My Precious Lady Villain

My Precious Lady Villain
(Session 2) Page 12: The Ridiculous Fact 2



Third Person’s POV


Naira terlihat tengah terbaring terlentang di ranjangnya. Di


ruangan yang telah di desain khusus sedemikian rupa oleh pemuda misterius itu


hingga terlihat persis menyerupai kamarnya yang ada dikediaman Van Vellzhein.


Pandangannya yang kosong tengah menatap kearah langit-langit


kamarnya yang temaram. Langit diluar jendelanya. Sama sekali tidak berubah.


Walaupun Naira merasa sudah melalui banyak waktu di tempat ini. Tempat yang


pemuda misterius itu bilang sebagai dunia mimpi ini, merupakan penjara jiwa


untuk Naira.


Pemuda yang kemudian di panggil Naira sebagai sigila itu,


memberikan Naira persyaratan yang cukup mampu membuatnya terguncang. Walaupun berusaha


berpikir secara dewasa dan rasional. Naira tetap saja tidak memiliki kesempatan


untuk bernegosiasi. Dia merasa bahwa dirinya tidak sedang berada dalam posisi


yang bisa membuat penawaran dengan sigila.


[kalau kamu memang mau Kembali kedunia tempat tubuhmu tengah


tertidur itu. Aku bisa saja mengabulkannya. Tapi dengan satu syarat] Ucap


sigila pada Naira yang sedari tadi tak mampu menghaluskan kerutan dikeningnya.


[Apa persyaratannya?] Tanya Naira masih memercingkan kedua


mata ungu indahnya itu.


[Kamu harus bilang bersedia dulu dengan apapun yang akan ku


sampaikan sebagai persyaratannya] Katanya lagi yang benar-benar membuat Naira


semakin kesal dibuatnya.


Melihat bagaimana gadis secantik boneka itu terlihat marah,


dengan wajah kesal yang dari sudut pandang manapun dan siapapun yang melihatnya,


akan merasa bahwa Naira makin terlihat adorable [menggemaskan], semakin membuat


sigila itu tersenyum senang.


[Kalau kamu tidak bersedia juga tidak apa-apa] Ucapnya lagi


menyambung [Kemarin sudah aku bilang padamu kan] Kali ini dibelainya rambut


ungu bergelombang Naira yang tergerai indah [Aku tidak keberatan kalua harus


tinggal bersamamu selamanya di dunia mimpi ini] Ujarnya yang kini membuat bibir


mungil Naira menganga.


[Kalau kamu bilang, “Aku bersedia mengabulkan apapun


keinginanmu’ padaku, maka aku akan segera melepaskan jiwamu dari tempat ini]


Terangnya yang kini semakin membuat Naira menunduk kalah.


[Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku? Sudah kubilang,


bukan… Nona Araya juga merupakan jiwa yang datang dari dunia yang sama denganku…


apa memangnya yang berbeda dari kami berdua yang kau anggap istimewa?] Tanya


Naira mencengkeram kedua tangannya di atas lutut.


[Jiwamu dan kekuatan Naira sudah bercampur menjadi satu.


Berbeda dari Araya yang memang sejak awal diceritakan dalam novel. Dia hanya


memiliki sihir dasar dan sihir penyembuh. Dibandingkan dengan dirimu yang sudah


membangun kekuatan tersembunyi Naira yang sebenarnya. Kekuatan yang selama ini


tidak diceritakan di dalam Novel, hanya karena dia seorang antagonist (pemeran


jahat)]


Penjelasan tersebut yang diiringi dengan senyum menyeringai


manis, membuat kepala Naira berputar, Seberapa jauh sigila itu mengetahui


tentang Naira, jiwanya, kekuatan Naira dan plot di dalam novel? Benarkah sigila


itu bukanlah Shakusa yang dicari-cari oleh nona Araya? Ataukah kedua orang ini


sudah lama dan dengan sengaja menjebaknya dalam sebuah permainan?


[Jadi… pada dasarnya, karena kau menganggap jiwaku yang


sudah memiliki seluruh kekuatan tersembunyi Naira ini lebih istimewa


dibandingkan Nona Araya… kau mau menjadikan aku milikmu?] Tanya Naira kini


menegakkan kepalanya, mengkonfirmasi keraguan dan kecurigaannya.


Sigila itu sempat terkejut melihat ekspresi wajah Naira yang


menyiratkan kebencian. Namun, hal itu malah semakin membuat sigila itu merasa


terpuaskan. Naira yang malah terkejut melihat bagaimana dari balik hoodienya


itu, sigila memamerkan seringai senyum yang seolah tengah berbahagia.


