
Naira's POV
Wajah Araya sudah terlihat pucat pasi, walaupun di matanya bisa kulihat masih terdapat keraguan.
Meragukan kesungguhanku yang benar-benar akan menyakitinya.
Sigh ... sebenarnya Araya tidak salah menebaknya.
Mana sanggup aku menyakiti orang,
Aku tidak ingin dibenci, aku juga sebenarnya ingin sekali berteman dengan Araya.
Aku tidak ingin orang-orang yang sudah mempercayaiku dan menyayangiku, berpikir bahwa aku sudah benar-benar mulai berperilaku seperti iblis.
Aku tidak mau Naira berakhir sama dengan dia di dalam Novel.
Tetapi ...
AGH!!
Suara jerit dan rintihan tertahan itu, tentu saja membuatku terkejut.
"Cepat kau suruh Aedhira untuk segera memberikan buku mantranya padaku."
"Kalau tidak ..."
Ucap Xelvet yang sudah berdiri membelakangiku.
Tangannya yang besar mencekik leher Araya dan hampir emmbuat gadis itu tergantung hanya dengan satu tangan.
Mata seindah permata itu melirik padaku. '
Memberikan senyum penuh arti untuk kumengerti, bahwa dirinya berbuat hal itu agar aku tidak perlu turun tangan.
"See~ masih perlukah aku untuk meminta Xelvet menyiksamu agar kau dan kepala sekolah Aedhira mau percaya bahwa kalian berdua sudah tidak lagi punya kesempatan untuk meneruskan semua rencanamu ini?"
Kataku lagi membekukan hati yang melihat Araya tengah strugling untuk melepaskan cengkraman tangan Xelvet di lehernya.
Di dunia nyata.
Third Person's POV
Terlihat Araya yang sudah memegangi lehernya sendiri dan mulai kesusahan bernafas, seolah ada sesuatu yang tengah mencekiknya dengan sekuat tenaga.
"Araya!!!"
Seru kepala sekolah panik ketika tubuh Araya dipelukannya sudah seperti orang kejang-kejang.
"Lepaskan Araya\, dasar br*ngs*k!!!"
Teriaknya pada para pengeran yang tengah berdiri membelakangi Naira. yang mana juga tengah tertidur dipelukan kakak lelakinya.
"Bagaimana kami bisa melepaskan Araya kalau kau masih tidak mau memberikan buku mantra kutukan itu?"
Ucap Pangeran Reynald pada Aedhira yang masih menatapnya dengan amarah.
"Look here, Aedhira ... Aku juga punya hak untuk merasa marah kepadamu,"
"Aku bisa saja membunuhmu pada detik ini juga."
"Tapi bukan itu yang diinginkan oleh nona Naira."
Jelas sang Pangeran yang sudah berdiri tak jauh dari tempat kepala sekolah Aedhira duduk dengan Araya dipelukannya.
"Jadi kalau kau memang sangat menyayangi Araya seperti bagaimana kami menyayangi nona Naira."
"Segera berikan buku itu, atau kau akan segera memeluk tubuh tak bernyawa Araya."
Ujarnya lagi yang membuat Aedhira terkesiap.
Dengan berat hati, kepala sekolah Akhirnya membuka tangan kanannya.
Dari telapak tangannya yang tadi kosong muncul sinar yang kemudian membentuk sesuatu hingga akhirnya gumpalan sinar itu berubah menjadi buku.
Dengan kasar, Aedhira melempar buku tersebut pada pangeran Reynald yang menangkapnya dengan anggun.
Pangeran reynald kemudian memberikan buku itu kepada Kayana.
Dimana menurut penjelasan Naira, hanya orang-orang yang terlahir dengan warna iblis yang bisa membuat diagram sihir tersebut agar bekerja.
Dengan cekatan, Kayana menggambar diagram tersebut dengan mantra yang diajarkan oleh Naira.
Setelahnya, Kayana meminta Arvhein dan Aedhira untuk menempatkan tubuh Naira dan Araya pada diagram sihir yang dibuatnya.
Kemudian, Kayana berjalan ke arah diagram sihir yang sebelumnya dibuat untuk mengutuk Araya dan menaruh buku tersebut disana.
"Sepertinya kita sudah punya bukunya."
Ucap Xelvet yang kemudian melepaskan cengkraman tangannya dari leher Araya.
Mengacuhkan Araya yang tengah terbatuk-batuk dan mengatur nafasnya yang sesak.
Xelvet menghampiri Naira dengan buku ditangannya.
Keduanya tengah terlihat asik membuka halaman demi halaman buku tersebut,
Xelvet bahkan tak segan-segan duduk dibelakang Naira seperti memangku gadis mungil itu.
