
Naira's POV
Aku menggosok-gosok mataku yang terasa panas.
Kupaksakan tubuh kecilku yang terasa berat untuk bangun.
Kyuven merengek di sampingku seolah masih ingin menghibur hatiku.
Sepertinya aku sudah terlalu banyak menangis.
Kulihat matahari sudah meninggi di luar jendela kamarku.
Sepertinya aku ketiduran setelah puas menangis.
Aigooo apa aku sudah mulai berubah menjadi anak kecil beneran?
Batinku malu sendiri.
Mengingat bagaimana aku menangis sejadi-jadinya bahkan meski Kak Arvan dan Ayahanda datang untuk menenangkanku. Rupanya hal tersebut tak mampu untuk membuatku tenang.
Aku bahkan merasa tidak enak pada Anne yang sudah berusaha sekuat tenaga menenangkanku. Bukannya berhenti aku malah tambah menangis kencang.
Ya Tuhan ... goncangan jiwa dan hormonku lebih parah ketimbang ketika aku lagi PMS.
Gosh!!!
Keluhku.
Klek!!
Suara pintu kamarku terbuka, aku melihat wajah Anne begitu dia masuk.
"Nona!! Anda Sudah bangun? Apa Anda baik-baik saja? Anda pasti lapar, kan? Tunggu sebentar ya, saya sudah menyiapkan hidangannya."
Anne yang sudah berlari mendekat karena cemas mulai menanyaiku secara bertubi-tubi.
Perhatiannya yang walau memang selalu berlebihan tetap membuat hatiku terenyuh.
Sebelum dia kembali beranjak pergi untuk mengambil hidanganku.
Kutarik lengan seragam Anne dengan ragu.
"... Maaf ... Anne ...."
Ucapku masih terdengar serak.
Tenangkan dirimu, Naira.
Kamu gak boleh nangis lagi.
Sudah cukup!!
Seruku dalam hati.
"Padahal tadi Anne sudah berusaha menenangkanku yang tiba-tiba menangis. Tapi ... aku malah menangis semakin kencang dan membuat kegaduhan."
Anne berlutut di samping tempat tidurku.
Mencoba menatapku yang tengah merunduk.
"Nona Naira?" panggilnya padaku mencoba untuk menarik perhatianku yang masih tak mampu untuk menatap wajahnya.
"Apa Nona Naira membenci saya?" tanya Anne yang langsung membuatku terkejut.
"Tidak. Mana mungkin aku membencimu Anne. Aku suka padamu kog sungguh."
Ujarku dengan tatapan serius yang malah membuat Anne terkekeh
"Kalau memang begitu, Nona Naira tidak perlu meminta maaf."
Ucapnya sembari mengusap kepalaku.
"Tapi ... aku ... sudah sangat keterlaluan pada Anne ... aku benar-benar menyesal ... maafkan aku."
Ujarku lagi mengalihkan pandangan karena malu.
"Nona Naira ... apa Nona tau sebesar apa rasa sayang saya pada anda?" tanya Anne padaku yang kubalas dengan gelengan kepala.
"Bahkan jika Nona mengatakan benci kepada saya ataupun jika Nona memukul hamba dan kalaupun hamba harus mati ditangan Nona Naira tanpa alasan ... saya Anne Sakura dari keluarga Viscount Shirenade tidak akan pernah membenci anda."
Tutur Anne padaku dengan senyum yang entah kenapa membuat bulu kuduk di belakang leherku bangun semua.
"Jadi Nona Naira tidak perlu meminta maaf pada seorang Maid seperti saya."
"Saya ada demi Nona, saya hidup hanya untuk Nona ... jadi Nona Naira tidak perlu mencemaskan saya." Jelasnya lagi kali ini memegang kedua tanganku dan mengatupkan di dalam genggaman tangannya.
SHOOT!!!
Kenapa aku merasa ada hawa-hawa Yandere di novel ini?
Well mengingat perjuangan Pangeran Reynald yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan cinta Araya.
Sampai memecahkan perang dengan kekaisaran sepupunya sendiri, aku rasa itu juga bisa disebut dengan obsesi Pangeran Yandere, ya?!
