
Third Person's POV
Pada Malam itu, entah kenapa Pangeran Reynald sama sekali tidak bisa menghilangkan ingatannya, tentang gadis cilik yang ia temui di pinggiran kota Faireniyan.
Gadis yang mengaku sebagai Anara itu entah kenapa mengingatkannya pada Tuan Putri cilik bermata ungu, Naira dan entah kenapa gadis cilik tomboy itu memiliki aura Mana yang sama seperti Naira.
"Yang Mulia Pangeran Reynald, mengenai para Burglar yang Anda ingin hamba laporkan pada polisi kekaisaran, sudah tertangkap dan tengah dikurung di penjara Iztanha."
Lapor pengawal pribadi Pangeran Reynald.
"Good job."
Balas Pangeran Reynald dengan senyum sembari masih membaca buku, "lalu bagaimana dengan identitas gadis bernama Anara itu?" tanya sang pengeran lagi kali ini melirik pengawalnya.
"Maafkan hamba Yang Mulia."
"Mengenai hal tersebut, hamba masih belum bisa menemukan apapun tentang gadis yang bernama Anara." Jawabnya merunduk.
"Maksud mu?" kali ini Pangeran Reynald memberikan seluruh perhatiannya pada si pengawal pribadi.
"Hamba sudah mencari tau identitas gadis yang bernama Anara itu keseluruh penjuru kota."
"Tapi, sama sekali tidak ada sedikit pun info mengenai gadis itu."
Jelas Dragon, si pengawal pribadi pangeran.
"Jika saya boleh berpendapat, Yang Mulia, gadis yang bernama Anara itu bisa jadi adalah seseorang yang sama seperti Anda."
Sambung Ervan, Butler pribadi Pangeran.
"So, kau mau bilang kalau dia juga seseorang dengan sihir penyamaran?" tanya Pangeran Reynald,
Pangeran Reynald berpaling. Kepalan tangannya menempel di bibir, berpikir.
Mungkinkah apa yang ia pikirkan itu benar adanya?
"Jadi orang-orang di kota sama sekali tidak ada yang bisa mengenali gadis itu?" kata si Pangeran lagi, antara memastikan dan bertanya.
"Benar Yang Mulia, menurut pengakuan yang kami dapatkan, mereka sama sekali tidak pernah bertemu atau mengenal gadis cilik bernama Anara dengan ciri-ciri yang Anda jabarkan."
Jelas Dragon lagi.
Entah kenapa Pangeran Reynald kemudian tersenyum.
"Sepertinya aku harus melakukan satu hal lagi untuk memastikan bahwa tebakanku tepat."
Ucap Pangeran Reynald seolah menggumam pada dirinya sendiri.
"Yang Mulia, sebenarnya gadis yang Anda ceritakan itu, apakah Anda sudah pernah mengenalnya?" tanya Ervan sedikit penasaran.
"Kalau tebakanku benar, mungkin aku harus mengajukan dirinya sebagai calon Putri Mahkota."
Ucapan Pangeran muda Reynald, rupanya cukup mampu membuat Ervan dan Dragon terbelalak kaget. Reynald hanya memberikan seringai senyum pada mereka yang masih tertegun dengan perkataan pangeran mereka.
"Anda tidak benar-benar serius mengenai hal tersebut, kan, Yang Mulia?!" tanya Ervan lagi.
"Well, to be honest ... dengan skill setinggi itu, untuk gadis seusianya. Mana mungkin, aku akan membiarkan harta karun terlangka di kekaisaran ini lepas dari perhatianku begitu saja."
Ujar sang Pangeran.
Dragon dan Ervan hanya mampu untuk saling pandang tanpa berani memberi another komentar. Bagaimanapun, pangeran muda mereka terkenal dengan ke-keras-kepala-annya.
Dimana para pangeran lain sudah bertunangan dan memiliki putri mahkota sebagai pendamping masa depan mereka.
Pangeran Reynald menolak seluruh calon putri mahkota yang dipilihkan untuknya.
Bahkan dengan tegas berani menentang keinginan sang Kaisar Ceylon, dengan mengatakan bahwa dirinyalah yang akan mencari dan memilih siapa putri mahkota yang pantas untuk menjadi calon permaisuri sekaligus pendamping dimasa depannya.