Tawa melengking terdengar memenuhi kamar, [Benar… kamu benar


sekalai… kekuatan yang tak terbatas itu tengah bersemayam di dalam jiwamu, dibandingkan dengan seribu jiwa yang dimiliki oleh Araya, kamu


jauh lebih berharga…] Ungkapnya yang diiringi dengan tawa.


[Lalu… sebenarnya apa maumu?] Tanya Naira lagi berusaha


untuk tidak merasa takut.


[Aku ingin menguasai AiWond…] Jawabnya yang  malah membuat Naira kehilangan ekspresinya.


Antara ingin terkejut namun juga tidak menyangka bahwa alasannya merupakan halt


er klise dan konyol, walaupun untuk ukuran novel dan game isekai semua hal


tersebut adalah mungkin.


[Apa untungnya bagimu menguasai dunia ini?] Tanya Naira yang


masih belum terbiasa menganggap bahwa dunia yang saat ini ia tinggali, walaupun


berasal dari game maupun novel apapun itu, sebenarnya juga adalah merupakan


dunia nyata dan orang-orang yang hidup didalamnya adalah orang-orang yang juga


bisa mati dan belum tentu akan mendapatkan kesempatak kedua untuk hidup Kembali


seperti dirinya saat ini.


[Naira sayang~] katanya menatap Naira dengan gemas,


dibelainya puncak kepala Naira penuh sayang. [Sepertinya aku harus terus-menerus


mengingatkanmu tentang kenyataan bahwa dunia yang memang sangat teramat fantasy


ini adalah merupakan dunia nyata.] Ungkapnya membuat Naira sedikit tertegun.


[Walaupun terdengar konyol dan tidak masuk akal, bagimu.


Menguasai AiWond adalah hal yang paling diinginkan oleh setiap orang dipenjuru


dunia ini.] Terangnya masih menyunggingkan senyum selembut sutra pada Naira.


[Dan kau mau menjadikanku alat untuk menggapai keinginanmu


itu?] Tanya Naira kini dengan tegas.


Sigila itu hanya tersenyum sebelum kemudian berdiri dari


hadapan Naira yang tengah duduk di single chairnya. [Kamu adalah calon ratu


masa depanku yang nantinya akan menjadi satu-satunya kaisar penguasa AiWond,


Naira] Ujarnya yang kini membuat kening Naira mengerut lagi.


[kalau kamu keberatan dan tidak ingin melakukannya. Aku juga


tidak punya masalah dengan hal itu.] Katanya lagi [karena seperti yang sudah


aku bilang, bukan!? Hanya ada dua pilihan untuk mu, Keluar dari dunia mimpi ini


dan bersamaku menguasai dunia atau tinggal di dunia mimpi ini selamanya


bersamaku.] Ujarnya yang membuat Naira menggigit bibir bawahnya.


[My Dear Naira, kamu tidak sedang dalam posisi yang bisa


menawaran penawaranku.] Kalimat terakhirnya cukup mampu membuat Naira terpuruk.


Dia benar… Batin naira yang Kembali dari lamunannya. Kalau


aku menolek tawarannya, aku tidak akan bisa keluar dari penjara mimpi ini dan jikalaupun


aku berhasil mengecohnya. Aku tidak yakin apa aku bisa tidur nyenyak tanpa


takut dia Kembali menjebak jiwa ini dalam dunianya. Naira bangun dengan


limbung. Tubuhnya yang kebali berusia 5 tahun di dalam mimpi ini membuatnya


yakin bahwa si psikopath gila itu bisa malakukan apa saja terhadapnya.


“Apa boleh buat kalua begitu…” gumamnya pelan.


Sementara itu,


Di kamar asrama Naira di akademi Fairan.


Sebelun sejak Naira tertidur tanpa sebab dan kejelasan dan


entah bagaimanapun cara yang mereka pergunakan. Tubuh Naira bahkan tidak bisa


dipindahkan. Naira masih tetap dalam posisinya yang tengah meringkuk di atas


boneka plushynya dengan wajah damai, seolah hanya tertidur pulas.


“Naira…” Pangeran Reynald terlihat tengah memegangi tangan


Naira di keningnya. Kedua bola matanya yang memerah dan dibawah kelopak matanya


yang menghitam karena hamper tidak pernah bisa tidur sama sekali.


