
Third Person's POV
Sekembalinya Pangeran Richardo dari kamar asrama Naira.
Dirinya yang merasa tak ingin kembali ke kamar asramanya sendiri memutuskan untuk berjalan-jalan sejenak. Mengacuhkan pesan kedua Butler dan ksatria pelindungnya agar segera kembali ke asrama, setelah satu jam. Dirinya yang sejak awal sengaja tidak ingin dikawal oleh siapapun untuk menengok Naira, berjanji akan kembali begitu urusannya selesai.
Pangeran Richardo masih merasa terganggu dengan cerita Naira, soal mimpi itu dan kejadian yang akhir-akhir ini sering menimpanya, semenjak kedatangan gadis misterius bernama Araya itu.
Ia percaya pada Naira, tapi tidak ingin mempercayai mimpi yang mengatakan, bahwa dirinya berjodoh dengan Araya.
Bahkan, dengan tega menghukum Naira karena sudah melukai Araya.
Jika mimpi itu memang suatu prediksi untuk masa depan mereka.
Richardo ingin sekali mengubahnya.
Dia tidak ingin kehilangan Naira.
Mungkin, apa yang pernah dikatakan oleh Naira padanya dulu itu benar, bahwa Naira-lah satu-satunya teman yang paling dekat yang dimiliki oleh Richardo.
Naira-lah gadis pertama yang dikenal oleh Richardo dan mungkin juga, Naira-lah orang pertama yang disukai oleh Richardo selain anggota keluarga kekaisaran.
Pangeran Richardo yang tengah disibukkan dengan dunia permasalahan di dalam kepalanya, tidak menyadari bahwa dirinya sudah berjalan terlalu jauh, hingga hampir melewati batas aman dari lahan terlarang.
"Bagaimana aku bisa sampai ketempat ini?" tanya Pangeran Richardo dalam hatinya sendiri.
"Hhhh ... sepertinya aku melamun cukup serius."
Keluhnya sembari menggeleng-gelengkan kepala.
Ketika kakinya yang sudah berbalik arah akan melangkah pergi meninggalkan tempat tersebut.
Richardo mendengar suara langkah kaki dari lahan terlarang.
Sebenarnya tempat tersebut dinamakan "Lahan Terlarang" bukan karena sesuatu yang berbahaya.
Hanya saja, lahan tersebut dilarang untuk dilewati oleh siapapun karena merupakan asset pribadi milik Pangeran Reynald di bawah nama kekaisaran negara Caylon.
Lahan yang diatasnya berdiri bangunan sekolah lama itu akan dibangun ulang menjadi asrama bagi transfer student dari negara Caylon.
Maka dari itulah sekolah membatasi sekeliling lahan dengan sebuah tanda, yaitu green ribbon yang bersinar dimalam hari.
Dari balik semak belukar di sisi gedung sekolah, Richardo mendengar sura orang berbincang-bincang.
Itu adalah suara seorang gadis dan seorang pria.
"Kemana semua panjaga lahan ini?"
Tanya Richardo heran, karena seharusnya sang ayahanda sudah mengutus beberapa penjaga dari istana Iztanha untuk menjadi penjaga lahan terlarang.
Richardo menoleh ke sekelilingnya, tak ada seorang pun selain dirinya dan kedua sosok misterius di dalam lahan terlarang.
Richardo yang sejak awal sudah mulai mengendap-endap masuk ke lahan terlarang. Kini memutuskan untuk menginvestigasi. Sayangnya, dia masih terlalu kecil untuk menghadapi dua orang sekaligus. Walaupun dia percaya kekuatannya sebagai seorang Assasimage akan cukup mampu untuk melumpuhkan dua orang sekaligus. Ketika Pangeran Richardo sudah cukup dekat dengan lokasi keberadaan dua sosok misterius itu.
"Kau tidak perlu mencemaskan apapun."
Ucap suatu suara yang berasal dari sosok seorang pria.
Wajah pria itu tak dapat dikenali karena tertutup bayangan gedung.
"Sebagai seorang Sakusha, aku percaya semuanya akan berjalan sesuai keinginanmu."
Richardo masih mampu meihat bagaimana senyum itu terukir di bibir si pria misterius.
Tangannya membelai kepala sosok gadis yang tingginya hampir sama dengan Naira.
Karena posisi gadis itu memunggungi pandangannya.