Mengabagikan kenyataan bahwa di dalam ruangan yang kini sudah berubah menjadi putih ini juga ada Araya.
"Bagaimana?"
"Apa ini buku yang benar?"
Tanya Naira yang tidak menyadari tindakan Xelvet dibelakang punggungnya.
"Aku rasa ini buku yang benar."
Jawabnya.
"Bagaimana kau bisa yakin?"
Tanya Naira lagi.
"Kau bisa lihat simbol pada diagram sihir ini."
"Ini adalah simbol iblis, jadi bisa dipastikan bahwa ini adalah diagram sihir kutukan."
Jelasnya menyandarkan dagu pada pundak Naira yang sensitif.
Hingga kemudian gadis itu menyadarinya dan mendorong wajah tampat Xelvet untuk menjauh darinya.
Xelvet hanya menanggapinya dengan tawa.
Melihat hal tersebut akhirnya membuat Araya angkat suara.
"Kenapa? Kenapa kau bisa mendapatkan semua yang semestinya menjadi milikku."
"Padahal seharusnya akulah yang dicintai semua orang."
"Seharusnya akulah yang menjadi perhatian semua orang."
"Tapi kenapa? Kenapa kau yang berada dalam tubuh gadis yang seharusnya menjadi bahan cemooh dan ditakuti semua orang yang malah lebih bahagia dibanding diriku saat ini?"
Ucapnya panjang lebar dengan tatapan kesal dan mengiba pada Naira.
"Apa jika aku menjadi kau ... maka nasibku akan sama sepertimu?"
Tanyanya lagi yang kini mendapat perhatian sepenuhnya dari Xelvet dan Naira.
"Kau ingin menjadi Naira?"
Tanya Naira dengan polosnya.
"Well ... coba kita lihat dulu, apa kira-kira ada mantra yang bisa memindahkan jiwa seseorang ke tubuh orang lain."
Sambungnya lagi yang malah membuat Araya dan Xelvet terkejut.
"Kamu bukannya serius mau menanggapi ucapan Araya, kan?!"
Tanya Xelvet yang malah mengambil buku tersebut dari tangan Naira.
"Memangnya kenapa? Kalau benar-benar bisa kenapa tidak? Aku tidak keberatan kalau menjadi Araya."
Ucap Naira dengan mimik wajah serius.
"Di dalam Novel, Araya diceritakan sebagai tokoh utama yang mampu mengambil hati dan simpati semua orang."
"Walaupun dia terlahir di keluarga baron, tapi dengan semua bintang keberuntungan yang memihaknya."
"Dia mampu menjalani hidupnya dengan mudah dan bahagia."
Jelasnya dengan senyum hangat pada Xelvet yang menatapnya dengan ketidak percayaan.
"Dibandingkan dengan Naira yang selalu hidup dengan cemooh dibalik punggungnya."
"Dikelilingi orang yang menjilatnya dengan kebohongan dan tipu muslihat."
"Dia harus berusaha sekuat tenaga untuk bisa diterima sebagai anak perempuan, manusia biasa."
"Tanpa bisa menyembunyikan kenyataan bahwa dirinya terlahir dengan warna iblis."
Katanya lagi tersenyum kecut.
"Kalau kau ingin menggantikanku menjadi Naira aku tidak masalah, kok."
"Aku malah akan sangat berterima kasih jika kau mau memberikanku kesempatan untuk menjalani hidup sebagai dirimu yang mampu membuat semua orang di sekelilingmu menyayangi dan bersimpati padamu."
"Araya ... meski tanpa sihir yang mempengaruhi kesadaran seseorang."
"Kau adalah sosok yang sangat dicintai dan disayangi."
"Aku harap kau bisa mensyukuri hal tersebut tanpa perlu berbuat sejauh ini."
Ucap Naira lagi kini menatap sendu ke arah Araya yang sudah terlihat sedikit terpuruk.
Mendengar hal tersebut akhirnya membuat Araya tak sanggup lagi menahan perasaannya.
"UWAAAAAAA!!! Maaf ... yang aku inginkan hanya agar aku bisa membuka hidden character yang ada di dalam game."
Katanya sesenggukan yang mana malah membuatku dan Xelvet membelalakkan mata dan mengangkat kedua alis tinggi-tinggi saking tidak mengertinya.
"Ummm ... nona Araya, mohon maaf karena aku kurang bisa menangkap apa maksud ucapanmu."
"Apa aku boleh minta tolong untuk dapat diulangi sekali lagi."
Tanya Naira yang dengan polosnya dan senyum kikuknya mengangkat tangan kanannya.
"Nona Naira tau, kan, kalau kita berdua berasal dari dunia lain."
Katanya mengawali ceritanya.