Keluhku
Masih dengan senyum yang entah berarti apa.
Bibirku yang sedari tadi ikut mengguratkan senyum karena terpaksa jadi tidak tau harus membalasnya bagaimana.
"Ka-kalau begitu apa aku bisa minta tolong ambilkan makananku? Aku benar-benar kelaparan ...."
Pintaku mengalihkan topik pembicaraan.
Dengan senyum mengembang Anne melangkah pergi meninggalkan ruangan untuk mengambilkan hidanganku.
Oh God-Oh God-Oh God-Oh God-Oh God.
Kuacak-acak rambut ungu indahku sampai berantakan.
Ya TUHAN!!!
Di dalam novel tidak pernah dijelaskan tentang Anne adalah Maid Yandere.
Tapi ya tentu saja, aku sedikit bisa mengingat waktu Anne di dalam Novel bilang.
"My Lady ... do you wish for me to mess her up? I'll gladly grant that." (Nona, apa anda mengharapkan saya untuk mengacaukan gadis itu? Saya akan dengan senang hati menurutinya)
Walaupun, dalam POV orang ketiga dikatakan bahwa entah Anne mengatakannya secara serius atau bercanda.
Hanya karena melihat Naira merasa terabaikan oleh Pangeran Richardo yang terlalu memperhatikan Araya, ketimbang dirinya yang adalah tunangan resmi sang pangeran.
Fine tho ... i meant,
sekarang aku udah gak akan bertunangan dengan si pangeran. Jadi, toh, kayaknya gak bakalan ada scene seperti itu nantinya.
Kembali aku berbaring, kali ini memikirkan apa yang sebaiknya aku lakukan?
Bagaimana caranya aku memulai misi untuk menyelamatkan Pangeran Reynald?
Aku bukannya mengharapkan akhir bersama Pangeran Reynald.
Yaaa~ walaupun harus kuakui, dibandingkan dengan Pangeran Richardo kalau aku boleh memilih, aku lebih ingin menjadi orang yang dicintai dan mencintai Pangeran Reynald.
"Say Kyuven ... apa ada sihir yang bisa membuatku dekat dengan pangeran Reynald? Well, maksudku tidak perlu sampai membuatnya jatuh cinta padaku, sih ... hanya saja ...."
Tiba-tiba di dalam kepalaku muncul salah satu adegan dalam episode Suddenly I became-beep- dimana Putri Athana-beep- bisa menyamarkan jati dirinya lalu berteleportasi ke tempat-tempat yang ia inginkan.
Apa aku kira-kira juga bisa melakukannya ya?
Tanyaku pada diri sendiri.
Aku yang melihat ke dalam bola mata Kyuven lekat-lekat, baru menyadari, bahwa Kyuven juga memiliki bola mata berwarna ungu.
Ungu yang sangat gelap hingga terlihat seperti hitam.
Bulu Kyuven juga bersinar keunguan apabila diperhatikan secara seksama.
Benar juga!!
Kataku yang kemudian duduk bersimpuh dengan Kyuven yang ikut duduk di hadapanku.
"Sebelumnya pun aku berhasil men-summonmu ... jadi aku yakin kalau kali ini pun aku juga bisa melakukan sihir sulit lain."
Kataku dengan penuh percaya diri pada Kyuven yang memiringkan kepalanya bingung.
"Yeah~ setelah makan aku akan mencoba sihir lain itu. Mari kita anggap hal ini sebagai rencana jahat si tokoh antagonis. Muhehehehehe."
Kataku lagi kali ini diimbuhi dengan tawa yang kubuat sejahat mungkin.
Beberapa saat kemudian,
Aku yang meminta ijin agar Anne meninggalkanku untuk istirahat bersama Kyuven sendirian.
Akhirnya mendapatkan privasi yang kuinginkan.
Setelah memastikan bahwa Anne sudah benar-benar meninggalkan kamar dan tidak ada seorangpun di depan kamarku.
Akirnya kuputuskan saat itu juga untuk mencoba sihir yang mampu menyamarkan identitasku dan membawaku kepada seseorang yang ada dalam benakku.