Richardo tidak bisa mengetahui siapa gadis itu sebenarnya.
"Sudah kubilangkan, aku bukan Sakusha. Aku di sini juga untuk mencari keberadaannya."
Ucap sosok gadis itu berbisik pelan.
Meskipun, Richardo masih cukup mampu mendengarnya.
"Tidak apa-apa jika kau tidak percaya. Nanti kau juga akan melihat bagaimana semua orang akan tunduk di bawah pengaruhmu."
Kata pria misterus itu lagi, kini mengecup puncak kepala si gadis lalu berbalik pergi.
Richardo yang berniat untuk mengejar sosok pria misterius itu, tanpa sengaja menginjak daun kering.
Suara itu membuat si gadis menjadi waspada.
Gadis itu pun berbalik dan berlari pergi berlawanan arah dengan si pria misterius itu.
"Ck ... sial."
Umpat Pangeran Richardo berdecak lidah.
Pangeran muda itu pun memutuskan untuk pergi dari lokasi karena merasakan adanya bahaya.
Dia melakukan sihir teleportasi untuk langsung menuju ke kamarnya.
Namun, ketika dirinya membuka mata.
"Pa-Pangeran Richardo ... apa yang sedang Anda lakukan di kamarku???" tanya sosok seorang gadis cantik yang semenjak tadi mengacaukan pikirannya.
Pangeran Richardo terkejut saat mengetahui, bahwa sihir teleportasinya bukan mengirimnya ke kamar asramanya sendiri.
Melainkan ke kamar Naira.
Wajah Pangeran Richardo tampak memerah saat melihat Naira sudah memeluk sebuah boneka plushy berbentuk seekor Blaid, di atas ranjangnya.
"Ma-ma-maafkan aku ...."
Ucapnya dengan panik yang kemudian bergegas membuat portal yang benar-benar akan menuju ke kamar asramanya sendiri.
Naira sendiri hanya bisa bengong dan bertanya-tanya sambil masih merangkul Kyuven disisinya seperti guling.
"A-apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Naira terheran-heran dengan kejadian tadi.
"Tadi ... kamu seharusnya terlihat seperti boneka, kan Kyuven?"
Tanya Naira kini menoleh ke arah Kyuven yang hanya memberikan jawaban dengan suara Aun.
Sementara itu,
Di kamar Pangeran Richardo.
Bayangan Naira lagi-lagi membuat pikiran pemuda berusia dua belas tahun itu sedikit kacau.
Pasalnya, sihir teleportasi ruang adalah dimana suatu kekuatan antar waktu dan dimensi mampu mengirimmu dari suatu ruang ke tempat lain yang ada di benakmu.
Cara kerjanya sebenarnya sangat mudah, si pengguna hanya perlu memikirkan tempat yang akan di tujunya.
Namun, entah kenapa Pangeran Richardo malah tidak mampu memikirkan hal lain selain Naira.
Bahkan ketika disaat dirinya sudah sangat berkonsentrasi dengan mencuri dengar perbincangan dua sosok misterius, di lahan terlarang waktu itu pun.
Rupanya tak mampu mengalihkan pikirannya akan Naira.
"AAAARRRRGGH!!!"
Jerit Pangeran Richardo mengacak-acak rambutnya.
Dirinya kini sudah berada di atas ranjang, dalam kamar asramanya sendiri.
Tak lama kemudian, kedua Butler dan Ksatria penjaganya datang menghadap.
Richardo yang kembali memasang wajah tenang dan serius mulai angkat bicara.
"Aku ingin kalian mencari tau dimana keberadaan para penjaga lahan terlarang yang sudah diperintahkan oleh Ayahanda."
Ucapnya kini pada ksatria pelindungnya.
"Yang Mulia Richardo, apakah Anda bersedia menceritakan pada saya, apa yang telah terjadi pada Anda sebenarnya?"
Tanya Butler Richardo dengan wajah cemas.
Ksatria pelindungnya hanya membungku sopan, memberi salam sebelum beranjak pergi meninggalkan kamar Richardo, untuk menunaikan tugas yang telah dipercayakan kepadanya.
Richardo nampaknya sangat berterima kasih pada Butlernya.
Berkat hal itu, nampaknya Richardo bisa kembali fokus dan mampu memikirkan apa yang sebenarnya terjadi dan siapa dua sosok misterius yang ditemuinya itu.
Dia yakin pernah mendengar kedua suara yang berasal dari sosok-sosok misterius tersebut.