"Aku juga baru mengetahuinya ketika memasuki akademi Fairan, bahwa Kepala Sekolah Aedhira adalah Shakusa yang selama ini aku cari."
Katanya yang langsung disambut dengan keterkejutan oleh Naira.
"SERIUS????? Beliau adalah si pengarang Novel My Precious Princess itu??"
tanya Naira lagi saking tidak percayanya kini sudah merangkak cepat mendekati Araya.
tidak memperdulikan Xelvet yang sudah berusaha mencegahnya.
Ujar Araya yang semakin membuat Naira ternganga.
"Amazing ... aku tidak pernah menyangka bahwa selama ini Kepala Sekolah Aedhira adalah juga orang yang berasal dari dunia lain dan dia adalah developer dunia game ini pula."
Bisik Naira pada dirinya sendiri.
"Pantas saja aku merasa aura yang dimilikinya berbeda dengan orang lain namun sama dengan kalian berdua."
Ungkap Xelvet yang tiba-tiba ikut nimbrung dalam perbincangan kedua gadis imut tersebut.
"Tidak heran jika dia tau betul megenaiku dan juga nona Naira."
katanya lagi pada Naira yang kini terlihat tengah berpikir keras.
"Aku kira kepala sekolah Aedhira mengetahui hal ini karena Araya."
"Maaf, aku jadi melimpahkan semua kecurigaanku selama ini padamu."
Ucapnya yang sudah membungkuk, mengagetkan Araya dan Xelvet dengan caranya yang tiba-tiba.
"Tidak apa-apa nona Naira ... wajar saja jika anda mencurigai saya."
Ucap Araya panik yang malah makin membuat Xelvet kembali mengangkat alisnya tinggi-tinggi saking herannya.
"Hey ... bukankah kalian berdua seharusnya tengah bersih tegang?"
"Kenapa sekarang kalin berdua malah terlihat seperti sahabat yang baru saja meluruskan kesalahpahaman?"
Omelnya lagi seolah tidak terima.
"Benar, kan, semuanya memang hanya sebatas kesalah pahaman saja.'
Ucap Naira yang sudah terlihat memeluk Araya dengan senyum ceria.
"Aku sudah merasa bahwa pasti ada alasan mengapa nona Araya sampai mau berbuat sejauh ini."
"Aku hanya ingin berharap bahwa karakter yang sangat aku sukai, nona Araya yang ada dalam novel tidak sedang ditinggali oleh jiwa yang akan merusaknya."
"Ah ... maaf tidak seharusnya aku berkata seperti ini."
Kata Naira sedikit panik.
Araya terkekeh dengan bagaimana ekspresi Naira bisa berubah-ubah setiap detik pada setiap kalimat yang dilontarkannya.
"Apa nona Naira mau mendengarkan alasan saya?"
Tanya Araya kini kembali menggunakan bahasa formalnya.
"Tentu saja nona Araya."
"Kita berdua, kan, teman~"
Jawab Naira dengan riangnya.
Di dunia nyata.
Xelvet kembali muncul dihadapan semua orang yang ada di sana.
Tak lama setelahnya, Naira membuka matanya, tubuh mungilnya berusaha bangun dari lantai dan menggeliat dengan gemasnya.
"Hwaamh rasanya sudah lama aku tidak tidur senyenyak ini."
Ucap Naira yang belum menyadari bahwa orang-orang sudah berhamburan mendekatinya.
"Nainai!!"
"Naira!!"
"Nona Naira!!"
Kedua Pangeran, para kakak lelaki Naira, penyihir Kayana sudah mengerubung di sekeliling Naira.
Melempari gadis imut itu dengan berbagai pertanyaan.
Namun, belum sempat Naira menjawabnya.
"Araya!! ARAYA!!!"
Teriakan kepala sekolah tentu saja membuat semua pemilik telingan diruangan tersebut menoleh ke arahnya.
Di dalam oelukan kepala sekolah Araya masih belum membuka matanya.
Ekspresi cemas terlihat di wajah semua orang kecuali Xelvet, Raja Peri dan Naira sendiri.
"Kau ... bukankah kau bilang bahwa kau akan mematahkan kutukan pada Araya ..."
"Mana janji yang kau berikan padaku!!!"
Serunya yang sudah menatap ke arah Naira dengan ekspresi marah.
Ketika sang kepala sekolah sudah akan melancarkan serangan.
Satu sentuhan lembut di telapak tangannya membuat semua orang tertegun.
"Selamat pagi, Pak Kepala Sekolah."
Sapa Araya yang sudah memberikan senyum manis kepadanya.
Rupanya pemandangan tersebut cukup mampu membuat semua orang yang ada di raungan ini menghembuskan nafas lega.
