
Naira's POV
Beberapa saat setelah mendapatkan surat pemberitahuan dari Kerajaan Iztanha.
Kini aku sudah berhadapan dengan Pangeran Reynald.
Di taman bunga di belakang Mansion kediaman Archduke, Anne dan Derrick benar-benar meninggalkanku berduaan saja dengan si pangeran di gazebo taman.
Tak hanya mereka berdua, bahkan seluruh anggota keluarga Archduke Van Vellzhein tak ada satu pun yang mampu membangkang perintah sang putra mahkota.
Dia bahkan tidak membiarkan Butler dan pengawal pribadinya untuk stay menjaga tuannya.
Aku yang kini tengah duduk dengan pose kaku akibat tatapan mata sang pangeran yang menusuk ke relung kalbu.
Gosh Pliz bisa, gak sih, Anda ngeliat ketempat lain aja?
Emangnya hamba ini cuman satu-satunya pemandangan di taman ini, kah?
Iya hamba tau kalau tampang Naira itu lebih cantik dibandingkan dengan keindahan taman mana pun.
Tapi, ya kalau hamba yang nempatin badan se-adorable ini dan lagi diperhatiin sama Ikemen kek Anda.
Mana kuat hambaaaaaaa!!
Jeritku sendiri yang pastinya tak mungkin kuutarakan pada orang yang bersangkutan.
Aku yang tak tau harus ngomong apa, kendati si pangeran sendiri juga tidak berkata sepatah kata selain memperhatikan diri ini, yang sudah didandani dengan cantiknya oleh si Maid handal bernama Anne, sebelumnya.
Aku pun membuang perhatianku ke arah lain, dimana tanpa sengaja mataku menemukan bunga Lycorise berwarna merah dan putih tak jauh dari gazebo tempat kami berteduh.
"Apakah berduaan denganku membuat Nona Naira merasa bosan?" tanya sang pengeran yang tiba-tiba angkat bicara.
Aku yang terkejut, langsung menggeleng cepat.
"Bukan ... tentu saja tidak seperti itu, Yang Mulia. Saya hanya tertarik dengan bunga Lycorise itu."
Kataku mencari alasan.
Sengawur kedengarannya.
Mau bagaimana jadinya aku tak peduli yang penting bishounen satu itu mau melepaskan tatapan matanya yang mampu melelehkan wajah ini karena malu.
Melihat bagaimana Pangeran Reynald akhirnya memalingkan perhatiannya ke arah mataku menatap.
Merasa sedikit lega, aku pun akhirnya mampu mengambil secangkir milk tea yang sudah semenjak tadi terhidangkan di hadapanku.
Aku yang tak sadar tengah mendapat perhatian kembali dari sang pengeran saat meneguk teh.
Hampir saja menyemburkan teh yang kuminum tersebut saat tanpa sengaja, pandangan mata kami bertemu.
Glek!!
kuberikan senyum ternatural mungkin saat si pangeran kembali memberiku senyum penuh arti.
"Aku tidak sadar kalau sudah membuat Nona Naira merasa tidak nyaman."
Ungkapnya lagi yang membuat senyumku makin lama makin terasa memaksa.
"Mana mungkin saya bisa merasa tidak nyaman saat bersama Anda Yang Mulia."
"Apalagi Anda sudah dengan susah payah datang kemari demi mengunjungi saya. Tentu saja ini merupakan kehormatan bagi keluarga kami."
Ucapku berusaha sesopan dan senormal mungkin.
"Well, kalau memang seperti itu, aku merasa senang mendengarnya."
Katanya lagi ikut mengambil secangkir milk tea di hadapannya.
Aku pun menghembuskan nafas lega.
Kembali kuedarkan pandangan ke arah lain.
Aku tidak pernah menghitung sudah berapa lama aku tinggal di kediaman Archduke menajdi Naira atau bahkan menghitung sudah berapa lama aku hidup setelah bereinkarnasi.
Yang bisa kuingat adalah ini pertama kalinya aku melihat taman ini dari Gazebo.
Biasanya aku melihat taman ini dari luar pagar tanaman Mawar atau dari jendela mansion.