Aku berdiri di tengah-tengah ruangan kamarku, sambil berdiri tegak.
Aku memejamkan kedua mataku dan mengatupkan kedua tanganku di depan dada seolah berdoa.
Kembali aku tidak mengerti bahkan yakin dengan apa yang tengah kuucapkan.
Namun, suatu kalimat seperti mantra mengalir keluar dari bibirku bagaikan senandung lagu.
אין דעם נאָמען פון די גוואַלדיק געטין, איך וועלן צו זיין עמעצער אַנדערש. איך אויך געבעטן צו זיין אין די זעלבע פּלאַץ מיט דעם מענטש אין מיין מיינונג רעכט איצט.
Perlahan-lahan aku merasakan adanya perubahan dalam diriku.
Tubuhku menjadi hangat dan juga dingin secara bersamaan.
Setelah beberapa saat yang terasa bagaikan seabad itu.
Walaupun ragu, kucoba untuk membuka perlahan kedua mataku.
"Apa Anda baik-baik saja?"
Kedua mataku terbuka lebar ketika telingaku mendengar suatu suara yang tak asing di telinga.
Aku yang mengira bahwa sudah berada dalam lokasi yang tepat malah sepertinya, nyasar entah dimana.
"Ughhh ...."
Suara rintihan terdengar di bawah kakiku.
EEEE???!!!
Aku terkejut setengah hidup saat melihat ada tumpukan manusia yang seakan menjadi landasan pendaratanku (?)
"Nona ... apa anda benar-benar tidak apa-apa?" tanya suara yang semirip milik Pangeran Reynald itu.
Walaupun setelah kuperhatikan baik-baik.
Rupanya suara itu berasal dari seorang pemuda tampan yang pakaiannya sudah bisa di tebak bahwa dia berasal dari kalangan rakyat biasa.
"Iya ...."
Kataku membalas uluran tangannya yang mencoba membantuku untuk berdiri dan menjauh dari tumpukan manusia itu.
Dengan hati-hati pemuda yang tidak kuketahui namanya itu menuntunku dan merapikan pakaianku.
"Sa-saya benar-benar tidak apa-apa ... terima kasih banyak."
Jelasku pada si pemuda dengan sungkan.
"Bagaimana anda bisa bilang tidak apa-apa. Anda jatuh dari lantai setinggi itu. Tentu saja anda akan merasa sangat ketakutan bukan."
Aku yang tak paham akan kata-katanya menengok ke arah dimana pemuda itu menunjuk.
!?
Huh?
Aku jatuh dari lantai lima rumah itu?
Serius lu?
Batinku yang meragukan ucapannya.
"Ayo kita pergi dari sini sebelum para berandalan itu sadar."
Ajak si pemuda padaku yang sudah menuntunku dengan lembut walau lebih terkesan seperti menyeret.
Beberapa waktu kemudian,
Aku yang sedang melamun, karena ditinggal oleh si pemuda yang mengaku bernama Remio, untuk pergi membeli ice cream sebagai ucapan terima kasih.
Melihat perubahan diriku sendiri dari pantulan air mancur, sedikit terkejut dengan penampilan baru yang kudapat dari penggunaan sihir itu.
Bisa dibilang sepertinya sihir yang kupakai menyamarkanku menjadi sesosok gadis tomboy berambut hitam keunguan dan mata yang berwarna hitam keunguan.
Seperti Kyuven.
Gumamku dalam hati.
But A-NY-WAY B-T-W.
Ini kenapa aku nyasar ke tempat seperti ini?
Bukankah aku meminta agar aku bisa berada di tempat orang yang tengah kupikirkan?
Tapi, kenapa malah berakhir di dalam pinggiran kota Faireniyan?
Tanyaku pada diri sendiri yang kini mengedarkan pandangan keseluruh arah.
Hingga kemudian tatapanku terhenti pada sosok gagah anak laki-laki yang tengah membawa gelas cup di kedua tangannya dan berjalan ke arahku.
"Terimalah."
Katanya sambil menyodorkan gelas cup ice cream tersebut padaku.
"Terima kasih banyak."
Balasku menerima pemberian Remio dengan senyum manis.