Tapi, entah kenapa seolah Richardo melupakannya sama sekali.
"Aku bertemu dua orang di dalam lahan terlarang."
Kata Richardo mengawali.
"Maksud Anda? Ada penyusup yang masuk ke lahan terlarang?" tanya sang Butler pada masternya.
"Aku tidak tau apakah mereka penyusup ataukah hanya penduduk akademi yang melakukan pertemuan rahasia di sana."
"Yang jelas, kedua orang itu sangat mencurigakan dan nampaknya akan merencanakan sesuatu."
"Walaupun, aku tidak tau apakah itu?" jelasnya masih dengan wajah serius.
"Apakah mereka tau kalau Anda memata-matai mereka?" tanya Butler-nya dengan ekspresi cemas.
"Tidak, pria misterius itu pergi begitu saja meninggalkan gadis kecil itu."
"Lalu, ketika aku berniat ingin mengikuti kepergian pria itu, kakiku tanpa sengaja menginjak daun kering dan membuat gadis itu menjadi panik lalu pergi."
Terangnya pada sang butler.
"Saya bersyukur karena Anda baik-baik saja. Yang Mulia, tolong Anda bisa sedikit berpikir mengenai keselamatan Anda sendiri."
"Bagaimana bisa seorang Putra Mahkota, calon kaisar berikutnya malah mengendap-endap ke lahan terlarang untuk memata-matai orang mencurigakan."
Ujar Butler Pangeran Richardo panjang lebar, yang mana ia artikan sebagai omelan.
"Sudah aku bilang aku baik-baik saja, kan."
Kata Pangeran Richardo lagi membela diri.
"Bagaimana Anda bisa bilang kalau Anda baik-baik saja."
"Bagaimana kalau ternyata ada orang lain selain mereka berdua yang ternyata sudah mengintai Anda."
"Kali ini Anda mungkin bisa kembali ke kamar Anda dengan selamat."
"Tapi, bagaimana kalau ternyata orang-orang yang Anda sudah mata-matai itu malah kini menargetkan anda?"
Tutur si Butler lagi yang membuat Pangeran Richardo menutup kedua telinganya dengan telapak tangan dan membuat ekspresi pokerface, karena butlernya tersebut masih ingin berkomentar lain lagi.
"Kalau kau tidak punya keperluan lain selain menceramahiku, sebaiknya tinggalkan aku agar aku bisa beristirahat."
Ucap Richardo keki dengan bagaimana Butler-nya itu bersikap menggantikan kebawelan ibundanya.
"Kalau Anda memang ingin beristirahat."
"Seharusnya Anda sudah berada disini sejak tiga puluh menit yang lalu."
"Bukannya malah berkeliaran tidak tentu arah setelah berjanji akan langsung pulang ke asrama."
"Setelah menemui Nona Naira."
Protest Butlernya lagi yang makin membuat Richardo cemberut kesal.
Bukan karena masalah dia diomeli dan membuat kedua kupingnya panas.
Melainkan, omongan Butlernya itu kini jadi membuat Pangeran Richardo kembali memikirkan Naira. Bagaimana sosok gadis secantik boneka hidup itu terlihat sangat terkejut saat melihatnya.
Kedua pipi itu terlihat merona begitu merah dan menggemaskan.
Seolah terpergok bahwa meskipun dia nampak berubah dalam sifat dan gaya bicaranya.
Gadis itu masih memiliki boneka raksasa untuk dipeluknya saat tidur.
Membayangkan bagaimana sosok Naira tidur sembari memeluk boneka anjing raksasa itu membuat Richardo tersenyum. Senyum yang semakin lama semakin mengembang dengan tatapan hangat. Sang butler yang melihat perubahan ekspresi Tuan mudanya hanya berharap, bahwa Putra Mahkota bukannya menyukai sesi ceramahnya. Atau bhakan sudah mulai merasa senang saat mendapat omelan.
Karena itu akan membuat seluruh bulu kuduk di tubuhnya meremang.
"Apa yang sebenarnya sedang Anda pikirkan Yang Mulia?" tanya butlernya penasaran.
Sekaligus ingin membenarkan, bahwa dugaannya sangat terbukti salah.
"Ti-tidak ada ...."
Jawab Pangeran Richardo dengan wajah tersipu-sipu yang makin membuat Butler-nya cemas.
