MY SECRET CEO

MY SECRET CEO
Canggung



Di ruangan bos...


Untuk yang pertama kalinya aku masuk ke ruangan bos besar perusahaan ini. Padahal sebelum-belumnya hanya sampai di ruangan manajer saja. Tapi kini ruangan yang dulunya kosong itu diisi oleh seorang pria yang kukenal. Siapa lagi kalau bukan mantan pacar sewaanku sendiri, Vi.


"Permisi, Pak."


Dan begitulah yang kukatakan pada pria berkemeja abu-abu yang sedang duduk di kursi. Tampak jasnya dilepas dan diletakkan di belakang kursi. Sedang dia sedang menyandar nyaman di sana.


"Duduk."


Dia pun hanya berkata seperti itu padaku. Aku pun lekas menarik kursi untuk duduk di hadapannya. Bersamaan dengan detak jantung yang begitu kerasnya.


Dia membenarkan posisi duduknya. Duduk menyandarkan tangan kanan pada sisi kursi dengan tangan kiri yang memegang sisi meja ini. Dia menatapku dengan tajam seperti ingin menerkam. Dia pun mendongakkan kepalanya sambil melihatku. Aku pun menundukkan kepala ini di hadapannya.


Satu, dua, tiga detik berlalu namun belum ada tanda-tanda dia akan bicara padaku. Pada akhirnya aku mengangkat kepala untuk melihat wajahnya. Dan saat itu juga kulihat dia tersenyum melihatku. Senyum penuh arti yang hanya dirinya sendiri yang tahu apa maksudnya. Sedang aku menelan ludah berulang kali karena harap-harap cemas dengan nasibku. Lantas dia pun membuka CV milikku.


"Saras Esa Putri." Dia menyebut lengkap namaku.


"Ya, Pak."


Aku pun menyahutinya. Kami duduk berhadapan dengan ketegangan yang sempurna. Kaku sekali. Ingin rasanya aku lari saja dari ruangan ini. Tapi kini di hadapanku sudah ada dirinya yang mirip sekali dengan Vi. Lalu apa yang bisa kulakukan selain menanti?


"Sudah berapa lama kau bekerja di perusahaan ini?" Dia bertanya padaku.


"Delapan tahun, Pak," jawabku segera.


"Berapa gajimu?" tanyanya lagi.


"Enam juta. Dengan penghasilan sekecil itu kau sudah berani menyewa seorang pria untuk menjadi pacarmu?" tanyanya seraya menatapku.


Dia?!!


Ternyata benar jika yang duduk di hadapanku ini adalah Vi. Bukan kembarannya, bukan kakak, sepupu atau *cosplay*er-nya. Dia benar-benar Vi. Karena yang tahu tentang sewa menyewa dari situs ilegal itu hanya dia sendiri. Dan juga Elen yang beda gedung denganku. Elen juga tidak punya kenalan di sini. Jadi tidak mungkin Elen yang membocorkan pada teman-temanku.


"Saya diejek terus, Pak. Jadi saya nekat menyewa pacar dari situs itu." Aku berkata jujur.


Dia memiringkan kepalanya untuk melihatku. "Memangnya tidak punya pacar?" tanyanya lagi.


Aku mengangguk. "Lima tahun ini saya sendiri karena sering diselingkuhi." Entah mengapa dia malah membahas tentang diriku, bukan pekerjaanku.


"Oh, begitu." Dia menyandarkan punggungnya di kursi. "Kudengar ada teman kantormu yang ikut mem-bully. Apakah benar? tanyanya lagi.


Aku mengangguk.


"Siapa nama lengkapnya? Haruskah kita tendang saja dia dari perusahaan ini?" tanyanya lagi yang mengejutkanku.


"Eh?! Ti-tidak, Pak. Ti-tidak perlu seperti itu. Di-dia juga bekerja di sini. Sama seperti saya yang mengais rezeki." Aku segera menahan bos baru ini agar tidak tergesa-gesa bertindak.


"Tapi kau sudah di-bully. Tidak inginkah melakukan pembalasan?" Dia seperti mengomporiku agar membalas perbuatan Ana, sambil menggabungkan kedua tangannya di atas meja.


Aku memalingkan wajah. Rasa-rasanya percakapan ini sudah di luar pekerjaan. "Em, maaf, Pak. Bukankah pembahasan ini terlalu privasi?" Aku memberanikan diri interupsi.