MY SECRET CEO

MY SECRET CEO
Cemburu



Lantas pekerjaan hari ini segera ku selesaikan sebelum kembali ke rumah. Akhir pekan tak lama lagi akan tiba. Aku pun ingin mengajak Vi berjalan-jalan keluar. Tapi sepertinya aku juga harus mengajaknya ke pesta pernikahan. Jadi ya sudah, selesaikan satu pekerjaan lalu beralih ke pekerjaan lainnya.


Beberapa jam kemudian...


Cuaca tampak mendung malam ini. Aku pun baru sampai di depan rumah kontrakanku. Dan kulihat rumah kontrakanku tampak sepi. Lekas saja aku menuju pintu untuk mengetuknya. Tapi saat ingin mengetuk pintu, saat itu juga kulihat Vi sedang menerima telepon dari seseorang yang entah siapa. Dari luar kaca jendela ini aku bisa melihatnya karena lampu di dalam dihidupkan. Dan aku juga mencoba untuk menguping apa yang dibicarakannya. Tapi sayang, aku tidak bisa mendengarnya.


Apakah yang menelepon pacarnya?


Entah mengapa hatiku merasa sesak saat berpikir demikian. Rasanya tak terima saja jika dia sudah punya pacar. Saat ini aku telah membelinya untuk enam bulan ke depan. Jadi tidak sepantasnya dia menerima telepon dari wanita lain. Apakah aku mulai cemburu padanya? Mungkin saja iya. Tapi aku rasa akan segera menanyakannya.


Kuketuk pintu berulang kali. "Vi, aku pulang!" kataku yang sontak membuat Vi mengakhiri sambungan teleponnya. Kudengar langkah kakinya yang berjalan cepat ke pintu.


"Saras, kau sudah pulang? Tadinya aku ingin menjemputmu," katanya seraya semringah kepadaku.


Entah mengapa aku merasa kesal padanya. Kulihat dia juga masih memegang ponsel selularnya. "Apa terburu membagi waktu untuk dua orang?" tanyaku lalu bergegas masuk ke dalam.


Aku berjalan melewatinya. Vi pun tampak memikirkan perkataanku ini. Dia diam sejenak lalu memerhatikanku. Aku bisa melihatnya dari pantulan cermin yang ada di dekat pintu. Dan ya, Vi segera mendekatiku.


"Apa maksudmu, Saras? Membagi waktu untuk dua orang? Aku tak mengerti." Dia meminta penjelasan dariku.


"Saras, katakan. Jangan buat aku penasaran. Apa maksud perkataanmu tadi?" tanyanya lagi.


Aku mendongakkan kepala untuk melihatnya. Vi adalah pria bertubuh tinggi sehingga aku harus sedikit mendongakkan kepala untuk melihatnya lebih jelas. Jika sama-sama tidak memakai alas kaki seperti ini, tinggiku hanya setelinganya saja. Dan ya, Vi memerhatikan wajahku yang sedang kesal ini. Mungkin dia juga menyadari apa alasanku kesal.


"Vi." Aku mulai berkata padanya. "Aku ingin kau hanya milikku selama enam bulan ini. Aku tidak ingin melihatmu menerima telepon dari seseorang." Akhirnya aku berkata jujur padanya.


Vi terdiam. Dia memerhatikan raut wajahku ini. "Saras, maaf. Tadi ibuku yang menelepon," katanya yang membuatku bak mendapatkan udara segar.


"Sampai gembira seperti itu?" tanyaku lagi.


Dia mengangguk. Tapi entah mengapa aku masih tak percaya. "Sudahlah. Aku mau istirahat."


Aku pun menepiskannya dari hadapanku. Aku lekas masuk ke kamar dan meninggalkannya di dekat pintu. Aku tidak ingin memedulikannya. Aku ingin beristirahat saja. Benar atau tidak ibunya yang menelepon itu juga bukan urusanku. Karena aku bukan siapa-siapa baginya. Aku hanya penyewa jasanya selama enam bulan ke depan. Sesudahnya kami juga bukan siapa-siapa.


"Saras ...."


Kudengar dia menyebut pelan namaku. Tapi aku segera menutup pintu. Aku kesal padanya. Aku cemburu.