Kepala sekolah yang melihat Araya sudah memberikan senyum termanis kepadanya.
Langsung memeluk gadis itu erat.
Tentu saja hal tersebut membuat Naira ikut tersenyum senang.
Araya terlihat tengah membalas pelukan sang kepala sekolah dan mengusap-usap punggung lebar itu dengan tangan mungilnya.
Aedhira yang tak mengucap sepatah kata pun nampaknya membuat Araya sedikit merasa cemas.
"Kepala sekolah?"
panggil Araya lembut.
Berharap pria dewasa yang tengah memeluknya ini bisa mengatakan sesuatu atau paling tidak merespon pada panggilannya.
"Maaf ... aku hanya merasa lega bahwa kamu sudah kembali membuka mata."
Katanya yang sudah melepaskan pelukannya pada Araya dan kini membelai kedua pipi gadis manis itu dengan lembut.
Kedua matanya yang berwarna hitam pekat itu menatap lekat kedalam bola mata Araya.
hingga kemudian
cup~
Bukan hanya Naira dan yang lainnya, bahkan Araya sendiri sangat amat kaget dibuatnya.
Araya sangat mengenal kepala sekolah dibanding siapapun.
Dan beliau bukanlah sosok yang akan memperlihatkan keintimannya dengan seseorang yang ia kasihi di hadapan orang lain.
"Ke-kepala sekolah ..."
Wajah Araya sudah terlihat sangat memerah seperti kepiting rebus.
Melihat ekspresinya yang seperti itu tentu saja membuat Kepala sekolah Aedhira jadi makin tersenyum bahagia,
Digendongnya Araya yang terlihat makin salah tingkah dibuatnya.
"Kepala sekolah?"
Araya yang kaget terpaksa menggelayutkan kedua lengan mungilnya ke pundak sang kepala sekolah.
Melihat sosok dewasa itu sudah berdiri gagah, rupanya masih cukup membuat orang-orang disekitar Naira menjadi waspada.
Namun, ternyata pada detik berikutnya Aedhira sudah berbalik.
"Aku yakin urusan kita sudah selesai sampai di sini."
"jadi bisakah kau melepaskan mantra pengurung ini?"
"Aku yakin nona Naira juga butuh istirahat di kamarnya."
Ucap sang kepala sekolah tanpa menoleh sedikitpun saat memunggungi Naira dan yang lainnya.
Penyihir Kayana menoleh ke arah Naira yang di balasnya dengan anggukan.
Dengan sekali ucap. diagram sihir yang sudah terpasang di dalam menara penyihir ini musnah seketika.
tanpa menunggu lama, kepala sekolah pun berjalan keluar melewati jendela kamar Kayana.
Namun, sebelumnya Araya yang sempat mengintip dari balik tubuh sang kepala sekolah tersenyum pada Naira dan melambaikan tangan padanya.
Naira yang melihatnya ikut tersenyum lembut dan membalasnya.
Tentu hal tersebut membuat semuanya menoleh ke arah Naira dengan penuh tanda tanya.
"Etto~ bisakah kita bereskan semua kekacauan yang ada disini sebelum kaliam melempariku dengan segala macam pertanyaan?"
Tanya Naira dengan senyum polosnya.
"Lagipula aku juga sebenarnya sudah sangat lapar."
sambungnya lagi dengan seringai kuda.
Melihat ekspresi tersebut tentu saja membuat kedua kakak lelaki Naira langsung memberikan pelukan erat kepada adik perempuan mereka satu-satunya.
Walaupun sangat ingin.
kedua pangeran tau bahwa kakak lelaki Naira tidak akan pernah mungkin membiarkan mereka memeluk gadis yang sangat berharga itu.
Dan bisa jadi akan ada konflik baru jika kedua pangeran masih nekat ingin memeluk Naira saat kakak lelakinya yang super overprotective dan possessive itu tengah ada bersamanya.
Jadilah kedua pemuda tampan itu hanya bisa memberikan senyum lega dan bahagia pada Naira.
NARATOR
session kedua sudah selesai sampai di sini ya
apa sudah tamat?? iya sudah dong
maksudnya untuk session keduanya hahahaha
tentu saja petualangan nona Naira dan yang lainnya masih belum berakhir
lagipula pengembangan tokoh dan cerita mereka juga belum dibuat
untuk itu Author mau rehat
dan sebagai gantinya mau meneruskan Novel "I Was Loved and Doted by The Villains"
Yups~ paling tidak sampai session pertamanya selesai hehe~
Terima kasih untuk kalian yang sudah mensupport cerita ini sampai sejauh ini
Sampai ketemu lagi di session ketiga ^O^)/
LOVE YA ALL