Orang-orang terdekat Naira yang teramat sangat menyayanginya


itu juga, terlihat dengan kondisi dan keadaan yang sama. Mereka semua yang


tengah berada di dalam kamar Naira seolah sudah lama kehilangan semangat dan


gaira hidup sejak naira tidak sadarkan diri dari tidur panjangnya.


“Pangeran Reynald… sebaiknya anda Kembali ke kamar. Terus menerus


menenangkan Pangeran Reynald.


“Aku tidak akan bisa tenang kalua Naira belum bangun, Roland…”


Katanya dengan wajah yang seolah akan siap menangis kapan saja.


“Kak Rey, bukan hanya kau yang mencemaskan kondisi Naira…


tapi bukan berarti kau harus menyiksa tubuhmu seperti itu.” Kata Pangeran


Richardo yang kini angkat bicara.


“Bukan urusanmu…” balasnya dingin, yang membuat pengeran


Richardo harus menggigit bibir bawahnya kesal.


“Memangnya Cuma kau saja yang cemas terhadap kondisi Naira?


Memangnya kami yang berada disini tidak memperdulikan keadaan Naira sama


sekali??” Tanya Richardo yang Sudha terlanjur emosi.


“Jangan sok seolah Cuma kau yang menderita karena Naira


tidak kunjung bangun juga…” Ucap Richardo kali ini yang dihentikan oleh


Arvhein.


“Pangeran Richardo!!” Cegah Arvhein saat melihat bagaimana


Pangeran cilik itu sudah akan berlari ke arah pengeran Reynald. Reynald yang masih menggenggam tangan kiri Naira, kini


perlahan memutar tubuhnya kea rah Richardo dan Arvhein yang berdiri tak jauh di


sampingnya. “Akui saja kalua kau cemburu.” Ungkapnya yang membuat siapapun pendengarnya


jadi tertegun karenanya, “kau sebenarnya tidak suka kalua harus melihat Naira


nanti terbangun, dan orang yang pertama kasli dilihatnya ada disisinya adalah


aku, bukankah begitu?!” Sambungnya lagi yang hamper saja membuat kesabaran


Pangeran Richardo habis.


“Pengeran Reynald, anda tidak sepantasnya mengucapkan


sesuatu yang sangat kekanak-kanakan seperti itu.” Kata Roland kali ini.


“Tidak ada yang menjamin bahwa Naira akan merasa Bahagia dengan


apa yang anda tengah lakukan.” Ujar Arvhein menambahkan.


Sampai kemudian, Ketika Reynald sudah akan berdiri dari


tempat dia duduk. Telapak tangan Naira bergerak di dalam telapak tangan


Reynald. “ummnh…” Suara Naira yang khas Ketika menggeliat sebelum bangun dari tidurnya.


“Naira??”


“Nainai!!”


“Nona Muda!!”


“MILADI?!”


Panggil orang-orang yang berada di dalam kamar Naira. “Derrick,


Anne!! Cepat Kabarkan pada Ayah dan Penyihir Delarion bahwa Naira sudah bangun.”


Tegas Roland yang sudah memerintahkan pada kedua butler dan Maid Naira


tersebut.


“Nainai??” Panggil Arvhein lagi, kali ini para pangeran dan


kakak lelaki Naira mengelilingi tempat tidur gadis itu.


Naira mengusap-usap kedua matanya yang masih terasa berat,


sebelum kemudian mencoba untuk bangun dari posisi tidurnya. “Ughjh…” dengan


cekatan pangeran Richardo dan Pangeran Reynald memegangi tubuh mungil Naira


yang hamper oleh karena pusing.


“Nainai… kamu tidak apa-apa kan?” Tanya Roland


kali ini berusaha tersenyum untuk mengendalikan airmatanya yang hamper menetes


keluar. “Iya… Naira hanya merasa sedikit pusing.” Jawabnya lembut.


“Naira, kamu benar-benar tidak apa-apa?” Tanya Pangeran


Reynald yang kini sudah membelai puncak kepala Naira. Namun, betapa terkejutnya


mereka saat Naira menepis tangan pangeran Reynald dengan kasar.


“…Dimana Anne?” Tanya Naira seolah tidak menghiraukan


wajah-wajah berekspresi kaget itu. “Kenapa kalian semua berkumpul di kamar


seorang lady yang hanya mengenakan gaun tidur seperti ini??” Tanya Naira lagi


yang makin tidak bisa membuat siapapun menjawabnya.


