MY SECRET CEO

MY SECRET CEO
Kecil Hati



"Kalau begitu kau tidak diundang. Hanya yang punya gandengan saja yang kuundang," katanya lagi.


Sontak karyawan yang berada di dekatku tertawa. Mereka menertawakanku karena belum punya gandengan.


"Stefany, nanti ke ruangan ibu. Tolong bantu ibu rekap undangan," pinta ibu dirut kepada teman kantorku.


"Baik, Bu." Stefany pun langsung berdiri untuk mengiyakannya. Tampak dia yang melihat kepergian ibu dirut dari hadapan kami.


Sungguh sakit hati ini saat merasa diintimidasi karena belum mempunyai pasangan. Aku tidak tahu apa maksud ibu dirut mempertanyakan hal itu padaku. Tapi entah mengapa pertanyaan itu serasa menusuk ke jantungku. Aku malu. Mentalku seperti dijatuhkan olehnya. Terlebih aku ini wanita yang mudah terbawa perasaan.


"Ras, ibu dirut hanya bercanda. Jangan diambil hati ya." Stefany pun menenangkanku.


Mungkin teman baikku hanya Stefany di kantor ini. Dia angkatan pertama sejak perusahaan ini berdiri. Dan ya, kami memang selalu duduk berdekatan sehingga bisa saling bertukar pikiran. Tapi kembali lagi ini pekerjaan. Kami mempunyai tugas di divisi yang berbeda. Dia sudah cukup membantuku selama delapan tahun ini. Dan dia juga sudah dikaruniai dua buah hati bersama suaminya. Tidak sepertiku yang masih sendiri.


Mungkinkah hari bahagia itu masih lama? Sungguh sudah lima tahun ini aku sendiri. Aku juga ingin mempunyai kekasih.


Malam harinya...


Pulang kerja aku langsung ke rumah. Tidak mampir ke mana-mana karena hatiku sedang gundah-gulana. Tak berapa lama Elen pun menelepon dan mengajak ku makan malam bersama. Dan jujur saja aku sangat malas untuk memenuhinya. Tapi setelah datang ke tempat pertemuan kami, entah mengapa semangat itu jadi berkobar saja.


Kini aku sedang melihat-lihat daftar pria yang disewakan di situs ini. Dan mereka diminta untuk bertelanjang dada di depan kamera dan memperlihatkan bentuk lengan kekarnya. Dan tentu saja aku mulai terpesona. Aku tertarik untuk membeli salah satu dari mereka. Aku pun membaca ketentuannya.


"Dua juta dua ratus angsuran sebulannya dalam satu tahun? Apa?!"


Tapi melihat nominal yang harus kubayar itu membuat nyaliku ciut seketika. Bagaimana mungkin aku membayar semahal itu untuk seorang pacar sewaan? Ya, walaupun memang semua pria yang disewakan di sini memuaskan.


"Bagaimana jika diangsur selama dua tahun?"


Aku pun mencoba mengeklik nominalnya untuk angsuran dua tahun. Dan ternyata nominalnya juga masih cukup besar. Aku harus merogoh satu juta empat ratus setiap bulan untuk membayar pacar sewaku. Dan di sini tertulis jika kami hanya bisa bersama sampai enam bulan saja. Itu berarti satu setengah tahun selanjutnya aku merana tapi tetap harus membayar angsuran.


"Ya ampuuunnn! Ada ya situs semacam ini?"


Dan sebagai seorang perempuan, masih saja ada rasa keberatan di hatiku untuk mengeluarkan uang sebesar itu. Karena uang sebesar itu bisa kugunakan untuk hal yang lebih bermanfaat lainnya. Bukan foya-foya dengan pria yang tak kutahu asal-usulnya.


Ya sudahlah. Lebih baik tidur saja.


Lantas aku kembali menutup laptopku. Aku tidak jadi membeli pacar sewa dari situs ilegal itu. Aku masih merasa sungkan untuk mengeluarkan uangnya. Jadi kuurungkan niatku. Aku juga tidak terlalu membutuhkannya.