
Vi mengangguk kembali. Dia kemudian berjalan di depanku. Tak tahu mengapa aku tersentuh dengan tindakannya malam ini. Dia sampai bolak-balik di depan jendela kamarku hanya ingin melihat keadaanku. Dia juga sampai ingin membuka jendelanya hanya untuk memastikan keadaanku baik-baik saja. Dia memang pria yang perhatian. Rasanya tak pantas untuk berprasangka buruk kepadanya.
Aku masuk ke rumah lalu menutup pintu kembali. "Lain kali ketuk saja pintunya kalau perlu sesuatu," kataku yang merasa tak tega padanya.
Dia berbalik cepat ke arahku. "Tapi kau sedang marah. Apa mungkin membukakan pintunya?" tanyanya padaku.
Aku duduk di kursi tamu, meletakkan sapu di sampingku. "Maaf, mungkin aku mau mens jadinya seperti ini. Emosiku tidak stabil menjelang datang bulan. Aku harap kau mengerti," kataku sambil memijat keningku sendiri.
"Perlu kubantu?" Dia kemudian duduk di dekatku, berniat memijat kepalaku.
Aku terdiam sambil memerhatikannya. Aku rasa kami sudah terlalu dekat. "Vi, apa kau menjual diri di situs itu untuk membiayai pengobatan pacarmu?" Entah mengapa aku malah bertanya seperti itu padanya.
"Eh?! Mengapa bertanya seperti itu?" Dia balik bertanya padaku dengan perasaan heran.
Aku memalingkan muka darinya. "Mungkin saja seperti itu. Tadi kan habis menerima telepon," kataku lagi.
Vi tersenyum di sampingku. Dia mengangguk lalu menundukkan kepalanya. Mungkin dia sudah mengerti keinginanku. Dia kemudian memegang tanganku ini.
"Saras, aku ...," Dia menatapku. "Aku belum punya pacar. Tadi sungguh yang menelepon adalah ibuku. Sudah dua minggu ini aku tidak pulang ke rumah dan dia merindukanku." Vi menjelaskan padaku.
Aku menepiskan tangannya. "Istri?" tanyaku lagi.
Saat itu juga dia mengusap kepalanya sendiri seperti orang yang frustrasi. "Belum, Saras. Pacar saja tidak punya apalagi istri. Bukankah kemarin kau memintaku untuk menafkahi anak kita?" tanyanya balik.
Dia mengangguk-anggukkan kepalanya lalu menyandarkan punggung di kursi. "Kau tidak berniat selamanya?" tanyanya seraya menoleh ke arahku.
Saat itu juga aku merasa bingung untuk menjawabnya. "Aku lapar."
Lantas saja aku segera mengalihkan perhatiannya agar dia tidak menanyakan hal itu padaku. Karena aku tidak ingin dia mengetahui isi hatiku yang sebenarnya. Bisa-bisa dia malah mempermainkanku seperti pria yang dulu-dulu. Dan aku pun tidak mau sakit hati kembali. Cukup sudah berulang kali gagal menjalin hubungan cinta ini. Aku tidak ingin terulang lagi.
Esok harinya...
Pagi hari aku terbangun dengan badan yang lebih segar. Aku pun membuka pintu kamar berniat untuk segera mandi. Tapi saat membukanya, saat itu juga kulihat Vi sedang menjemur pakaianku di jemuran yang ada di lantai dua kontrakan ini. Lekas saja aku mengintipnya untuk mengetahui apa yang dia lakukan di sana. Dan ternyata...
Dia mencuci pakaian dalam ku juga?!
Aku kaget saat melihatnya menjemur pakaian dalam di jemuran putar itu. Aku pun malu sendiri karena dia sudah mengetahui ukurannya. Tapi aku juga sudah membelinya. Jadi wajar saja jika aku mempekerjakannya. Ya, walau nyatanya hal itu masih tabu di sini.
"Vi." Aku pun menegurnya.
Dia berbalik ke belakang. "Ya?" Dia segera menyahut panggilanku.
"Kau sudah buat sarapan? Aku lapar," kataku.
"Belum. Aku baru selesai mencuci pakaian. Kau mandi dulu saja ya," pintanya padaku.