
Aku menelan ludah. Aku bingung harus berkata apa padanya. Dia seolah-olah tidak tahu siapa itu Vi.
"Em ...," Aku masih bingung harus menjawab apa.
"Katakan saja siapa Vi itu bagimu. Tidak sulit, bukan?" Dia berkata tegas padaku.
Sejenak aku mengistirahatkan pikiran dari prasangka hatiku ini. Jika Hyung adalah Vi, dan Vi adalah Hyung, bos baruku. Tapi kenapa terasa seperti dibolak-balik olehnya? Dia tidak lekas menjawab pertanyaan dan malah balik bertanya padaku.
"Dia ... dia seseorang yang berarti untukku, Pak." Lantas saja aku berkata demikian padanya, yang mana membuat bos baruku terbatuk-batuk di tempatnya.
"Uhuk! Uhuk!"
Aku pun lekas-lekas membuka botol air mineral yang sudah ada di meja. "Ini, Pak. Minumlah." Aku pun memintanya untuk minum.
Bosku segera meneguknya. Dia meminum air kemasan botol itu sampai habis setengah. Dan dia segera menyeka mulutnya dengan tisu. Dia seperti tak percaya dengan jawabanku. Tak tahu mengapa apa yang terjadi barusan pun seolah semakin meyakinkanku jika dia memang mantan pacar sewaanku dulu.
"Berarti untukmu? Seberapa berartinya dia untukmu?
Pada akhirnya bos baruku tidak melanjutkan santap siangnya. Dia menyingkirkan kotak nasi itu lalu duduk tegak di hadapanku, seperti ingin menginterogasiku.
Aku juga ikut meneguk air kemasan botol yang tersedia di meja. Aku teguk pelan-pelan dan dia pun memerhatikanku. Lantas aku juga segera mengatakan apa yang ada di hati ini. Mungkin tak apa jujur kali ini. Toh, aku juga belum tahu dia Vi atau bukan. Aku belum dapat memastikannya.
"Kami ... pernah tinggal bersama. Tapi kini dia sudah pergi meninggalkanku." Aku mengatakannya seraya menundukkan kepala.
"Apa kau menyukainya?" Dia kemudian bertanya lagi padaku.
Aku menarik napas dalam-dalam lalu tersenyum, mengingat kembali kenangan bersama Vi. "Dia seperti Anda, Pak. Wajahnya, perawakannya, tinggi badannya, cara bicaranya, suaranya. Semua sama. Tapi sesuatu hal telah memisahkan kami dan kini dia sudah pergi." Aku mengatakannya lagi.
Bosku beranjak berdiri. Dia tidak lagi melihat wajahku ini. Dia berjalan menuju sisi jendela ruangan lalu membuka sedikit tirainya. Dia membelakangiku. Aku pun tak tahu mengapa. Mungkin dia ikut sedih mendengar ceritaku ini.
"Ada kalanya seorang pria ingin dimengerti. Ada kalanya seorang wanita juga ingin dimanja dan diperhatikan lebih. Tapi kurasa perpisahan itu tidak akan terjadi bilamana salah satunya ada yang membuka kejujuran. Maka dari itu jika seorang pria tidak bisa membukanya lebih dulu, kenapa wanita harus gengsi untuk memulainya? Bukankah sebuah hubungan tidak dijalani sebelah pihak saja?" Dia bertanya padaku, seolah-olah memang benar adalah Vi.
Aku beranjak berdiri. "Pak, apakah kau itu dirinya?" Aku pun bertanya kepadanya.
Bos baruku seperti menelan ludahnya di sana. Dia menoleh sedikit ke belakang. Dia kemudian berbalik lalu berjalan mendekatiku. Dia berdiri di hadapanku dengan jarak hanya sekitar satu meter saja.
"Jika aku dirinya, apa yang akan kau lakukan?" tanyanya padaku.
Aku menelan ludah ini di hadapannya. Pikiranku mulai tak karuan. Aku takut dan cemas yang bersamaan.
"Aku akan menciumnya." Dan entah mengapa malah kata-kata itu yang keluar dari mulutku.
Bosku tersenyum. "Apa wanita pembohong sepertimu dapat dipercaya?"