Jadi aku tidak terlalu akrab dengan tempat ini.
Walaupun, ingatan Naira cukup mampu memberikan gambaran mengenai tempat ini sebelumnya.
Aku yang masih sibuk dengan pikiran dan ingatanku sendiri, tidak menyadari akan tatapan Pangeran Reynald yang seolah meneliti.
"Ran ...."
Kata sang pangeran membuatku kembali ke dunia nyata.
"Maaf?" tanyaku ramah.
"Rana, Nara, Naira ...."
Sambung sang pangeran lagi benar-benar tak mampu kupahami.
Pandangan mata dan senyum itu hanya mampu kubalas dengan kerjapan mata yang mana artinya aku sama sekali tak mengerti.
Apakah pangeran sedang bermain kata-kata?
Uhm ... Scribble ya?
Tanyaku masih bingung sendiri.
Tak menyadari bahwa kepalaku sudah miring sambil ketip-ketip memperhatikan pangeran Reynald yang malah, terkekeh melihat tingkahku tersebut.
"Apa Nona Naira tau, kalau nama-nama yang kusebutkan barusan mengandung arti yang saling berkaitan dan melengkapi?" tanyanya yang langsung kusambut dengan gelengan kepala.
Sungguh, kalau seandainya saja saat itu sudah ada gadget, mungkin aku sudah bertanya pada mbah Goegle tentang arti dari kata-kata tersebut.
Beberapa detik setelah keheningan di antara kami berlalu.
Pangeran Reynald pun mulai menerangkan.
"Ran, Rana, Nara, Orchid, something beautiful and the Oak Tree. Apa Nona Naira tau, nama apa yang cocok untuk melengkapi arti dari nama anda?" tanya sang pengeran lagi seolah menggoda.
Sekali lagi aku hanya bisa menggeleng.
Karena pertama, aku memang tidak tau dan yang ke dua, aku sama sekali tidak paham akan maksud pangeran Reynald yang menanyaiku perihal tersebut.
"Anara."
Katanya lagi yang membuatku kaget setengah hidup.
Seolah kesambar petir.
Kalau saja aku tidak mampu mengendalikan rasa terkejutku, mungkin cangkir milk tea yang ada di tanganku ini sudah jatuh dan pecah berkeping-keping di lantai gazebo.
"Naira, Anara which means The shining shooting star."
Jelasnya menerangkan.
Aku hanya bisa memberi Pangeran Reynald senyum garing.
Walaupun, garing juga aku yakin dengan tampang Naira yang imut dan menggemaskan kegaringan tersebut masih gurih dan renyah menggugah selera.
"Bukankah kedua nama itu sangat cantik ketika saling melengkapi?" tanya pangeran Reynald yang hanya kujawab dengan tawa garing.
MAMPUS GUE KETAHUAN SUDAH!!!
Keluhku dalam hati yang kemudian sadar akan satu hal.
Lho? Wait!!
Bagaimana bisa aku ketahuan?
Padahal aku, kan, sudah menyamar.
Kini tatapanku tertuju tajam pada sang pangeran yang masih menyunggingkan senyum di bibirnya.
Mungkin aku cukup mengikuti alurnya saja.
Selama dia tidak mengatakan apapun lebih baik diam, Naira.
Ucapku pada diri sendiri.
"Anda memang benar pangeran. Nama Naira dan Anara bila disatukan memiliki arti yang luar biasa cantik." Ungkapku sok Innocent sembari menepuk kedua tangan, setelah meletakkan cangkir teh tersebut kembali ke meja.
Melihat reaksiku yang berubah menjadi normal dan natural rupanya sedikit membuat pangeran Reynald tertegun.
Walaupun, begitu sepertinya hal tersebut bukan berarti bahwa dia akan berhenti sampai di situ saja.
"Saya senang jika Nona Naira menyukainya, karena bagaimanapun bagi saya, kedua nama itu sangat cocok buat anda."
Imbuhnya lagi yang makin membuatku mati kutu.
Balasku yang sok tak mau tau.
Reynald's POV
Ekspresi Naira yang sangat terlihat dengan bagaimana Nona kecil itu meyembunyikan keterkejutannya, benar-benar sangat manis.
