MY SECRET CEO

MY SECRET CEO
Menimbang Ulang



Elen terkekeh sendiri. "Hei, tenang aja. El bisa membawanya," kata Elen yang membuatku senang seketika.


Kedatangan Elen ke kontrakanku hari ini karena ingin membicarakan persiapan sebelum datang ke acara pesta pernikahan nanti malam. Tadinya aku ingin berdandan ala kadarnya saja. Tapi setelah Elen memaparkan bagaimana keadaan pestanya, aku jadi tertarik untuk menyewa ini dan itu agar tampil lebih gaya. Tentunya dengan harga yang pantas juga.


"Jadi berapa total uang sewa untuk pakaian pria dan wanita dan juga mobilnya untuk malam ini?" tanyaku kepada Elen.


Elen kemudian menghitung dengan kalkulator ponselnya. "Sewa mobil tiga ratus ribu, sewa pakaian pria dua ratus ribu, pakaian wanita tiga ratus ribu. Jadi delapan ratus ribu." Dia menerangkan padaku.


"Apa?! Sebanyak itu hanya untuk menghadiri pesta yang hanya satu jam saja?!" Aku tak percaya.


"Itu tidak dengan uang rias di salonnya, Saras. Jika dengan riasnya satu juta." Elen menerangkan.


Aku menggeleng-gelengkan kepala. Berpikir ulang untuk mengeluarkan uang sebesar itu hanya untuk menghadiri satu jam pesta pernikahan. Karena uang satu juta bisa untuk membayar kontrakanku selama satu bulan. Tidak mungkin aku mengeluarkan uang sebesar itu hanya untuk satu jam.


Lantas aku berpikir, mencari jalan tengah dari hal ini. Aku mencoba bernegosiasi dengan Elen.


"Aku punya gaun pesta sendiri. Jadi aku pakai gaun pestaku saja. Untuk make up, aku juga ada. Jadi aku akan berdandan sendiri. Untuk mobil, aku rasa terlalu mahal jika tiga ratus ribu dua orang. Aku akan cari mobil lain saja. Yang lebih murah harganya. Sedang sewa pakaian pria juga aku rasa yang biasa saja. Jangan terlalu mewah." Aku menjelaskan keinginanku.


"Em, baiklah jika itu maumu. Kalau begitu kita bertemu di sana saja. Bagaimana?" Elen berharap kami dapat masuk gedung bersama.


Aku mengangguk. Pada akhirnya perbincanganku pagi ini bersama Elen tidak mencapai kesepakatan karena berat di ongkos. Aku mencari alternatif lainnya saja.


Biaya hidup memang mahal. Atau gaya hidup yang terlalu mahal?


Lantas kami pun akhirnya berbincang bersama Vi dan juga El di depan meja makan ini. Aku menghidangkan cemilan berupa keripik pedas dan juga minuman bersoda kepada mereka. Kami akhirnya bercakap-cakap sebentar sebelum berdandan ke acara pesta. Kami janjian bertemu di sana. Entah bagaimana nantinya, aku hanya mengikuti alurnya saja.


.........


...Saras...




...El...



...Elen...



.........


Pukul enam sore waktu ibu kota dan sekitarnya...


Ini adalah malam minggu ke dua bagiku dan Vi. Kulihat pria berjas hitam itu sudah tampan sekali setelah kudandani. Aku mendandani Vi bak seorang penata rias ke artisnya. Dan kini Vi sudah siap untuk berangkat ke pesta.


Gaun ini ternyata sempit sekali. Apakah aku yang sudah mulai berisi?


Aku sendiri mengenakan gaun hitam ketat untuk datang ke acara pesta dengan motif lobang-lobang di belakangnya. Tapi karena sulit untuk menaikkan resetling sendiri, aku pun meminta Vi untuk menaikkannya. Setelah itu aku menebalkan sedikit make up di wajah. Vi juga memerhatikannya. Kami bak sepasang suami istri yang ingin menghadiri acara pesta bersama. Vi kemudian tersenyum padaku.


"Kau sudah cantik, Saras. Tidak perlu ditambah lagi make up-nya," kata Vi padaku.


"Benar, kah?" tanyaku sambil memoles lipstik berwarna merah di bibir ini.