MY SECRET CEO

MY SECRET CEO
Bicara



"Nanti aku ambil uang tabunganku saja. Aku rasa tidak baik juga untuk meneruskannya," kataku.


"Kenapa? Apa Vi bersikap kasar padamu?" tanya Elen padaku.


Aku menggelengkan kepala. "Tidak. Aku hanya khawatir terbawa perasaan selama tinggal bersamanya. Dan aku menderita kerugian yang besar," kataku pada Elen.


"Apa kau mulai jatuh cinta padanya?" Elen menanyakannya kembali.


Saat mendengarnya, saat itu juga aku terdiam. Aku tidak tahu harus berkata apa tentang Vi saat ini. Yang jelas aku sakit saat melihat ada nama wanita yang meneleponnya. Dan aku cemburu. Ya, mungkin saja benar aku cemburu.


"Saras." Elen pun memegang tanganku. Ia tampak prihatin dengan keadaanku saat ini.


Aku tetap mengukuhkan hati. "Refund saja. Aku tidak apa," kataku lagi.


Pada akhirnya sebuah keputusan bulat kuambil untuk mengembalikan Vi ke situs itu. Elen pun tampak menelan ludahnya karena tak percaya dengan keputusan ini. Sedang aku mencoba berlapang dada menerima jalan hidupku. Mungkin saja belum ada pria baik untukku.


Malam harinya...


Aku baru saja berniat untuk tidur, tapi pintu rumahku tiba-tiba diketuk oleh seseorang. Aku pun lekas menuju pintu untuk melihat siapa gerangan yang melakukannya. Dan ternyata ... Vi. Dia datang dengan raut wajah yang berbeda.


"Saras." Dia menyapaku. Wajahnya menyiratkan kekesalan di hatinya.


"Vi? Kau sudah pulang?" Aku pun mencoba bersikap biasa saja padanya.


"Saras, aku tak mengerti. Sungguh tak mengerti dengan dirimu." Dia berkata seperti itu padaku.


Pria berjaket cokelat itu masih berdiri dan tidak mau duduk bersamaku. Kulihat dia menarik napasnya perlahan lalu mencoba mengembuskannya dengan kuat. Dia seperti orang yang sedang memendam kekesalan besar.


"Katakan padaku. Apa kesalahanku sehingga membuatmu seperti ini?" Dia bertanya padaku.


Aku berlagak santai. "Kau tidak membuat kesalahan apapun padaku." Aku berkata seperti itu.


Vi menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berdiri di hadapanku. Sedang aku duduk di kursi sambil melipat kedua tangan di dada. Aku mencoba untuk tidak melihatnya.


"Saras, kumohon. Apapun masalahnya, bisa kita diskusikan terlebih dahulu. Jangan seperti ini yang tiba-tiba mengembalikanku ke situs itu. Kau kenapa, Saras? Katakan padaku apa kekuranganku? Apakah selama ini aku tidak menyenangkan hatimu?" Dia bertanya padaku, berharap cepat mendapatkan jawabannya.


Aku mengambil napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri sebelum berkata padanya. "Vi." Pada akhirnya aku pun mulai bicara. Aku melihat wajahnya. "Aku tidak ingin mengganggu kehidupanmu. Kau pasti punya privasi yang tidak boleh kuketahui. Maka dari itu aku memutuskan untuk mengembalikanmu," kataku.


"Apa?!" Dia tak percaya.


"Aku ingin kau bahagia tanpa tertekan tinggal bersamaku. Lagipula kita hanya sampai enam bulan saja. Setelah itu juga kau akan melupakanku. Jadi sekarang atau nanti itu sama saja, bukan? Lagipula alasanku merefundmu bukan karena kinerjamu buruk. Melainkan karena aku ingin pindah ke luar negeri dan tidak bisa membawamu." Aku menjelaskan.


Vi tampak tidak terima. Dia menelan ludahnya berulang kali di hadapanku. Aku sendiri mencoba tidak melihatnya. Aku mengalihkan pandangan darinya. Aku tidak boleh menampakkan kesedihan hatiku atas kecemburuan ini. Aku gengsi padanya.


"Jadi semua yang kau katakan itu bohong?" tanyanya padaku.


Aku diam saja, tidak berkata apa-apa.


"Aku pikir apa yang kau katakan itu sungguh-sungguh dari hatimu." Dia terlihat kecewa. "Saras, kau mengecewakanku. Maaf aku harus berkata jujur. Tapi tindakanmu ini sangat di luar perkiraanku. Jika ini memang sudah menjadi keputusanmu, aku terima. Tapi jangan pernah sesali selamanya. Terima kasih atas kebaikanmu selama ini. Aku akan membereskan pakaianku," katanya yang tidak melakukan perlawanan lagi terhadap keputusanku.