Aku jadi tidak bisa berhenti menggodanya.
Sejak hari itu aku sudah menebak bahwa Anara yang kutemui di pinggiran kota Faireniyan adalah Tuan Putri dari Archduke Van Vellzhein.
Mulai dari Aura Mana mereka, kilauan rambut dan mata berwarna ungu itu.
Aku memang tidak bisa mempercayai atau tepatnya masih belum mampu mempercayai kenyataan bahwa, gadis sekecil dirinya bisa melakukan sihir sulit seperti menyamar dan teleportasi.
Skill yang dimiliki gadis ini selevel dengan penyihir berambut hitam di menara Iztanha.
Satu-satunya penyihir yang pada masa mudanya sudah meraih level SSS.
Aku tau kalau keluarga Archduke memang memiliki darah penyihir.
Tetapi, mana mungkin bagi gadis yang tak mendapatkan pengenalan tentang sihir mampu melakukan sihir sulit dan complicated seperti itu.
Satu yang bisa kutebak adalah Nona Naira yang saat ini tengah bersamaku bukanlah dia yang dulu.
Melainkan seseorang yang kemudian berhasil membangunkan kekuatannya.
Aku memang tidak bisa mempercayainya begitu saja.
Tapi, bagaimanapun juga Naira dan Anara harus bisa menjadi milikku seutuhnya.
Kuperhatikan lagi bagaimana Nona kecil itu berusaha bereaksi senatural dan senormal mungkin.
Dengan anggunnya, gadis itu tersenyum malu.
Membuat siapapun yang lihatnya mungkin sudah akan berlari memeluk gadis yang sudah terlihat seperti boneka hidup itu.
Kedua mataku tertuju pada telapak tangan kanannya yang tengah terpamer indah ketika dirinya tengah meneguk secangkir teh untuk meredam kegugupannya.
Ketika jemari itu terpapar sinar matahari, suatu kilau indah berwarna emas terlihat muncul dari jari manisnya.
Aku hanya bisa tersenyum.
Seringai manis sudah terukir di bibirku.
Nona kecil Naira yang melihatnya hanya bisa memberikan senyum manis sebagai balasan.
Sejak mengenalnya, aku sudah merasa bahwa Nona kecil Naira memang sangat imut dan menggemaskan.
terlepas dari dirinya yang terkadang bisa jadi sangat menyebalkan.
Bahkan sepupuku yang masih anak-anak itu saja juga terkadang bisa merasa kesal dengan tingkah Nona Naira.
Tapi, entah apa yang sudah terjadi setelah insiden dirinya yang terjatuh dari tangga dan kabarnya tidak sadarkan diri selama tiga hari itu.
Suatu perubahan yang signifikan membuat Nona kecil Naira membari kesan semakin menawan.
"Nona Naira?" panggilku yang kemudian ia tanggapi masih dengan senyum yang terpamer dengan indahnya, "Apakah semalam Anda menemukan sesuatu yang sangat cantik di luar kamar Anda?" tanyaku yang tentu saja membuat gadis manis itu tertegun untuk sesaat.
"Maksud Yang Mulai Pangeran?" tanyanya dengan polos.
Aku pun beranjak dari tempatku untuk menghampiri Nona kecil Naira.
Aku membungkuk di sampingnya lalu dengan lembut kuraih tangan kanannya.
Kudekatkan telapak tangannya yang mungil itu ke wajahku dan perlahan mengecup tanda bersinar emas di jari manisnya.
Tentu saja perbuatanku membuat Nona kecil Naira terkejut dengan wajah yang sudah memerah seperti tomat matang.
Aku terkekeh dalam hati mengumpat betapa imut reaksinya tersebut.
Bibirnya sedikit terbuka, dengan ekspresi yang masih tak berubah.
Aku yakin Nona kecil Naira sebenarnya ingin menyampaikan sesuatu.
Namun, sepertinya seluruh kalimat yang ingin disampaikan menyangkut di tenggorokannya.
"Apa Nona Naira bersedia menemani saya untuk berkeliling taman ini?" tanyaku yang lalu ditanggapinya dengan anggukan pelan.
