MY SECRET CEO

MY SECRET CEO
Intens



Tidak salah lagi jika ini adalah suara Vi. Suaranya sama seperti suara Vi yang berat dan meneleponku waktu ingin menjemput pulang. Sungguh aku deg-degan bukan kepalang. Pikiranku semakin membenarkan kata hatiku yang mengatakan jika dia adalah benar pacar sewaanku yang dulu. Aku pun melihat ke sekeliling ruangan dan melihat ada kamera CCTV yang mengarah ke mejaku.


"Baik, Pak."


Lantas segera kututup telepon darinya lalu membereskan pekerjaanku. Aku menundanya sejenak untuk panggilannya. Panggilan bos baru yang merupakan anak pemilik perusahaan.


"Stef, kutinggal dulu ya. Aku titip mejaku sebentar." Aku pun menitipkan meja kerjaku ke Stefany yang duduk di sampingku.


Stefany mengangguk. Dia seperti menyadari kecemasanku saat ini. Sedari keluar dari ruangan, aku segera bekerja sehingga tidak sempat bercakap-cakap dengannya. Dan kali ini pun sama. Aku pergi dan menitipkan meja kerjaku padanya lalu berjalan menuju ruangan bos baru. Sesampainya di sana pun aku segera mengetuk pintu. Menyapa seseorang di dalam dengan senyum penuh ceria. Walau nyatanya itu amat terpaksa.


Beberapa menit kemudian...


"Pak."


Aku masuk ke ruangan bos. Dan kulihat bos baruku itu sedang duduk sambil merapikan meja kerjanya dari peralatan tulis kantor. Dia kemudian mengeluarkan dua kotak nasi dari dalam tasnya. Dan dia memintaku untuk segera duduk.


"Duduklah."


Aku pun menurutinya. Menarik kursi lalu duduk di hadapannya. Dia kemudian membuka kedua kotak nasinya tersebut. Dan saat dibuka, saat itu juga aku terkejut melihat isinya. Ternyata dia membawa satu kotak nasi dan satu sup ayam dengan taburan bawang goreng di atasnya. Dia seolah-olah mengingatkanku dengan Vi. Seorang pria yang pernah memasakkanku makanan ini.


Aku sungguh penasaran. Haruskah kutanyakan siapa dia sebenarnya?


Semakin lama aku semakin penasaran. Dari paras, postur tubuh, cara bicara sampai suaranya mirip Vi semua. Tapi aku masih ragu untuk memanggilnya Vi karena kini dia adalah bosku. Lantas apa yang harus kulakukan untuk membuktikan jika dia benar adalah Vi?


Sungguh rasanya bibirku ini gatal sekali dan ingin menanyakan siapa dia sebenarnya. Tapi entah mengapa kata-kata itu seolah tertahan di tenggorokan. Aku belum mempunyai keberanian untuk bertanya segera.


"Sekarang makanlah. Aku sudah lapar."


Dia pun menyuap nasi beserta sup itu ke dalam mulutnya. Sedang aku masih diam, tak bergerak sama sekali. Yang kulakukan hanya menelan ludah berulang kali.


Dia memerhatikanku. Pria yang bernama Hyung itu memerhatikanku sambil mengunyah makan siangnya. "Kau tidak mau makan bersamaku?" Tatapannya pun berubah tajam seketika.


"Ma-mau, Pak."


Aku pun segera mengambil nasi dan sup yang diberikannya. Aku lekas memakannya. Dan ternyata, rasa masakannya juga sama. Lantas saja aku tidak tahan lagi untuk menahan hasrat bertanya ini.


"Pak Hyung, bolehkah saya bertanya?" tanyaku sedikit ragu.


"Tanya apa?" Dia menjawabnya dengan tatapan acuh tak acuh tapi memerhatikan.


"Em, apakah ... apakah Anda Vi?" Aku memberanikan diri untuk menanyakan hal itu langsung.


"Vi? Siapa dia? Pacarmu?" tanyanya padaku.