Naira menghela nafas heran, kemudian dengan cueknya turun


dari tempat tidur dan menarik selimut ranjangnya untuk menutupi tubuhnya dari


ujung kepala seperti mantel. Ke empat pemuda yang sedari tadi masih tertegun


dengan perubahan sikap Naira hanya bisa memperhatikan gadis itu melangkah pergi


menuju pintu kamar dengan Langkah kaki yang lemah dan lunglai.


“Aku tidak tau apa yang sebenarnya terjadi dengan kalian.


Tapi aku harap kalian bisa segera meninggalkan kamar ini…” Kata Naira yang


makin membuat semua pendengarnya tercengang luar biasa.


“Nainai!?” Panggil Arvhein yang tidak bisa mempercayai apa


yang sedang terjadi di dalam kamar ini.


“Nona Naira?!” Seru suatu suara yang disusul oleh pintu


kamar Naira yang terbuka dengan keras. Sosok kharismatik walaupun dengan wajah


panik dan Bahagia bercampur jadi satu, Penyihir berambut hitam Kayana datang


dengan Anne di belakangnya.


Naira menoleh, kakinya yang masih lemah harus terpaksa


membuatnya melompat untuk memeluk Kayana yang sudah berdiri tepat dihadapannya.


“Kay… aku merindukanmu…” Ungkap Naira yang membuat seolah si pendengarnya


tersambar petir di siang hari bolong. “No-nona Naira?? Apa yang anda…?” Tanya


Kay yang terkejut sekaligus malu dengan tingkah Naira.


Dirinya yang hamper saja ikut membalas pelukan Naira,


tersadarkan oleh bagaimana tatapan para kakak dan pangeran manusuk-nusuk ke


arahnya. Bahkan Anne pun ikut memberikan tekanan yang luar biasa di belakang


punggung Kayana. “…Nona Naira, sebaiknya anda duduk untuk menangkan diri


terlebih dahulu.” Kata Kayana yang sudah salah tingkah sejak tubuh mungil Naira


memeluknya tanpa aba-aba.


“Kakiku lemas sekali… gendong aku ya~” Pintanya dengan manja


yang makin membuat kedua kakak Naira dan para pangeran hamper saja menjatuhkan


Rahangnya. Kay yang terlihat kalang kabut tidak bisa mengabaikan tatapan


membunuh para bishounen, yang sudah terinveksi virus Naira, itu.


“Nainai… biar kakak yang menggendongmu, ya?! Kamu tau kan kalua


kamu yang seorang lady, tidak seharusnya memeluk pria yang bahkan bukan calon


tunanganmu.” Kata Arvhein menjelaskan.


“Begitu, kah?!” Tanya Naira yang sok polos, hingga kemudian.


Cup~ Ciuman hangat mendarat di pipi Kayana. Penyihir mud


aitu hanya bisa membeku berdiri ditempatnya, saat perbuatan Naira makin membuat


siapapun yang melihatnya panas membara, karena tidak terima.


“Nainai!!” Panggil Roland kali ini.


“Aku Cuma bercanda kog.” Ungkap Naira yang membuat si


pendengar lagi-lagi tertegun, “Anne bantu aku mandi.” Katanya lagi yang kini


sudah melepaskan diri dari Kayana dan berjalan terhuyung-huyung kea rah Anne.


“Aku harap saat aku sudah keluar dari kamar mandi, kalian


semua sudah pergi dari kamar ini.” Ucapnya tegas, yang makin membuat si


pendengar melongo.


Ada yang tidak beres dengan Naira… Mungkin begitulah yang


ada di dalam pikiran mereka. Gadis yang selama ini mereka kenal sangat polos


dan lembut itu, tiba-tiba saja berubah menajdi angkuh dan entah bagaimana lagi.


Kayana yang walaupun sempat dibuat berdebar- debar oleh sikap Naira, yang


seolah menggodanya dengan manja, itu juga tidak mengerti apa yang sebenarnya


sudah terjadi pada gadis yang ia tengah pedulikan itu.


Di dalam kamar mandi.


“Nona Naira?” Panggil Anne yang tengah membersihkan rambut


dan kepala Naira. Tak mendapatkan Respon, Anne pun mencoba memanggil nonanya


itu sekali lagi.


“Lancang sekali kau memanggil namaku untuk kedua kalinya


Anne…” ucap Naira yang membuat Anne membeku seketika. “Apa kau piker aku tuli?


Alasan aku tidak menjawab panggilanmu karena aku tidak punya alas an untuk


mengobrol denganmu.” Ujar Naira yang kini sudah menoleh kea rah Anne dengan


tatapan dingin


BERSAMBUNG...