Dan sekarang, sepertinya pangeran muda mereka sudah menemukan seseorang yang bakalan menjadi calon tunangannya.
Gadis misterius yang ia temui di pinggiran kota Faireniyan.
Anara si gadis yang seperti burung Kujaku.
"Mengenai yang Anda ingin lakukan tadi Yang Mulia. Apa sebenarnya hal yang Anda akan lakukan untuk memastikan hal tersebut?" tanya Dragon kali ini.
"Inilah yang ingin kulakukan."
Ucap sang pangeran sambil membuka genggaman tangannya ke hadapan wajahnya.
Dragon dan Ervan tertegun ketika melihat adanya cahaya berwarna emas dari dalam genggaman tangan sang pengeran.
Cahaya misterius itu seolah hidup dan kemudian membentuk suatu wujud, Kupu-kupu.
"Pergilah ketempat gadis yang bernama Anara."
Ucap Pangeran Reynald mengecup cahaya tersebut lalu meniupnya lembut.
Cahaya berbentuk Kupu-kupu itu pun terbang meninggalkan kamar sang pangeran dan menghilang di langit malam.
"Ervan aku ingin kau buat surat untuk Tuan Archduke Van Vellzhein. Informasikan pada beliau bahwa besok aku akan berkunjung ke kediamananya."
Kalimat perintah tersebut tentunya membuat kedua Butler dan pengawal pribadi sang pangeran terbelalak hebat.
Kedua bawahan sang pangeran panik ketika mendengar bahwa dirinya akan mengunjungi kediaman calon tunangan Pangeran Richardo.
Pangeran Reynald paham akan respon kedua bawahannya yang terlalu berlebihan.
Mengingat kenyataan bahwa tidak ada yang mengetahui rencana pembatalan pertunangan tersebut.
Selain dirinya dan Pangeran Richardo sendiri.
Pangeran Reynald hanya tersenyum, seringai manis terpahat di bibirnya yang makin membuat kedua Butler dan pengawal pribadinya bingung.
Di tempat lain,
Naira's POV
Aku yang tengah bersantai menikmati buku pengenalan sihir yang kudapat dari Kak Arvan, dikejutkan dengan kemunculan suatu sinar cantik berbentuk Kupu-kupu di luar jendela.
Karena tertarik dengan cahaya aneh itu akupun memutuskan untuk melangkah meninggalkan sofa santaiku menuju ke balkon kamar.
Semilir angin dingin merambat membelai rambut ungu bergelombangku yang tergerai indah.
Cahaya cantik berbentuk Kupu-kupu itu kini tengah mengitar di atas kepalaku.
Saat dengan girangnya kuulurkan punggung telapak tanganku.
Kupu-kupu bersinar emas itu pun mendarat dengan cantiknya di ujung jari telunjukku.
Namun entah kenapa kemudian, seolah memiliki kaki sendiri, Kupu-kupu bersinar emas itu merangkak menuju jari manisku.
Kemudian, tanpa bisa kucegah Kupu-kupu itu pun bersinar terang dan menyilaukan.
Aku yang sempat menutup kedua mataku, terkejut, saat kulihat Kupu-kupu itu sudah tak ada lagi.
Kedua mataku yang kini terbuka lebar malah menemukan tatto berwarna emas di jari manisku dan tatto itu berbentuk Kupu-kupu.
Aku hanya mampu menelengkan kepalaku bingung.
Tidak paham dengan apa yang terjadi sebenarnya.
Kuangkat jemari tangan kananku, tinggi di atas kepalaku.
Melihat betapa cantiknya tatto Kupu-kupu berwarna emas itu kini melingkar di jari manisku.
Membuatku tak mampu untuk mencurigai apapun yang nantinya akan menimpaku.
Setelah merasa tak ada yang aneh dengan diriku maupun sekelilingku.
Aku pun memutuskan untuk kembali ke kamar.
Melanjutkan kembali acara membacaku yang sempat tertunda tadi.
Beberapa saat kemudian, tiba-tiba saja aku merasa seperti masih membaca, namun apa yang kubuca bukanlah buku panduan sihir dari kak Arvan.
Buku itu kosong, alias tak ada apapun yang tertulis pada halaman di dalam buku tersebut.
