunjukkan kebenaran atas ucapanku. Tapi kini dia adalah bosku. Aku tidak mungkin melakukan hal itu. Saat ini yang kubisa hanya menunggu pengakuannya. Menunggu pengakuan jika dia memang benar adalah Vi.


Dia kembali duduk di kursinya, tidak menghiraukanku yang menantikan jawabannya. Aku pun tidak tahu harus bagaimana. Aku merasa sudah terlalu banyak bicara.


"Saras." Dia kemudian menegurku.


"Ya, Pak?" Aku pun segera tersadar dari percakapan ini.


"Tolong bantu aku merekap semua data karyawan lama dan juga divisi pekerjaannya. Aku minta data yang selengkap-lengkapnya. Tolong berikan padaku secepatnya."


Dan pada akhirnya pekerjaan tambahan itu kudapatkan lagi darinya. "Tapi, Pak. Anda belum--"


"Kau akan mengetahuinya nanti. Sekarang lekas selesaikan pekerjaan yang kuberi." Dia pun bersikap dingin kembali. Menempatkan posisi sebagai bos di perusahaan ini.


Aku mengerti. "Baik, Pak. Permisi."


Pada akhirnya aku meninggalkan ruang kerjanya. Aku kembali ke mejaku untuk melakukan apa yang dia pinta. Dengan tanpa mendapatkan jawaban atas siapa dia yang sebenarnya. Aku dilanda penasaran yang begitu besar tentangnya. Benarkah dia Vi atau kembarannya?


Menjelang petang...


"Ras, gue duluan ya."


"Duluan ya, Ras."


Hari ini sedikit berbeda setelah kedatangan bos baru kami yang mirip sekali dengan Vi. Teman-teman kantor pulang lebih lama dari hari sebelumnya. Biasanya jam lima sudah bergegas, kini hampir jam enam mereka baru keluar kantor. Mungkin tak enak jika pulang tepat pada waktunya karena sudah memiliki bos baru.


Sampai saat ini aku masih menerka-nerka siapa gerangan yang ada di dalam ruang bos besar itu. Di kantor ini memang ada sebuah ruangan khusus yang hanya akan ditempati oleh pemilik perusahaan. Tapi ruangan itu telah lama kosong. Mungkin ada sekitar tiga atau empat tahun karena bos kami membuka cabang di negara lain. Tapi kini ruangan itu berpenghuni. Dan kurasa itu memanglah Vi.


Aduh, aku sudah mulai lapar.


Lantas aku mencoba memesan makanan. Perutku sudah mulai keroncongan. Aku pun meminta satpam di luar untuk mengantarkannya nanti. Aku memesannya lewat delivery online. Dan sambil menunggu, aku membuat teh lebih dulu untuk menghangatkan badan. Aku ingin makan.


Satu jam kemudian...


Lelah. Itulah yang kurasakan saat baru selesai mengerjakan tugas dari bos baru. Dan kini aku beranjak ke ruangannya untuk memberikan apa yang dia pinta. Tapi saat sampai, saat itu juga aku kaget melihatnya sedang tertidur di sofa ruang kerjanya. Ternyata dia tertidur di sana.


Vi, apakah itu dirimu?


Kutatap dirinya, kuperhatikan dengan saksama. Aku melihatnya yang sedang tertidur di sana. Dan kuperhatikan segala apa yang ada pada dirinya, Vi juga memilikinya. Tapi sampai saat ini dia belum mau mengakuinya. Aku pun tidak bisa memaksanya. Andai dia mau jujur, pasti aku akan benar-benar menciumnya. Aku merindukannya.


Lebih baik lekas bergegas pulang saja.


Lantas kuletakkan semua tugas yang dia pinta ke atas mejanya. Aku pun beranjak keluar dari ruangannya. Aku ingin segera pulang karena tugasku sudah selesai. Tapi, saat itu juga...


"Mau ke mana?" Tiba-tiba dia bertanya seperti itu padaku.