Beberapa saat kemudian,
Aku dan Nona kecil Naira sudah berjalan meninggalkan Gazebo.
Kami berjalan tak tentu di taman luas tersebut.
Dari kejauhan bisa kulihat bagaimana kedua kakak Naira mengawasi kami dengan pandangan mata yang tajam nan mematikan.
Seolah-olah aku bakalan mampu membawa adik tercinta mereka menghilang bersama.
Di tempat lain yang tak jauh dari tempat kakak-kakak Naira mengawasi kami, bisa kulihat bagaimana Butler dan maid Naira ikut megawasi kami.
Aku tak yakin mengapa.
Tapi, sepertinya mereka tengah terkena demam Naira yang sangat parah.
Aku hanya bisa terkekeh lagi.
Namun, kali ini Nona kecil Naira mendengarnya dengan jelas.
"Yang Mulia Pangeran sepertinya sedang merasa senang?" tanyanya dengan senyum penuh tanya.
Kepalanya yang menengadah untuk memandangku.
Memamerkan mata bulatnya yang berwarna ungu.
Tanpaku sadari, tangan kananku sudah bergerak, seolah ingin membelai wajah secantik malaikat itu.
Namun, sebelum hal itu sempat akan terjadi.
"Yang Mulia Pangeran Reynald."
Butler-ku dan pengawal pribadiku datang mendekat ke arah kami.
Walaupun, sangat disayangkan, aku sedikit bersyukur bahwa kedatangan mereka mengurungkan niatku yang ingin menyentuh Nona Naira.
"Ada apa Draco?" tanyaku padanya yang baru saja meng-interupsi aksiku.
"Yang Mulia, baru saja saya mendapat kabar dari kepala pelayan Archduke kalau Putra Mahkota Pangeran Richardo datang kemari."
Ungkapnya yang membuatku dan Nona kecil Naira tak kalah terkejut.
"Apakah Nona Naira akan memeberi saya kehormatan untuk mengantar anda sampai ke tempat Pangeran Richardo berada?" tanyaku menatap kedua bola mata indahnya.
Dengan kedua pipi yang bersemu merah, gadis manis itu menyambut uluran tanganku.
Tak lama kemudian, kami pun sampai di ruang tamu kediaman Archduke.
Di sana bisa kulihat bagaimana sepupuku itu tengah duduk dengan angkuhnya.
Wajahnya yang masam masih tak mampu menyembunyikan ketampanannya.
Well, harus kuakui hal itu memang tidak bisa dipungkiri.
Aku pun berjalan menuntuk Nona kecil Naira ke sofa di seberang Pangeran Richardo, dengan sengaja aku pun ikut duduk bersama Nona kecil Naira di sebelahnya.
Bisa kulihat bagaimana terkejutnya ekspresi Ricky.
Sekali lagi, sepertinya kami ditinggakan bertiga kali ini dengan sang pangeran.
"Aku tidak tau kalau Paman ada rencana ke kediaman Archduke Van Vellzhein hari ini."
Katanya sedikit terdengar annoyed.
"Well, apakah aku juga harus memberi tau keponakanku mengenai rencanaku hari ini, selain mengirimkan pemberitahuan kepada Archduke?" tanyaku Ricky dengan sedikit sinis.
"Lalu, bagaimana denganmu Ricky? Bukankah kau setuju untuk membatalkan rencana pertunangan kalian?"
"Apa kau ingin menarik kata-katamu itu. Makanya kau sampai datang dengan pemberitahuan mendadak kemari?"
Sambungku dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.
Ricky hanya menatapku dengan kedua alis bertaut.
Sedangkan Nona kecil Naira yang sedari tadi hanya diam mendengarkan, menatap kami berdua secara bergantian, seolah masih tak mengerti apa yang tengah kami perbincangkan.
NARATOR
Baca terus kelanjutan perjalanan Naira si Innocent Villain di episode berikutnya, ya!! Kali ini dengan masalah pertunangannya dan penyamarannya. Apakah semua akan berjalan sesuai dengan perkiraan Naira?
Kalau penasaran jangan lewatkan kisah Naira.