Ketika aku menutup buku tersebut, barulah kusadari bahwa aku sudah tidak di kamarku lagi.
Ini ... mimpi, kah?
Tanyaku pada diri sendiri yang kemudian aku meng-iya-kan sebagai jawaban.
Aku yang begitu yakin bahwa ini memanglah mimpi, akhirnya memutuskan untuk meninggalkan sofa nyaman yang kududuki tadi untuk pergi beranjak mendekati sosok yang kulihat jauh di ujung sana.
Aku semakin yakin bahwa ini adalah mempi ketika sekelilingku sudah berubah menjadi hutan dengan pohon-pohon rindang.
Daun dan bunga-bunga berwarna-warni yang menghiasi setiap pohon, membuat keasrian hutan ini semakin indah.
Seolah dituntun oleh suatu keinginan kuat, kakiku melangkah menuju sosok yang semakin lama semakin besar setelah jarak kami semakin mendekat.
Itu adalah sosok anak laki-laki dengan penampilan seorang Pangeran.
Tanyaku pada diri sendiri.
Pangeran Richardo, kah?
Tanyaku lagi.
Namun sayang ketika aku ingin mendapatkan jawab dari sosok di hadapanku tersebut.
Suatu pasang tangan muncul di belakangku.
Mengatup kedua mataku dan mengatakan. "Belum saatny ...."
Aku tidak bisa mengenali suara tersebut.
Walaupun entah kenapa aku yakin aku tau pemilik suara tersebut.
Hanya saja entah kenapa aku masih merasa ragu.
Apalagi sosok tadi sudah akan menoleh dan menampakkan wajahnya.
Tetapi, aku malah dipaksa bangun oleh tangan dan suara tersebut.
Pada detik berikutnya kedua mataku terbelalak sempurna.
Kulihat kak Arvan tengah menggendong tubuhku.
"Maaf kan Kakak ... Kakak tidak bermaksud membangunkanmu."
Katanya dengan senyum sendu.
"Aku ... ketiduran, ya Kak?" tanyaku seolah tidak bisa mengingat apa-apa.
Kak Arvan pun menurunkanku di atas tempat tidur lalu duduk di sampingku.
"Kamu pasti capek."
Ucap kak Arvan lagi membelai kepalaku, "malam masih panjang. Tidurlah kembali."
Sambung kak Arvan kembali mengecup kepalaku.
"Kak Arvan?!" panggilku perlahan.
"Ya?" responnya dengan senyuman.
"Aku ... ada yang ingin kutanyakan ...."
Kataku ragu-ragu.
Kak Arvan yang excited langsung membenarkan cara duduknya yang miring.
Kini menghadapku yang sudah ikut duduk, walaupun dengan selimut yang sudah menutup sebagian tubuhku.
"Katakan saja Nainai. Kakak pasti akan senantiasa menjawabnya."
Ujarnya dengan senyum tulus.
"Kak Arvan ... apakah Kakak dan yang lainnya benar-benar tidak curiga padaku?"
Tanyaku kini yang tentunya membuat kak Arvan sadar bahwa aku sudah tak lagi menggunakan nama untuk memanggil diri sendiri.
Kutatap lekat-lekat kedua mata kak Arvan yang masih tertegun, heran.
"Aku tiba-tiba saja sudah bisa menggunakan sihir setelah terjatuh dari tangga dan pingsan selama tiga hari lamanya."
"Bukan hanya itu, tingkah laku dan bahasaku juga ikut berubah."
"Benarkah kalian tidak menaruh curiga pada hal itu?"
Aku yang tak mengerti kenapa malah menanyakan hal tersebut.
Hanya mampu memperhatikan bagaimana ekspresi kak Arvan ketika mendengarnya.
Kak Arvan hanya tersenyum, lebih tulus dari sebelumnya.
Kemudian, aku yang sedikit tertegun dengan kelakuan kak Arvan berikutnya, tak mampu berbuat apa-apa ketika kak Arvan menutup kedua mataku dengan satu telapak tangannya.
Dengan suara Ikemen-nya yang khas, kak Arvan berbisik merdu di telingaku.
"Jangan cemas, kan, apapun ... tidurlah, Tuan Putri yang datang dari dunia lain ...."