"Jadi ... apa aku boleh mendapatkan kehormatan untuk mengetahui siapa namamu, Nona?" tanya Remio lagi.
Oops ... saking bingung dan excitednya aku sampai lupa menyiapkan nama samaran.
"Uh ... na-nama saya ... uh A-Anara ...."
Ucapku terbata-bata.
Omooo ... aku benar-benar payah dalam mengarang nama.
Ugh ... dasar tidak kreatif.
"Nona Anara. Sekali lagi, kuucapkan banyak terima kasih karena sudah menyelamatkanku dalam situasi sulit seperti tadi."
Katanya lagi dengan senyum mengembang.
"Ti-tidak ... saya sama sekali tidak melakukan hal yang besar untuk Anda. Uh ... Anda sudah cukup banyak berterima kasih pada saya ... jadi ...."
Ujarku lagi dengan terbata-bata.
"Nona Anara ... Anda tidak perlu berbahasa formal pada saya."
Katanya berusaha untuk menahan tawa.
"Ta-tapi ... Anda sendiri berbahasa sangat amat formal pada saya."
Imbuhku lagi kali ini dengan sedikit cemberut.
"Oh ... iya Anda benar. I meant well then, mari kita sama-sama bersikap sewajarnya saja."
Jawabnya terkekeh lucu.
Aku hanya bisa tersenyum melihat keceriaannya.
Walaupun dalam hati aku masih bertanya-tanya mengenai bagaimana bisa aku berakhir di tempat seperti ini.
Well ... aku rasa ini artinya tidak semua sihir coba-cobaku berhasil dengan sempurna.
*Hhhhe ... yah paling tidak penyamaranku berhasil si*h.
"Jadi, Anara ...."
"Ya? Uh maaf, sepertinya aku sedikit melamun."
Kataku yang menjawab penggilan Remio di tengah-tengah sibuknya pemikiranku.
"Dari tadi sepertinya ada yang sedang kamu pikirkan. Apa ... pergi denganku membuatmu bosan?" tanya Remio dengan senyum sendu.
"Ti-tidak bukan kog ... sama sekali tidak seperti itu. Itu ... ano ... Ice cream ini benar-benar enak. Terima kasih sudah mau mentraktirku."
Ucapku asal untuk mengalihkan pembicaraan.
"Oh iya kak Remio ...."
"Panggil saja aku Remio, tidak perlu tittle seperti itu. Ya walaupun aku memang lebih tua beberapa tahun dengan mu."
Ujarnya memotong perkataanku.
"Tidak bisa begitu dong. Walaupun kita tidak berbicara secara formal, bukan berarti aku tidak menganggap kak Remio itu lebih tuuu ... uh dewasa dibandingkan denganku."
Kataku yang malah membuat Remio menyeringai.
"Barusan kamu mau bilang kalau aku lebih tua, kan?!" ungkapnya dengan tawa kecil.
"Po-pokoknya ... intinya itu, bagaimanapun juga aku harus menghormati orang-orang yang lebih dewasa dariku."
Sambungku lagi mengalihkan perhatian ke gelas Ice cream.
Remio tertawa, aku hanya bisa memberikan dia wajah cemberut karena malu luar biasa.
Obrolan kami kemudian mengalir begitu saja.
Seolah melupakan tujuanku sesungguhnya.
Remio membuatku merasa bahwa tidak ada yang perlu kusayangkan, maupun disesali.
Hanya karena sihir coba-cobaku yang gagal.
Teng Teng Teng Teng!!!
Bunyi lonceng dari menara kota berdenting menandakan bahwa hari sudah akan menjelang sore.
"Oh no, sudah waktunya aku pulang, kak."
Kataku yang sudah akan berpamitan pergi.
"Anara ...."
Panggil Remio yang meraih tanganku, seolah mencegahku untuk pergi meninggalkannya.
"Bisa kah kita bertemu lagi?" tanyanya padaku yang hanya mampu mengerjapkan mata, kaget.
NARATOR
Jangan lupa nantikan petualangan dan perjalanan hidup Naira si tokoh antagonis di episode berikutnya :D