"Anda bukannya suka saya omeli, kan Yang Mulia?" tanya Butlernya lagi dengan sebelah alis yang terangkat tinggi-tinggi.
"Apa maksudmu dengan aku menyukai omelanmu."
"Aku malah berharap kau bisa segera berhenti karena telingaku sudah kepanasan dari tadi."
Protest Pangeran Richardo lagi, yang tampaknya cukup membuat Butler-nya puas.
"Kenapa kau malah tersenyum dengan tidak jelas seperti itu?" tanya Pangeran Richardo dengan lirikan aneh.
"Anda tidak ingin mengatakan alasan kenapa Anda tersenyum seperti itu tadi, kepada saya."
"Jadi kenapa saya juga harus mengatakannya pada Anda."
Jawab Butler-nya dengan wajah datar yang membuat Pangeran Richardo tersentak kaget.
"Apa maksudmu? Jadi kau ingin membalas kelakuan tuan Mudamu sendiri?" tanya Richardo tidak terima.
"Tentu saja. Itu untuk mengajarkan anda agar tidak bersikap egois."
Ujar butlernya dengan senyum bangga.
Kedua mahluk Adam itu pun masih juga berdebat.
Bagi Pangeran Richardo, Takashi, Butlernya adalah sosok yang mampu menggantikan seorang ibu, guru, maid sekaligus kakak.
Maka dari itulah keduanya tidak bersikap selayaknya Butler dan master.
Richardo tidak pernah sama sekali mempermasalahkan sikap Takashi kepadanya.
Karena Richardo menyayangi pemuda itu selayaknya kakak sendiri.
Begitu pula dengan Takashi, Butler muda itu juga sudah menganggap Pangeran Richardo sebagai adik laki-lakinya.
Yang harus ia jaga, bukan hanya sebagai seorang master.
Tapi, juga keluarga.
Takashi berasal dari keluarga Marquis Masquerdo.
Anak laki-laki termuda dari tiga bersaudara di keluarganya.
Dia dan ayahnya sudah lama mengabdikan diri pada keluarga kekaisaran.
Oleh karena itulah Takashi diangkat menjadi Butler secara langsung oleh Maharaja.
Takashi jugalah yang mengetahui betapa kesepiannya Pangeran Richardo dan bagaimana nona muda Van Vellzhein menjadi teman bermain pertamanya.
Nona muda yang terlahir dengan warna Iblis itu tidak sejahat panggilan orang-orang terhadapnya.
Walaupun, awalnya Takashi tidak bisa mempercayai Putri Archduke begitu saja.
Keluguan dan kenaifan Naira rupanya mampu melunturkan kecurigaan Takashi, hingga pemuda itu selalu berusaha mendekatkan kedua anak itu.
Takashi banyak mendengar cerita Naira dari Tuan Muda itu.
Cerita tentang bagaimana gadis cilik itu sudah banyak berubah sejak kecelakaan yang menimpanya di tangga mansion kediaman Archduke.
Ia tau Tuan Mudanya sangat cemas.
Namun, egonya selalu menekan keinginan tulus anak itu untuk bersikap peduli.
Takashi hanya berharap agar tuan mudanya bisa berbahagia dengan Naira.
Karena bagi Takashi, hanya Naira-lah yang pantas mendampingi Richardo.
Tidak peduli dengan bagaimana orang lain menilai penampilan gadis secantik boneka itu.
"Baiklah Tuan Muda, sepertinya sudah saatnya saya pamit untuk membiarkan Anda beristirahat."
Ucap Butler Richardo itu membungkuk hormat.
"Seharusnya kau lakukan hal itu sejak awal."
Celetuk Pangeran Richardo berpura-pura kesal.
"Selamat malam Tuan Muda."
Ucap Takashi dengan senyum, tidak peduli dengan bagaimana tuan mudanya itu cemberut.
Takashi pun beranjak pergi meninggalkan kamar Richardo.
Pangeran Richardo pun merebahkan tubuhnya, terlentang di atas tempat tidur.
Sembari memandangi langit-langit kamarnya.
Pikiranya kembali terbang ke tempat Naira.
Kedua pipinya sudah mulai bersemu merah lagi.
BERSAMBUNG :D
Ikuti terus perkembangan cerita nona Naira yang berusaha menyelematkan dirinya dan orang-orang dari Bad Ending.
Sampai Jumpa di episode berikutnya ^-^)/