Kalimat terakhir itu kemudian membuatku tersadar bahwa mereka sudah mengetahui rahasiaku.
Namun, entah kenapa aku merasa sangat tenang dan kembali membiarkan rasa kantuk untuk menyelimutiku dan mengambil alih kesadaranku.
Begitu aku kembali membuka mata, rupanya hari sudah pagi.
"Selamat pagi Nona Naira! Apa semalam tidur anda nyenyak?" tanya Anne yang membuka gorden kamar untuk mempersilahkan cahaya matahari masuk.
Nyenyak?
Aku bahkan tidak tau apakah yang kualami dengan kak Arvan semalam itu hanya mimpi atau kah kenyataan. Tapi ... kalau benar itu bukan mimpi, berarti kak Arvan sudah tau kalau aku bukan Naira yang asli dong?!
WOW ...
saking syoknya aku sampai gak tau mau bereaksi seperti apa.
Aku yang sedang bingung dan speechless dengan pemikiranku sendiri, membiarkan saja Anne melakukan tugasnya.
Dimana biasanya aku merasa agak segan dan risih karena belum terbiasa.
Anne sendiri tentu saja merasa bahagia.
Dia terlihat seperti baru menang lotre.
Wajahnya terlihat senang bukan main.
Bisa memandikan dan mendandaniku sesuka hati tanpa kurespon seperti biasanya.
"KYAAAAA~ Nona Naira cantik sekali!!!" serunya membuatku sadar dari lamunan.
Aku hanya bisa berekspresi kaget dengan kedua mata terbelalak luar biasa.
"KYAAAA~ Nona Naira~ bisakah kita pamerkan penampilan baru anda pada semuanya?" pinta Anne yang memelukku dengan gemasnya.
Entah kenapa aku merasa seperti boneka mainan Anne yang ingin ia pamerkan pada semua orang.
HRRRR ... garutuku yang tak mampu kuutarakan.
Aku hanya bisa pasrah dengan Anne yang kemudian menggendongku ke ruang keluarga dimana semuanya tengah berkumpul sembari menunggu sarapan dihidangkan.
"Ayo Nona Naira cepat masuklah."
Paksa Anne yang sudah menurunkanku di depan ruang kelaurga dan kini memaksaku masuk ketika dirinya sendiri membukakan pintu untukku.
Aku tau kalau aku yang Naira sekarang ini sangat cantik, imut de el el.
Tapi, bisa, gak sih, gak usah pamer segala Anne.
Aku kan juga masih punya ke-malu-an ... i meant rasa malu.
"Ada apa Anne? Kenapa kau membiarkan Nona Naira masih berdiri di depan pintu."
Ucap Diego yang kemudian membukakan kedua daun pintu ruang keluarga lebar-lebar.
Aku yang kini sudah berdiri di ambang pintu dengan penampilan yang terpamer sempurna, membuat seluruh pemilik mata terpesona.
Aku tau kalau semua orang di keluarga Archduke sangat menyayangi Naira dan tidak pernah tidak terpengaruh oleh pesona yang dimiliki tuan putri kecil mereka satu-satunya.
Tetapi, setiap kali aku harus dihadapkan dengan ekspresi seluruh anggota keluarga yang sedang blushing hard, ketika melihat penampilan baru Naira yang mempesona, membuatku tak kalah merasa malu luar biasa.
Beberapa saat kemudian setelah sarapan pagi selesai,
Aku dan seluruh keluargaku yang kembali berkumpul di ruang keluarga, dikejutkan oleh laporan dari Derrick yang menyampaikan Surat dari kerajaan.
Surat itu bertanda tangan Pangeran Reynald.
Kak Roland yang menerimanya dari Derrick pun membuka Surat tersebut.
Karena penasaran, kak Derrick membaca isi surat tersebut.
Walaupun, surat itu sudah jelas-jelas di tujukan untukku.
"Apa isi surat itu Roland?" tanya kak Arvan tak kalah penasaran.
"Yang Mulia Putra Mahkota, Pangeran Reynald ingin datang berkunjung menemui Naira?!" nada kak Roland yang malah lebih terdengar seperti tanya itu membuat semua pemilik telinga di ruang keluarga tertegun.
NARATOR
Ikuti perjalanan kisah si Antagonis Innocent berikutnya ya :D